Menjadi Orang yang Tahu Diri


Oleh Abdul Gaffar Ruskhan

Asslamualaikum wr wb.

Apa kabar saudaraku?
Mudah-mudahan kita dapat meningkatkan amal ibadah kita pada bulan Syawal ini serta senantiasa diberi bimbingan dan hidayah Allah SWT kepada kita. Amin!

Allah SWT berfirman,

وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَٰحِدَةً وَلَٰكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِى مَآ ءَاتَىٰكُمْ ۖ فَٱسْتَبِقُوا۟ ٱلْخَيْرَٰتِ ۚ إِلَى ٱللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

Kalau Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu. Maka, berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah kamu semua kembali, lalu diberitahukan-Nya kepadamu terhadap apa yang dahulu kamu perselisihkan, (QS Al-Maidah: 48)

Manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan berbagai posisi, potensi, rezeki, dan kondisi. Masing-masing harus menyadari keberadaannya dalam kehidupan. Orang yang memahami keberadaannya itu kita sebut orang yang tahu diri.

Tahu diri pada hakikatnya merupakan sifat seseorang dalam mamandang hidup dan menempatkan dirinya sesuai dengan tuntutan dirinya. Seorang laki-laki mamahami dirinya lebih kuat daripada perempuan sehingga tugas-tugas yang berat tidak diberikan kepada perempuan. Sebaliknya, perempuan pun harus tahu diri bahwa tugas yang biasa dilakukannya tidak diserahkan kepada laki-laki. Seorang atasan di kantor harus tahu diri bahwa sebagai pemimpin dari anak buahnya, dia harus mengambil keputusan yang terbaik dalam pekerjaannya. Sebaliknya, bawahan harus tahu diri agar tidak melampaui tugas pokok dan fungsi pekerjaannya. Orang yang sehat harus tahu diri bahwa penyakit dapat saja “menjambanginya” sehingga lupa memperhatikan kesehatannya. Sebaliknya, orang sakit pun harus tahu diri agar mengatur makanan yang sesuai dengan kondisi fisiknya. Pokoknya, setiap orang perlu menyadari bahwa mereka memiliki perbedaan, seperti posisi dan potensi masing-masing.

Pertama, tahu diri akan posisi.

Setiap orang jangan sampai merasa bisa dan sanggup mengerjakan apa saja. Ada posisi yang tidak bisa diduduki oleh setiap orang. Posisi itu hanya ditempati oleh orang tertentu. Di pemerintahan monarki, seperti Arab Saudi, yang bukan keluarga kerajaan jangan berharap menjadi pengganti raja. Walaupun di negara demokrasi, masing-masing sudah ada posisi yang tepat untuknya.
Seorang suami punya posisi sebagai kepala rumah tangga dan mencari nafkah untuk biaya keluarga. Istri pun punya posisi di dalam keluarga sehingga tidak akan terjadi suami menduduki posisi istri yang harus menyiapkan makan dan mengasuh anak.

Seorang staf di kantor memiliki kedudukan di bawah atasannya. Dalam posisinya sebagai staf, kewenangan atasannya tidak dapat dilangkahinya. Akan berantakan apabila staf yang tidak tahu diri mengatur tugas yang seharusnya dilakukan oleh atasannya.
Jika setiap orang berbuat sesuai dengan posisinya, keharmonisan akan terwujud di tengah-tengah masyarakat.

Ayat Al-Qur’an di awal menunjukkan bahwa jika Allah menginginkan satu umat di dunia ini, hal itu sebetulnya bisa. Namun, Allah jadikan bermacam-macam agar menjadi ujian dan tantangan sehingga masing-masing berlomba-berlomba dalam kebaikan. Itu pula yang dimaksudkan dalam firman Allah SWT bahwa keberbagaian keyakinan itu menggambarkan kenyataan dalam kehidupan. Tidak mungkin memaksakan kehendak agar semua memiliki iman yang sama.

Tahu diri bagi setiap orang dalam posisinya menjadi penting agar kehidupan ini berjalan dengan baik. Manakala seseorang sudah memiliki status dan posisi tertentu, ia tidak boleh merampas atau merebut posisi yang telah dimiliki orang lain.

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لآمَنَ مَنْ فِي الأرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّى يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ

“Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka, apakah kamu (hendak)  memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?”
(QS Yunus:99)

Tetkait dengan keimanan masih ada orang yang belum mau beribadah kepada Allah. Seharusnya dia diatur oleh Allah, tetapi justru dia yang mengatur Allah. Manakala panggilan azan berkumandang untuk melaksanakan salat, justru dia tidak mendengar panggilan itu atau berpura-pura tidak mendengarnya. Pangilan dunianya masih lebih utama daripada panggilan sang Pencipta.
Karena itu, Allah SWT mempertanyakan keberadaannya di dunia dan asalnya dari nutfah yang dipancarkan tentang siapa yang menciptakannya dalam firman-Nya,

أَفَرَأَيْتُمْ مَا تُمْنُونَ (58) أَأَنْتُمْ تَخْلُقُونَهُ أَمْ نَحْنُ الْخَالِقُونَ.

“Maka, terangkanlah kepada-Ku tentang nutfah yang kamu pancarkan. Kamukah yang menciptakannya atau Kamikah yang menciptakannya?” (QS Al-Waqiah: 58–59)

Kedua, tahu diri tentang potensi diri.

Setiap orang memiliki potensi diri yang tidak sama. Ada orang yang memiliki potensi akademik, sedangkan yang lain lebih menonjol di bidang seni. Ada orang yang berbakat di bidang teknik, sedangkan yang lain berbakat di bidang hukum. Apa pula uang gemar mangotak-atik komputer, sedang yang lain senang menanam kembang dan tanaman. Itulah perbedaan potensi diri dan bakatnya. Orang yang memiliki bakat otomotif mencoba atau memaksakan diri untuk mengembangkan bibit ternak atau tanaman itu namanya tidak tahu diri. Oleh karena itu, tahu diri dalam hal potensi diri dapat menjadikan dirinya sukses. Sebaliknya, melakukan sesuatu yang di luar potensi yang dimiliki akan menjadikan seseorang gagal dalam hidupnya. Walaupun ada yang berhasil, itu takdir yang menentukannya.

Sesorang harus berusaha semaksimal mungkin untuk menggapai hal-hal yang bermanfaat untuknya sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Untuk mencapainya, ia meminta pertolongan kepada Allah dan janganlah menjadi orang yang lemah.

الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ ».

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allâh Azza wa Jalla daripada Mukmin yang lemah dan pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allâh (dalam segala urusanmu), dan janganlah sekali-kali engkau merasa lemah. Apabila engkau tertimpa musibah, janganlah engkau berkata, ‘Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini dan begitu’, tetapi katakanlah, ‘Ini telah ditakdirkan Allâh dan Allâh berbuat apa saja yang Dia kehendaki.’ Ucapan “seandainya” akan membuka (pintu) perbuatan setan.” (HR Muslim No. 6945, Imam Ahmad No. 8777 dan 8815, Ibnu Majah No. 79 dan 4168, Nasai No. 10457, Ibnu Hibban, Baihaqi, dan lainnya)

Orang yang hanya mengatakan “andaikata” aku begini dan begitu, tetapi dia tidak berbuat dengan usaha keras, itu adalah angan-angan kosong yang dimiliki oleh yang tidak tahu diri dan akan membuka pelyang setan untuk menyelewengkannya.

Ketiga, tahu diri tentang kondisi dan situasi.

Dalam situasi wabah Covid-19 ada orang yang masih berkeliaran ke luar masuk restoran tanpa memperhatikan protokol kesehatan. Jarak aman, pemakaian masker, tidak bersentuhan tangan tidak diperhatikan. Itu namanya orang yang tidak tahu diri.

Ada orang yang mengidap penyakit diabetes dan hipertensi tidak mampu mengendalikan makanan yang manis, berlemak, dan berkofein. Frekuensi makan pun tidak diatur. Akibatnya, gulanya tinggi dan tensinya pun melebihi ukuran normal. Orang tersebut berarti tidak tahu diri.

Allah SWT telah menganugerahkan rezeki yang berlebih kepada orang tertentu. Usahanya lancar, keriernya meningkat, anaknya sarjana semua, tapi mesih saja merasa belum cukup dan puas. Untuk bersedekah dan berbagi rezeki kepada orang yang membutuhkan, sulitnya bukan main. Rasanya untuk mengeluarkan uang dan sebagian hartanya betul-betul penuh perhitungan. Artinya, dia tidak bersyukur dalam kondisi berkelapangan dengan anugerah Allah yang terlimpah kepadanya. Itu namanya orang yang tidak tahu diri. Bukankah Allah SWT telah menjadikan siang hari untuk mencari rezeki-Nya? Ternyata rezeki Allah SWT itu berpihak kepadanya.

وَجَعَلْنَا ٱلَّيْلَ وَٱلنَّهَارَ ءَايَتَيْنِ ۖ فَمَحَوْنَآ ءَايَةَ ٱلَّيْلِ وَجَعَلْنَآ ءَايَةَ ٱلنَّهَارِ مُبْصِرَةً لِّتَبْتَغُوا۟ فَضْلًا مِّن رَّبِّكُمْ وَلِتَعْلَمُوا۟ عَدَدَ ٱلسِّنِينَ وَٱلْحِسَابَ ۚ وَكُلَّ شَىْءٍ فَصَّلْنَٰهُ تَفْصِيلًا
“Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda. Lalu, Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang agar kamu mencari kurnia dari Tuhanmu dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. Segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas.”
(QS Al-Isra:12)

Malam dan siang siang merupakan dua tanda kebesaran Allah SWT. Siang terang sehingga dapat dimanfaatkan untuk mencari rezeki. Sekaligus, keduanya dijadikan sebagai perhitungan tahun. Orang yang tahu diri, misalnya nelayan dan petani, akan dapat menentukan waktu-waktu yang tepat untuk mencari rezeki, sesuai dengan kondisinya. Petani akan dapat menentukan musim kapan mereka bertanam dan kapan mereka akan menuai hasinya. Itulah makna tahu diri dalam situasi dan kondisi. Tidak tahu diri, misalnya, petani bertanam sayur di musim kemarau atau bertanam tomat dan kentang pada musim penghujan. Oleh karena itu, kondisi dan situasi dapat dijadikan sebagai salah satu pertimbangan orang yang tahu diri.

Keempat, tahu diri tentang rezeki.
Allah menganugerahkan rezeki kepada manusia tidak sama. Ada yang mudah mendapatkan rezeki dan ada pula yang yang sulit. Manusia tidak punya hak untuk menentukan kadar rezekinya. Masalah rezeki adalah urusan Allah SWT. Dia yang menakar rezeki seseorang berapa banyaknya. Simak firman-Nya berikut.

وَٱللَّهُ فَضَّلَ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ فِى ٱلرِّزْقِ ۚ فَمَا ٱلَّذِينَ فُضِّلُوا۟ بِرَآدِّى رِزْقِهِمْ عَلَىٰ مَا مَلَكَتْ أَيْمَٰنُهُمْ فَهُمْ فِيهِ سَوَآءٌ ۚ أَفَبِنِعْمَةِ ٱللَّهِ يَجْحَدُونَ

“Allah melebihkan sebagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rezeki. Akan tetapi, orang-orang yang dilebihkan (rezekinya itu) tidak mau memberikan rezeki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki agar mereka sama (merasakan) rezeki itu. Maka, mengapa mereka mengingkari nikmat Allah?” (QS An-Nahl:71)

Orang yang telah diberi rezeki lebih oleh Allah SWT harus pandai bersyukur agar rezekinya langgeng dan berkembang. Orang kaya harus pandai memanfaatkan anugerah Allah dengan sebaik-baiknya dan menyalurkan srbagian hartanya untuk mereka yang berhak. Itulah pada dasarnya orang yang tahu diri. Orang yang rezekinya hanya sedang-sedang saja jangan terlalu bersikap hidup berlagak mewah sehingga akan mempersulit diri. Berapa banyak kalangan muda yang penghasilannya tidak memadai, tetapi di dompetnya berjejer kartu kredit sehingga pada saat datang tagihan kreditnya mereka kelabakan dan berusaha menghindarkan diri kalau penagihnya datang. Itu namanya tidak tahu diri. Bak kata pepatah “besar pasak daripada tiang” atau “tidak mengukur bayang-bayang sepanjang badan”. Artinya, pengeluaran lebih besar daripada pemasukan.

Di dalam menjalani hidup ini kita perlu mamahami keberadaan kita dengan memperhatikan posisi, potensi, kondisi, dan rezeki agar kehidupan dapat berjalan dengan baik. Tanpa memperhatikan itu tidak jarang orang dihadapkan pada masalah yang kadang-kadang tidak dapat diatasi. Bercita-cita dituntut agar menjadi lebih baik dengan kerja keras, tetapi berkhayal dengan andaikata dan kalau itu akan menjadikan seseorang “bagaikan si Punguk merindukan bulan”.
Semoga ada manfaatnya.

Wallahul-muwafiq ila aqwamit-tarik.

Wassalamualikum wr wb.

Ciledug, 30 Mei 2020

—++—-+——–

Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan pesantren Almuflihun yang diasuh oleh ust. Wahyudi Sarju Abdurrahmim, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899