Perbedaan Muktazilah dan Asyariyah Terkait Sifat Allah (Bagian XI)

 

Matan HPT

اَمَّا بَعْدُ فَاِنَّ الفِرْقَةَ النَّاجِيَةَ (1 (مِنَ السَّلَفِ اَجْمَعُوا عَلَى الإِعْتِقَادِ بِأَنَّ العَالَمَ كلَّهُ حَادِثٌ خَلَقَهُ االلهُ مِنَ العَدَمِ وَهُوَ اَىِ العَالَمُ) قَابِلٌ لِلفَنَاءِ (2 (وَعَلَى اّنَّ النَّظْرَ فِى الكَوْنِ لِمَعْرِفَةِ االلهِ وَاجِبٌ شَرْعًا (3 (وَهَا نَحْنُ نَشْرَعُ فِى بَيَانِ اُصُولِ العَقَائِدِ الصَّحِيْحَةِ.

Kemudian dari pada itu, maka kalangan ummat yang terdahulu, yakni mereka yang terjamin keselamatannya (1), mereka telah sependapat atas keyakinan bahwa seluruh ‘alam seluruhnya mengalami masa permulaan, dijadikan oleh Allah dari ketidak-adaan dan mempunyai sifat akan punah (2). Mereka berpendapat bahwa memperdalam pengetahuan tentang ‘alam untuk mendapat pengertian tentang Allah, adalah wajib menurut ajaran Agama (3). Dan demikianlah maka kita hendak mulai menerangkan pokok-pokok kepercayaan yang benar.

 

Syarah:

Kata Kunci:  الفِرْقَةَ النَّاجِيَةَ (Kelompok yang selamat)

Terkait dengan sifat Allah, ada perbedaan Muktazilah dan Asyariyah. Bagi muktazilah, sifat Allah dan dzat Allah adalah satu dan tidak bisa dipisah-pisah. Jika kita memisahkan anatara sifat Allah dengan dzat Allah, bagi mereka, pemikiran ini sama artinya dengan menyatakan bahwa Allah berbilang.

Muktazilah biasa menggunakan argument atom, yaitu bahwa atom (jauhar) mempunya sifat (al-aradh). Antara jauhar dengan arad adalah satu kesatuan dan tidak terpisahkan. Seperti halnya antara kayu dengan warnanya dan bentuk kayu. Satu sama lain saling terkait dan menyatu. Jika tidak ada warna dan bentuk, abstraksi tentang kayu menjadi sirna. Jika kita menganggap bahwa antara esensi kayu dengan warda dan bentuk itu suatu yang terpisah, sama artinya kita menganggap ada banyak esensi dari kayu, yaitu kayu, bentuk, warna, bau, dan lain sebgainya. Keterpisahan unsur-unsur di atas menjadikannya banyak unsur, bukan kayu lagi.

Dalam menolak argument Muktazilah, Asyariyah juga menggunakan argument atom. Menurut kalangan Asyariyah bahwa atom dengan sifat atom adalah dua hal yang berbeda. Atom adalah esensi, yang wujudnya tidak bergantung pada sesuatu. Beda dengansifat atom, yang wujudnya sangat bergantung kepada atom. Tidak akan pernahada sifat atom, manakala tidak ada atom.

Sama halnya dengan sifat Allah. Bagi kalangan Asyariyah bahwa antara sifat dengan dzat merupakan dua hal yang berbeda. Sifat itu qaimun bidzatihi. Oleh karena itu, Asyariyah memberikan definisi sifat sebagai berikut:

هي ما دل علي معنى وجودي قائم بالذات

Sesuatu yang menunjukkan pada makna wujudi, yang melekat pada dzat.

Maksudnya qaimun bi dzat adalah bahsa sifat-sifat tersebut melekat pada dzat. Melekat bukan bearti satu kesatuanm namun mengikuti dzat. Keberadaannya bergantung kepada dzat.

Allah Maha Mengetahui (alim). Sifat alim menunjukkan mengenai Allah dan ilmu Allah. Keberadaanilmu tersebut, melekat pada Allah dan ia menjadi sifat Allah. Ia bukan Allah itu sendiri.

Sama halnya dengan sifat qidam yang melekat pada Allah. Keberadaan qidam bergantung kepada keberadaan Allah namun ia bukanlah Allah itu sendiri. ia sekadar sifat dan bukan dzat.

Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan pesantren Almuflihun yang diasuh oleh ust. Wahyudi Sarju Abdurrahmim, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899