Jangan Harap Kembali Normal (Refleksi Hari Pendidikan Nasional 2020)

Suasana Upacara Hardiknas 2020 Online
Suasana Upacara Hardiknas 2020 Online

Awal maret sekolah dirumahkan, kita berpikir mungkin situasi akan kembali normal dalam hitungan minggu. Tapi kini lebih dari satu bulan, belum ada tanda-tanda menggembirakan. Anak sudah mulai gelisah, orangtua makin gundah.

Kapan semua ini akan kembali normal? Harapan kembali normal harus kita kubur dalam-dalam. Karena sebetulnya kita sedang belajar dan dipaksa untuk merasakan kondisi normal dalam versi baru atau The New Normal. Pendidikan dan dunia kerja tidak akan pernah sama setelah masa covid ini. Kita akan menjalani sesuatu yang baru. Akan ada beberapa Normal Baru dalam pendidikan:

  1. Blended lerning
    Cara belajar akan berubah menjadi percampuran antara offline dan online. Masa pandemi ini memaksa kita sadar jika banyak ceramah-ceramah di kelas tidak efektif ternyata bisa digantikan oleh materi online. Beragam riset menunjukkan bahwa siswa bisa menangkap materi 25-60% dalam pembelajaran online. Jauh di atas pembelajaran tatap muka yang hanya 8-10%. Jam sekolah harus betul-betul dimanfaatkan untuk yang benar-benar tidak bisa digantikan oleh online. Di sekolah anak-anak akan lebih banyak praktik, project, diskusi. Guru-guru bukan saja harus pandai bicara di depan kelas, tapi juga pandai menulis materi online yang menarik di Google Classroom atau platform online learning lainnya.
  2. Self learning
    Ketika semua ilmu sudah tersedia berlimpah di dunia maya, anak hanya perlu sebuah kunci untuk meraihnya. Kunci itu adalah self learning skill. Kemampuan belajar mandiri. Seorang anak muda di Indonesia timur bisa membuat prototype pesawat terbang dengan hanya membaca modul online dan menonton video tutorial youtube. Oleh karena itu tugas pendidik sekarang bukan lagi memberi ikan tapi memberi kail, kita harus mengajarkan Learn How To Learn. Belajar bagaimana cara belajar.
  3. Home based learning
    Selama pandemi ini rumah-rumah berfungsi sebagai kantor, masjid dan sekolah. Kita dipaksa untuk memeriksa sesiap apa rumah menjadi tempat belajar, dari mulai fasilitas buku bacaan, koneksi internet, alat bantu hingga SDM nya. Apakah orangtua sudah punya cukup keterampilan menjadi pendidik? Ke depan, saat remote working menjadi sesuatu yang normal, romete learning dan distance learning juga akan menjadi pilihan. Saat ilmu bisa diakses di mana saja, sekolah tak akan jadi sentral, rumah akan jadi ruang belajar.

Itulah situasi normal baru yang sedang dan akan kita jalani. Yang dulu dianggap tidak normal kini akan menjadi normal. Pandemi membuat ujian sekolah gagal dilaksanakan. Tapi ujian sesungguhnya sedang terjadi:

  1. Ujian bagi guru dan sekolah, apakah mereka bisa lulus beradaptasi jadi sekolah yang bisa menerapkan distance dan online learning.
  2. Ujian buat orangtua, apakah mereka bisa jadi pendidik dan menjadikan rumahnya sebagai salah satu sentra pendidikan
  3. Untuk siswa, apalan mereka mampu menjadi self learner.

Kita akan melihat sekolah, guru, orangtua dan siswa yang lulus ujian covid ini. Yaitu yang mulai beradaptasi dengan suasana normal baru ini. Kita juga akan menyaksikan yang gagal ujian ini, yaitu yang sibuk mengeluh dan berangan-angan suasana akan kembali normal seperti dulu.

Memang situasi makin berat. Ujian ini tak mudah. Tapi kita harus yakin ujian ini satu paket dengan keimanan. Karena tidak bisa mengaku beriman jika tidak diuji (Al-Ankabut: 2). Kita juga yakin ujian yang kita jalani tak akan melebihi kemampuan kita. (Al-Baqarah: 286). Dan semua takdir Allah itu baik, yang membuat ini terlihat buruk adalah cara pandang dan response kita. Dalam ujian covid ini, kita dan putra putri kita masih sedikit lebih beruntung dari 400 juta siswa di dunia yang masih belum punya akses ke internet. Jika Anda masih bisa baca tulisan ini via WA dan masih rajin bersosial media, maka tidak ada alasan “saya gaptek” atau “saya generasi jadul” untuk belajar cara belajar baru di masa normal baru.

Ditulis oleh: Abah Irfan Amalee