Peran dan Fungsi Wanita


Sebagai Pendidik, LC.

Mushaffa Zakir

Adalah seorang ibu, namanya Zahra. Dia hanyalah seorang wanita dengan profesi ibu rumah tangga. Mengurusi rumah tangga adalah kewajiban dan tugas yang ia perankan setiap hari.
Kalau dirunut dari awal, semenjak sebelum shubuh, ibu Zahra sudah memulai aktivitas-nya dengan melaksanak ritual malam (qiyâm) bersama sang suami. Ketika azan shubuh, anaknya yang sudah berumur tujuh tahun pun bangun dan minta agar sang bapak mengajaknya ke mesjid. Si ibu pun harus menyiapkan pakain ke mesjid si anak.
Setelah shalat shubuh dan membaca adzkâr shabâh, maka tugas selanjutnya adalah menyiapkan sarapan pagi keluarga. Dalam waktu yang bersamaan, ia juga harus membantu persiapan sekolah sang anak, bahkan mungkin juga membantu persiapan kerja sang suami.
Suami dan anak pun berlalu dari hadapan. Keduanya mulai memerankan peran masing-masing; sang suami mencari nafkah dan anak menuntut ilmu di sekolah.
Tugas ibu Zahra selanjutnya, silahkan dibayangkan. Mulai dari mencuci pakaian anggota keluarga, membersihkan rumah, belanja dan seterusnya.
Sebagian orang mungkin akan menvisual-kan ibu Zahara sebagai ibu rumah tangga yang akrab dengan pekerjaan-pekerjaan rumah dan peran serta kewajibannya sebagai pendidik, yang mungkin oleh sebagian orang dianggap pekerjaan-pekerjaan yang monoton yang berujung pada kebosanan. Pertanyaannya, apakah memang demikian peran dan tugas wanita (ibu)?
Sebagaimana yang penulis pahami, Islam tidak pernah memposisikan wanita pada posisi kedua di bawah laki-laki. Keduanya adalah makhluk sejajar yang haknya diberikan dengan wajar, sesuai dengan kodratnya sebaaagai makhluk yang berbeda dan untuk saling melengkapi.
Dalam al-Qur’an, kesamaan derajat pada sektor agama dapat dilihat dalam al-Qur’an surat Âli ‘Imrân: 195, al-Taubah: 71-72 dan al-Nahl: 97; dan kesederajatan sipil dapat dilihat dalam surah al-Nisâ: 32, al-Nûr: 2, al-Mumtahinah: 12
Perbedaan peran, menurut Ismail Raji al-Faruqi, sama sekali bukanlah diskriminasi atau segregasi. Kedua peran tersebut sama-sama tunduk di bawah norma-norma agama dan etika; dan keduanya membutuhkan kecerda-san, bakat, energi dan usaha yang sungguh-sungguh dari kedua jenis kelamin. Begitu pula perbedaan peranan. Ini sama sekali tidak menyinggung bidang aktivitas, dimana laki-laki dan perempuan saling melengkapi. Ataupun bidang-bidang lainnya dimana kesalinglengkapan tidak diperlukan. Jika memang dibutuhkan, atau keadaan memaksa, aktivitas laki-laki dan perempuan boleh menyimpang ke kawasan lawan, tanpa disertai prasangka terhadap perbedaan peran yang telah ditetapkan Tuhan di alam ini. Jika tidak demikian, maka tidak mungkin al-Qur’an memberikan hak-hak sipil kepada wanita sepenuhnya.

Peran dan Fungsi Wanita Sebagai Pendidik

Membicarakan peran dan fungsi wanita sebagai pendidik sebenarnya tidak bisa dilepaskan membicarakannya sebagai ibu. Di samping itu, tugas mendidik anak juga bukan tanggung jawab yang hanya dipikulkan kepada ibu, tapi juga bapak. Dalam hadits disebutkan:

كل مولود يولد على على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصرانه أويمجسانه (رواه البخارى)

“Setiap anak dilahirkan berdasarkan fitrah. Lalu kedua orang tuanyalah yang membuatnya memeluk agama Yahudi, Nasrani atau Majusi” (HR. Al-Bukhârî)

Namun ketika kita melihat porsi interaksi dengan anak, maka mau tidak mau wanita (ibu) terposisikan sebagai orang yang lebih dominan dalam berperan sebagai pendidik. Jika demikian, maka ibu adalah pros kehidupan rumah tangga yang merupakan partikel kecil dari sebuah masyarakat atau negara, terlepas apakah ia hanya berperan sebagai ibu rumah tangga ataupun punya aktivitas di luar rumah.
Tanggung jawab ini sebenarnya bukanlah tanggung jawab yang mudah, melainkan tanggung jawab beraaat yang akan dipertanggungjawabkan, mengingat proses pendidikan adalah proses yang melalahkan. Bahkan seringkali harus ada orang kedua yang membantu ataupun melanjutkannya.
Meskipun mendidik bersifat temporal, namun berkesinambungan, membutuhkan profesionalitas (itqân), kondisi kejiwaan yang stabil (al-istiqrâr al-nafsî) serta membutuhkan sarana dan prasarana yang memadai. Tak urung, anak seeringkali menjadi korban salah didik, atau dengan bahsa lain, korban kurang perhatian pendidik (orangtua). Maka daaari itu al-Qur’an memperingatkan:

وَلَتُسْأَلُنَّ عَمَّا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al-Nahl:93)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neeraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” ( QS. Al-Tahrîm:6)

Dalam buku Tarbiyat al-Awlâd, Abdullah Nashih Ulwan menyebutkan bahwa ada tujuh peran pembinaan (mas’ûliyyat al-tarbiyah) yang harus dilakoni oleh pendidik dalam penerapan pendidikan terhadap anak:

  1. Peran pendidikan keimanan (Mas’uliyyat al-tarbiyah al-îmâniyyah);
  2. Peran pendidikan akhlak (Mas’uliyyat al-tarbiyah al-khulûqiyyah);
  3. Peran pendidikan jasmani (Mas’uliyyat al-tarbiyah al-jismiyyah);
  4. Peran pendidikan intelektual (Mas’uliyyat al-tarbiyah al-‘aqliyyah);
  5. Peran pendidikan psikologis dan kepribadian (Mas’uliyyat al-tarbiyah al-nafsiyyah);
  6. Peran pendidikan bersosial dan bermasyarakat (Mas’uliyyat al-tarbiyah al-ijtimâ’iyyah);
  7. Peran pendidikan seksual (Mas’uliyyat al-tarbiyah al-jinsiyyah).
    Di antara ketujuh peranan di atas, minimal ada tiga sektor pendidikan yang melibatkan ibu sebagai actor utama sebagai pendidik: (1) Pendidikan keimanan, termasuk di dalamnya pendidikan beribadah; (2) pendidikan akhlak; (3) pendidikan kepribadian dan kejiwaan

I. Pendidikan Keimanan
Yang dimaksud dengan pendidikan iman adalah: Menanamkan pondasi keimanan semenjak anak mulai mampu untuk berpikir; membiasakannya untuk mengerjakan rukun-rukun Islam, semenjak ia mulai mempu mengerjakannya; mengajarakan mabâdi’ al-syarî’ah semenjak anak mulai baligh.
Bentuk konkrit dari pendidikan keimanan ini mencakup:

A. Penanaman Pondasi Keimanan
Hal ini bisa dilakukan dengan mengajarkan ajaran-ajaran keimanan kepada anak; memper-kenalkan siapa yang menciptakan dirinya dan alam semeseta beserta seisinya, mengenalkan tanda-tanda kekuasaan Allah, mengenalkan rasul-rasul yang harus diimani, sehingga tumbuh dalam sanubari anak pondasi iman, dan anak terstruktur menjadi sosok yang mampu mencintai Allah dan Rasul-Nya sebelum ia harus mencintai orang lain, bahkan orang tuanya sendiri.
B. Mengajarakan tentang halal dan haram
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Nu’mân RA:

عن النعمان بن بشير يقول سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول الحلال بين والحرام بين وبينهما مشبهات لا يعلمها كثير من الناس (رواه البخارى)
Dari al-Nu’man berkata, aku telah mendengar Rasulullah Saw. bersabda:”Yang halal itu sudah jelas, dan yang haram pun juga sudah jelas. Adapun sesuatu yang (tidak jelas) antara halal atau haram adalah perkara syubhat. Tidak banyak di antara manusia yang mengetahuinya.” (HR. Al-Bukhârî)

C. Membiasakan anak untuk mengerjakan berbagai macam ibadah semenjak umur tujuh tahun. Seperti, shalat, puasa dan yang lainnya.
a. Shalat
Rasululullah Saw. memerintahkan para orang tua agar mempertegas sikap dalam menyuruh anak untuk mengerjakan shalat. Sabda Beliau:

مروا أولادكم بالصلاة وهم أبناء سبع سنين واضربوهم عليها وهم أبناء عشر وفرقوا بينهم في المضاجع (رواه أبو داود)

“Serulah anak-anak kalian mengerjakan shalat ketika mereka berumur tujuh tahun. Dan pukullah (jika mereka tidak melaksanakannya) ketika mereka telah mencapai usia sepuluh tahun, dan pisahkanlah tenpat tidur mereka.” (HR. Abû Dâud)
b. Puasa
Melatih anak berpuasa harus melihat pada kondisi anak. Jika anak memungkinkan untuk disuruh puasa, baik dilihat dari kesehatan ataupun kadar kemampuannya, maka sepantasnyalah anak diwajibkan oleh orangtuanya untuk berpuasa.
Akram Ridha dalam bukunya “Buyûtunâ fî Ramadhân” menyebutkan, ketika puasa ramdhan, ada kemungkinan seseorang lupa bahwa dia sedang berpuasa. Hal tersebut dikarenakan ketidaksiapannya dalam menghadapi puasa, dengan melatih diri dengan puasa-puasa sunat sebelum ramadhan.
c. Mengajarkan al-Qur’an, Sunnah serta sirah Rasulullah Saw.
Mengajarkan al-Qur’an merupakan suatu hal yang sangat fundamen dalam pendidikan. Anak yang tidak pernah diajarkan al-Qur’an, –mulai dari membaca sampai dipahamkan kandungan-kandu-ngannya sesuai dengan usia, psikologi dan kemampuan anak untuk memahami— maka akan mustahil bagi anak untuk memahami syumûliyyah (integralitas) serta universalitas ajaran agama Islam, mengingat al-Qur’an adalah sumber dan pedoman utama kehidupan. Dalam al-Qur’an disebutkan:

ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ

“Kitab (al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa” (QS. Al-Baqarah:2)
Demikian pula al-Sunnah. Al-Qur’an dan al-Sunnah adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Karena selain al-Qur’an, al-Sunnah juga merupakan pedoman kehidupan bagi setiap muslim.
Adapun penjabaran dari al-Qur’an dan al-Sunnah itu, biasanya tercermin dalam prilaku Rasulullah Saw. maka dari itu, mengajarkan anak sirah Rasulullah juga dianggap suatu hal yang urgen. Bahkan, para sahabat telah mengajarkan sirah kepada anak-anak mereka sebagaimana mereka mengajarkan al-Qur’an terhadap mereka.

كنا نعلم أولادنا مغازى رسول الله صلى الله عليه وسلم كما نعلمهم السور من القرآن

“Kami (para sahabat) mengajarakan magâzî (sirah) Rasulullah sepertikami mengajarkan surat dari al-Qur’an”
Ibnu Khaldun dalam muqaddimahnya juga mensinyalir urgensitas pengajaran al-Qur’an, bahkan menyuruhnya untuk menghafal. Beliau menjelaskan lebih lanjut, bahwa mengajarkan al-Qur’an merupakan pondasi seluruh metodologi pendidikan sekolah yang harus ada di setiap negara-negara Islam, karena al-Qur’an adalah salah satu syiar yang mampu menopang akidah serta soliditas keimanan.

II. Pendidikan Akhlak

Tahapan selanjutnya dalam proses pendidikan anak adalah pembinaan moral. Hal yang perlu diingat, akhlak yang baik dalam perilaku dan perangai anak merupakan buah dari penanaman iman. Tatkala anak sudah diarahkan untuk mencintai Allah dan Rasul-Nya, serta merasa bahwa selalu ada yang mengawasi gerak-geriknya, maka anak akan siap untuk menerima dan merespon hal-hal positif yang sesuai fitrahnya. Sebaliknya, jika jiwa anak tidak tertanamkan pondasi keimanan yang kuat, maka anak akan cenderung sulit untuk diarahkan kepada kebaikan.
Dalam pembinaan moral, ada beberapa hal perilaku buruk yang sering terjadi pada anak:
A. Berbohong
B. Mencuri
C. Mencela orang lain
D. Bertingkah laku tidak sesuai kodratnya

A. Berbohong
Perilaku ini merupakan tingkah laku yang sangat jelek. Dengan berbohong, pada hakekatnya seseorang membuka peluang bagi dirinya untuk melakukan perilaku-perilaku buruk selanjutnya. Seorang anak yang berbohong, untuk menutupi kebohongan yang pertama, maka ia akan berbohong. Dan begitu seterusnya. Rasulullah Saw. bersabda:

إياكم والكذب فإن الكذب يهدى إلى الفجور وإن الفجور يهدى إلى النار (رواه مسلم)

“Jauhilah olehmu dusta. Karena dusta akan berbuntut pada kejahatan, dan kejahatan itu akan menggiring ke neraka” (HR. Muslim)

Untuk membiasakan anak bertingkah laku dan berkata jujur, maka pendidik harus menjadi suri tauladan sebagai sosok yang jujur dihadapan anak didik. Seorang ibu tidak harus membohongi anak hanya untuk mem-buat anak berhenti menangis ataupun hanya sekedar memotivasinya untuk melakukan sesuatu. Pendidik demikian sebenarnya, secara tidak sadar, mengajarkan kebohongan kepada anak. Dan hal tersebut akan berimbas pada ketidakpercayaannya pada ibu/pendidik. Dalam sebuah hadits di sebutkan:

عن عبد الله بن عامر رضى الله عنه قال: دعتنى أمى يوما، ورسول الله صلى الله عليه وسلم قاعد فى بيتنا، فقالت: ها تعال أعطك، فقال لها رسول الله صلى الله عليه وسلم: ما أردت أن تعطيه؟ قالت أردت أن أعطيه تمرا، فقال لها الرسول صلى الله عليه وسلم (رواه أبو داود والبيهقى)

Dari Abdullah bin Amir Ra. berkata: “Ketika Rasulullah Saw. Berada dirumah kami, ibuku memanggil: ‘kesinilah, aku akan memberimu sesuatu’. Rasulullah pun berkata (kepada ibu Abdullah bin Amir): ‘Apa yang akan engkau berikan padanya?’. Ibu Abdullah menjawab. ‘Aku akan memberikan kurma ini padanya’. Rasulullah kemudian berkata: ‘Jika engkau tidak memberikan buah itu padanya, maka engkau termasuk orang yang berbohong’. (HR. Abû Dâud dan al-Baihaqî)

B. Mencuri
Perilaku ini pada dasarnya merupakan dampak pendidikan keimanan yang dangkal, sebagaimana yang telah disebutkan di atas. Anak yang terbina imannya akan mudah untuk tidak amanah, yang pada akhirnya anak hanya akan menyusahkan orang tua dan keluarga dan menjadi sampah masyarakat. Na’ûdzubillâh.
Menurut Hayâ binti Mubârak, tindakan ini disebabkan oleh beberapa faktor:

  1. Tidak menempuh cara yang bijaksana dalam memenuhi keinginan anak
    Dalam tabiatnya, seorang anak cenderung ingin mendapatkan apa yang ada di tangan orang lain, entah itu permen, mainan atau yang lainnya. Seketika itu pula, seorang anak akan meminta orang tuanya untuk memenuhi apa yang dikehendakinya. Dalam hal ini ada orang tua yang yakin bahwa jika keinginan anak dipenuhi, maka anak akan bisa menahan dirinya untuk tidak mengambil apa yang ada pada orang lain. Di sisi lain, ada orang tua yang mempunyai keyakinan yang berlawanan, sehingga sama sekali tidak mau memenuhi keinginan anak. Karena menurutnya, dengan demikian anak akan melatih anak untuk mampu menahan diri untuk tidak mengambil apa yang ada pada orang lain.
    Dampak negatif dari sikap pertama, anak akan tumbuh menjadi orang yang tamak, boros, ingin menang sendiri dan selalu berusaha mendapatkan apa yang ada pada orang lain dengan cara apapun. Karena apa yang diinginankan anak sudah terbiasa untuk dipenuhi.
    Adapun dampak dari sikap kedua, anak sering tidak mendapatkan apa yang diinginkannya.
    Adapun dampak dari dari sikap kedua, anak sering tidak mendapatkan apa yang diinginkannya, baik itu merupakan kebutuhannya, ataupun yang ada di tangan orang lain. Seperti alat-alat sekolah, mainan, makanan, ataupun yang lainnya. Hal ini juga akan mendorong anak untuk mencuri.
  2. Tidak adanya pengawasan dari keluarga
    Terkadang, tanpa sepengetahuan orang tua, anak membawa barang baru ke rumahnya dan mengatakan bahwa barang tersebut adalah barang temuan ataupun pemberian temannya. Ibu (orang tua) terkadang mempercayai apa yang dikatakan anak, tanpa menceknya terlebih dahulu. Jika ternyata anak berdusta dan orang tua tidak memberikan perhatian khusus dengan perilaku ganjil tersebut, maka anak akan merasa terlepas dari pengawasan orang tua. Hal ini akan mengakibatkan anak akan lebih berani melakukan hal yang buruk yang kemudian akan menjadi kebiasaannya.
  3. Pergaulan yang tidak baik
    Rasulullah Saw. bersabda:

مثل الجليس الصالح و الجليس السوء كمثل حامل المسك ونافخ الكير, فحامل المسك إما أنيحذيك أو تشترى منه أو تجد منه ريحا طيبا, ونافخ الكير إما أن يحرق ثيابك أو تجد منه ريحا منتنة (رواه البخارى و مسلم)

“Perumpamaan teman yang baik dan yang buruk laksana pembawa misk (salah satu jenis minyak wangi) dan tukang besi. Dari pembawa misk, bisa jadi engkau akan diberinya, atau engkau membeli minyak wanginya, ataupun dapat mencium bau harum darinya. Sedangkan tukang besi, boleh jadi dia menyebabkan bajumu terbakar, atau paling tidak mencium bau yang tidak sedap” (HR. Al-Bukhârî dan Muslim)

C. Mencela orang lain
Adakalanya anak, ketika dia sudah mulai bisa berbicara, bahkan ketika dewasa sekalipun, mengeluarkan kata-kata yang tidak sopan bahkan mencela orang lain. Minimal, ada dua faktor yang menyebabkan hal demikian:

  1. Contoh yang buruk
    Ketika seorang anak mendengar perkataan yang tidak sopan ataupun umpatan dari orang tua, maka perkataan tersebut akan cepat terekam dalam benaknya, sehingga ia akan mudah sekali menirukan perkataan tersebut, yang pada kahirnya lidah anak akan terbiasa mengeluarkan perkatan yang tidak sopan, kotor ataupun mengumpat.
  2. Pergaulan yang tidak baik
    Orang tua yang membiarkan anaknya bermain dan bergaul dengan teman yang nakal, maka anak akan menyerap tingkah laku yang jelek serta bahasa-bahasa yang kurang baik dari temannya tersebut. Hal ini akan berdampak pada ketidakluhuran akhlak anak.
    Sebagai solusi, maka orang tua dan para pendidik harus memberikan suri tauladan yang baik kepada anak dalam berucap, berbicara, dengan selalu berkata baik di hadapan anak, selain menghindarkan anak dari pergaulan yang tidak baik.

D. Bertingkah laku tidak sesuai kodratnya
Yang dimaksud dalam hal ini adalah, tingkah laku yang tidak sesuai dengan kodrat anak sebagai laki-laki ataupun perempuan, atau segala sikap yang tidak berpendirian serta cenderung meniru perilaku orang lain meskipun tidak Islami. Sehingga anak tidak memiliki identitas keislaman, atau bahkan tidak bangga dengan apa yang diajarkan oleh Islam. Perilaku ini sering muncul pada masa pubertas sampai masuk usia dewasa, dimana pada masa-masa itu biasanya seorang anak akan mencari figur dalam bergaya dan pola hidup.
Mungkin kita pernah menemukan seorang anak laki-laki yang lembek dalam bertingkah laku, tutur katanya mengalun-alun, atau berjalan dengan lunglai. Ada juga yang sebaliknya, anak permempuan meniru-niru tingkah laku dan kepribadian laki-laki.
Dalam hal ini Rasulullah Saw. seringkali menghimbau agar anak dididik dengan prinsip-prinsip (mabâdi’) yang benar, sesuai dengan fitrah dan kodrat manusia, serta selaras dengan ajaran Islam.
Hal-hal yang harus diperhatikan adalah:

  1. Tidak meniru (tasyabbuh) ataupun taklid buta. Rasulullah Saw. bersabda:

ليس منا من تشبه بغيرنا, لا تشبهوا باليهود ولا بالنصارى (رواه الترمذى)
“Bukanlah dari golongan kita siapayang meniru kebiasaan (agama) lain. Janganlah engkau meniru-niru orang Yahudi ataupun Nasrani” (HR. Al-Tirmidzî)

Meskipun demikian, patut dibedakan antara yang boleh dan yang tdiak. Jika hal tersebut baik, maka tidak ada salahnya hal tersebut diadopsi, seperti ilmu dan lainnya. Namun jika bertolak belakang dengan ajaran agama, maka kewajiban seorang muslim dalam mempertahankan identitas keisalaman (‘izzah)nya.

  1. Tidak larut dalam kehidupan yang glamor
    Anak yang tumbuh dalam keluarga dengan gaya hidup yang glamor dan berlebihan akan berdampak pada kelalaian dan ketidakpeka-annya terhadap kondisi sosial masyarakat. Dan hal tersebut akan berdampak pada kesenjangan sosial.
  2. Mencegah anak untuk mendengarkan musik dan lagu yang mengundang nafsu. Termasuk dalam hal ini tayang televisi yang tidak mendidik.
    Ibnu Mas’ûd, Ibnu ‘Abbâs dan Ibnu ‘Umar berpendapat bahwa lahw al-hadîts yang termaktub dalam surat Luqmân:6 adalah lagu. Bahkan Ibnu Mas’ûd bersumpah: “Demi Allah, yang dimaksud dengan lahw al-hadîts adalah lagu”
    Dr. Yûsuf al-Qaradhâwî dalam Fiqh al-Ghinâ wa al-Mûsîqâ menggariskan batasan-batasan (dhawâbith) lagu yang diperbolehkan:
    a. Liriknya tidak menyalahi syari’at;
    b. Melantunkannya tidak membuat orang yang mendengar lalau atau bahkan mengundang untuk berbuat kejahatan;
    c. Tidak disertai dengan hal yang diharamkan, seperti tarian-tarian dan lain sebagainya;
    d. Tidak berlebih-lebihan. Meskipun status lagu berubah menjadi mubah setelah ada perubahan aturan main, namun bukan berarti harus berlebih-lebihan. Dalam al-Qur’an Allah Swt. berfirman:

يَا بَنِي آدَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وكُلُواْ وَاشْرَبُواْ وَلاَ تُسْرِفُواْ إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlahdan janganlah kami berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (QS. Al-A’râf:31);
e. Lagu tersebut tidak mengarahkan pendengarnya pada kecendrungan yang negatif.
Realita yang kita lihat, stasiun-stasiun televisi ataupun media-media intertai-ment sekarang ini tidak lagi mengin-dahkan nilai-nilai moral dalam menam-pilkan tayangan-tayangannya. Riskan-nya, masyarakat seringkali ‘sakit’. Keresahan-keresahan yang muncul dari hati nurani mulai tidak terdengungkan. Bahkan sebaliknya, dukungan terhadap hal yang demikian, yang dulu sangat tabu, kini mulai ramai. Dampaknya pada pendidikan tentu saja negatif. Sarana-sarana yang seharusnya menjadi penunjak pendidikan tersebut berubah menjadi sarana perusak moralalitas anak bangsa.

  1. Mencegah anak dari perilaku yang menyerupai lawan jenisnya. Dalam sebuah hadits disebutkan:

لعن الله المخنثبن من النساء والمترجلات من النساء (رواه البخارى و أبو داود والترمذى)

“Allah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki” (HR. al-Bukhârî, Abû Dâud dan al-Tirmidzî)

  1. Mewajibkan anak untuk menutup aurat, menjaga pandangan serta mencegahnya untuk tidak bersolek yang berlebih-lebihan (tabarruj).

III. Pendidikan Kepribadian dan Kejiwaan
Yang dimaksud dengan pendidikan kepribadian dan kejiwaan anak di sini adalah mendidik anak untuk berani, jujur, menanamkan rasa bahwa dirinya sebagai manusia adalah ciptaan yang sempurna, cinta untuk berbuat baik terhadap orang lain, mampu menahan marah, serta berkperibadian dan berakhlak mulia.
Dalam hal ini, menurut Abdullah Nashih Ulwan, ada beberapa gejala kejiwaan yang mesti diperhatikan oleh seorang pendidik:

  1. Minder
  2. Takut
  3. Rendah diri
  4. Dengki
  5. Marah

a. Minder
Dalam pertumbuhan anak, sifat minder biasanyamulai muncul ketika anak berumur empat bulan. Setelah umurnya genap atau satu tahun, gejala tersebut biasanya nampak semakin jelas. Dan ketika anak berumur tiga tahun dan ia berada di suatu tempat yang baru atau asing baginya, ia pun tidak akan bergeming dan selalu ingin berada di samping ibunya, karena si anak minder dengan lingkungannya. Jika hal tersebut tidak ditanggulangin, maka pertumbuhan anak pun akan terus demikian, bahkan ketika ia tumbuh dewasa.
Solusinya, seorang pendidik harus membiasakan anak bertemu dan berkumpul dengan orang lain, baik dengan menghadirkan teman-temannya, mengajaknya bersilaturahmi ke sanak famili atau teman, ataupun mendorongnya untuk berkomunikasi dengan orang lain, baik sesamanya ataupun orang yang lebih besar darinya.
b. Takut
Di antara faktor yang menyebabkan anak menjadi sosok yang penakut adalah:

  1. Anak sering ditakut-takuti dengan hantu, suasana gelap ataupun makhluk-makhluk aneh;
  2. faktor pendidik yang berlebihan mengkhawatirkan keselamatan anak;
  3. anak sering mendapat cerita-cerita fiktif yang berbau mistik.
    Untuk mengatasi gejal takut ini, maka seorang pendidik harus:
  4. Membangun pondasi keimanan kepada Allah serta mengajarkan anak untuk selalu bergantung kepada Allah;
  5. memberikan kebebasan kepada anak untuk berbuat, memikul tanggung jawab serta mandiri dalam mengerjakan sesuatu sesuai dengan kemampuan dan pertumbuhannya;
  6. tidak menakut-nakuti anak
  7. memberdayakan anak untuk bergaul dan memberinya kesempatan untuk bertemu dan mengenal orang lain;
  8. mengajarkan pada anak sirah Rasul Saw, sifat-sifat heroik para sahabat dan salaf, serta memicu mereka untuk mem-punyai sifat patriot, berani, dan cinta jihad untuk menegakkan panji Islam.

c. Rendah Diri
Banyak faktor yang menyebabkan anak merasa dirinya rendah. Di antaranya, faktor sosial ekonomi, kondisi anak, kemampuan anak, faktor teman dan orang sekitar, serta faktor lainnya.
Seorang anak yang orang tuanya miskin, ktika melihat orang lain lebih berada atau lebih bergaya, ada kemungkinan muncul dalam dirinya rasa rendah diri. Atau ketika anak mempunyai cacat fisik dan ia tidak mampu mempotensikan kelebihan yang ia miliki, juga sangat rentan untuk merasa lebih rendah dari orang lain, lebih-lebih jika teman atau orang di sekitarnya sering mengejek. Hal ini juga bisa terjadi dalam lingkuangan keluarga, dimana orang tua anak lah yang malah merendahkan anaknya dengan kalimat-kalimat yang biasanya terucap ketika marah. Seperti, “Dasar anak tak tahu diri!”, atau kalimat lainnya.
Terapi paling jitu tentu dengan terus menjaga kemapanan pemahaman iman pada diri anak. Setiap apa yang dialami merupakan takdir Ilahi yang harus diterima dengan lapang dada. Selain itu, orang tua (pendidik) juga harus mencerminkan kepribadian yang baik.
Ketika anak berbuat salah, mengumpatnya bukanlah suatu sikap yang benar. Anak boleh dimarahi, namun orang tua tidak boleh lepas kontrol, sehingga keluar kata-kata mengumpat

d. Dengki
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, dengki diartika menaruh rasa marah (benci, tidak suka) karena iri yang amat sangat kepada keberuntungan orang lain. Dalam sudut pandang lain, dengki juga bisa diartikan sebagai keinginan agar orang lain kehilangan nikmat yang telah dikaruniakan kepadanya.
Sifat ini seringkali dalam kehidupan bermasyarakat ataupun kehidupan keluarga. Dan terkadang sulit untuk diobati, mengingat dengki merupakan suatu penyakit hati, apalagi kalau sudah akut.
Ketika muncul kedengkian dalam diri seorang anak, terkadang ibu/pendidik tidak mengetahuinya. Baru setelah sifat ini tersimpan lama dalam diri anak, yang kemudian disadari atau tidak oleh anak, tingkah lakunya merupakan pancaran dari gejala dengki tersebut.
Dalam kehidupan keluarga, sifat ini seringkali muncul karena ketidak arifan orang tua dalam membagi perhatian di antara anak-anaknya, atau melebih-lebihkan satu dari lainnya. Faktor yang sering terlihat adalah kondisi strata sosial, dimana anak bergaul dengan yang tingkat ekonominya di atas rata-rata, sedangkan si anak dari keluarga miskin.
Penanggulannya, orang tua tentu saja harus pandai-pandai membagi perhatian dan kasih sayang terhadap anak-anaknya, sehingga anak merasa mendapat perhatian dan kasih sayang orang tua, selain juga harus mendeteksi sebab-sebab hasad tersebut jika muncul sebab lain.

e. Marah
Sifat marah sebenarnya tidak selalu bernilai buruk. Rasulullah Saw sendiri pernah marah, takkala ada dispensasi hukum hanya karena orang yang berbuat kriminal tersebut seorang yang punya kedudukan. Yang dimaksud marah di sini adalah marah yang tercela (al-ghadhab al-madzmûm) yang muncul untuk kepentingan sendiri, sikap egoisme, sehingga menimbulkan perpecahan. Marah seperti inilah yang tidak dibenarkan dan harus dikendalikan.
Anak yang terlatih mengendalikan amarah, sebenarnya ia meniti tangga-tangga prestasi mental dan akan tumbuh menjadi orang yang berfikiran positif. Dalam al-Qur’an disebutkan:

الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاء وَالضَّرَّاء وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“(Orang-orang yang bertakwa itu) adalah orang yang menafkahkan (hartanya di jalan Allah), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS. Âlu ‘Imrân:134)
Untuk mengatasi marah, Rasulullah Saw. memberikan beberapa tips:

  1. Dengan diam. Rasulullah bersabda:

إذا غضب أحدكم فليسكت (رواه أحمد)

“Jika salah seorang di antara kalian marah, maka diamlah” (HR. Ahmad)

  1. Dengan berwudhu. Sabda Rasul: الغضب من الشيطان و إنّ الشبطان خلق من النار, و إنّما النار تطفأ بالماء, وإذا غضب أحدكم فليتوضأ
    (رواه أبو داود)

“Marah itu datangnya dari syaithan, dan syaitah itu diciptakan dari api. Api harus dipadamkan dengan air. Dan jika seorang di antara kamu marah maka berwudhulah” (HR. Abû Dâud)

  1. Merubah posisi semula.

إذا غضب أحدكم وهو قائم فليجلس فإذا ذهب عنه الغضب و إلا فليضطجع (رواه أحمد)

“Jika salah seorang dari kamu marah dan dia berdiri, maka duduklah dengan demikian akan reda marahnya. Jika belum reda, maka berbaringlah” (HR. Ahmad)

  1. Mengucap ta’awudz

استب رجلان عند النبى صلى الله عليه وسلم وأحدهما يسب صاحبه مغيضبا قد احمر وجهه, فقال النبى صلى الله عليه وسلم: إنى لأعلم كلمة لو قالها لذهب عنه ما يجد.. لو قال أعوذ بالله من الشيطان الرجيم (رواه البخارى و مسلم)

“Ada dua orang yang saling mengejek di hadapan Rasulullah Saw. Salah seorang di antara keduanya mengumpat yang lain dengan wajah memerah karena marah. Rasulullah Saw pun bersabda: “aku mengetahu suatu kalimat, jika kalimat itu diucapkan maka akan hilanglah (rasa marah) yang ia dapat (dalam dirinya), yaitu: A’ûdzu billâhi min al-syaithân al-rajîm” (HR. Al-Bukhârî dan Muslim)
Peran ibu dalam membiasakan anak agar mengendalikan marahnya tentu sa-ngat signifikan. Namun seorang pendidik terlebih dahulu juga harus dilatih untuk menjadi orang penyabar, pemaaf dan mampu mengendalikan amarahnya. De-ngan demikian secara tidak langsung anak bisa mencontoh sifat-sifat yang ada pada ibunya. Wallâhu a’lam. 

—++—-+——–

Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan pesantren Almuflihun yang diasuh oleh ust. Wahyudi Sarju Abdurrahmim, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899