Peran Pendidikan Keluarga di Masa Covid-19

R E F L E K S I

Oleh Samsul, M. Pd. (Wadir Personalia dan Pengembangan SDM Ponpes Almatera Temanggung)

Jika situasi semakin kondusif, pememerintah berencana membuka kembali sekolah pada bulan Juli mendatang. Hal ini menandai berakhirnya masa pembelajaran daring. Sebuah pembelajaran jarak jauh yang ‘terpaksa’ dilaksanakan sebagai dampak dari pandemi Covid-19.
Terkait dengan pembelajaran ini, ada peran mendasar guru yang terabaikan yakni guru sebagai seorang pendidik. Sebagai pendidik guru bertugas membentuk karakter peserta didik. Membimbing siswa menjadi baik ahlaknya, sopan dan baik perangainya. Ketelad├ánan guru dalam proses enteraksi pembelajaran juga termasuk bagian tak terpisahkan dari peran guru sebagai pendidik. Dengan demikian kahadiran guru di depan kelas dalam Proses Belajar Mengajar ( PBM) mutlak adanya. Seiring dengan perkembangan teknologi, pembelajaran jarak jauh dapat memanfaatkan kecanggihan teknologi telekomunikaai seperti WA, Zoom, Google Form dan semisalnya. Namun demikian teknologi ini membatasi komunikasi jiwa yang mestinya hadir dalam tatap muka PBM. Jika komunikasi jiwa terabaikan maka ruh pembelajaran menjadi hilang. Di sinilah makna peran guru sebagai pendidik tak dapat tergantikan oleh teknologi secanggih robot sekalipun. Peran guru semakin terasa pada saat proses pembimbingan, nasihat dan pengawalan perkembangan psikologi siswa. Peran ini membutuhkan sentuhan jiwa sepenuhnya. Dalam konteks pembelajaran daring karena pandemi Covid-19, untuk sementara peran itu ‘dialihkan’ kepada orang tua masing-masing siswa, artinya pembentukan perilaku diserahterimakan pada pihak keluarga. Penyerahan kembali- meski kurang lebih hanya dua bulan- kepada orang tua dalam kondisi anak belum tamat memungkinkan lahirnya sejumlah risiko. Pasalnya mereka merupakan usia rentan terhadap pengaruh lingkungan yang bisa tidak sejalan dengan dunia pendidikan pada umumnya. Lebih- lebih dengan pesantren yang memilki komitmen tinggi dalam pembentukan perikaku peserta didik. Pengaruh lingkungan dapat menggrogoti ketahanan keluarga. Banyak keluarga saat ini mulai bermasalah lantaran anak sulit diatur. Peran keluarga sebagai madrasatul ula saat ini sedang dihadapkan dengan sutuasi sulit yang dapat meng├áncam keharmonisan anggota keluarga. Beruntung bila mendapati keluarga yang kokoh memegang kultur relegius dan sekolah atau pesantren yang memiliki disiplin kuat dalam pendidikan ahlak. Mereka masih cukup aman. Namun, jika dua faktor ini tidak dimiliki maka jangan heran kalau sekembalinya anak ke bangku sekolah, kita akan mendapati mereka memiliki wajah dan perilaku yang ‘lain’. Kondisi ini menurut hemat penulis merupakan masa yang kelam dalam dunia pendidikan. Oleh karena itu, bersiap-siaplah dengan segala strategi untuk mengembalikan ‘duta zaman’ kepada fitrah ketauhidan.