Istiqamah dalam Menghadapi Kehidupan

Oleh Abdul Gaffar Ruskhan

Assalamualaikum wr. wb.

Apa kabar saudaraku?
Semoga sehat walafiat, dicurahkan rahmat, diberikan pelindungan dari Allah SWT. Amin!

Allah SWT berfirman,

الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami ialah Allah,” kemudian mereka beristikamah, malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, ‘Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih! Gembirakanlah mereka dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS Fushilat: 30)

Istikamah menjadi istlah yang lazim kita dengarkan, tetapi tidak semua orang paham maknyanya secara mendalam. Walaupun merupakan istilah agama Islam (dalam tauhid), istilah itu sering dipadankan dengan konsisten, konsekuen, dan teguh pendirian. Pengertian itu tidak salah, tetapi cakupannya bebeda.
Konsisten lebih pada kesesuaian dengan apa yang dikatakan dan yang diperbuat atau tidak menyimpang dari yang diputuskan, sedangkan konsisten tetap dan tidak berubah.

Istikamah ada hubungannya dengan mustaqim (orang yang istikamah; orang yang minta ketetapan; orang yang [berjalan] lurus). Karena itu, istikamah bermakna mencakupi semuanya sehingga dapat dipahami sebagai ‘sikap yang tetap berada di jalan yang lurus dan tidak berubah dalam situasi dan kondisi apa pun serta di mana pun berada’.

Istikamah penting di dalam kehidupan karena akan memperlihatkan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang emas dan mana yang loyang, dan mana yang prinsip hidup atau bukan prinsip. Jika itu suatu kebenaran, kebenaran itu tetap tidak akan berubah walaupun di dalam situasi, kondisi, dan tempat yang berbeda. Jika itu emas, emas tidak akan berubah menjadi loyang atau perak kapan dan di mana pun. Jika itu sudah menjadi prinsip, prinsip itu tidak akan dapat berubah atau diganti dengan yang lain walau penggantinya lebih baik dari sisi keduniaan.

Istikamah dalam konteks ayat di awal berkaitan dengan akidah bahwa kalau seseorang sudah mengatakan Allah SWT sebagai Tuhan, sampai kapan pun, dalam situasi apa pun, dan di mana pun akan tetap mengatakan dan mengakui Allah sebagai Tuhannya. Sekali dia sudah betikrar sebagai seorang muslim, ikrar itu tetap dipertahankanya sampai akhir hayatnya. Apa pun godaan yang datang untuk mengubah keyakinan dan prinsip hidupnya tidak akan menggoyahkan akidahnya. Akidah adalah harga mati bagi seorang beriman. Manakala akidah Islam dipertahan dalam berbagai berbagai kondisi dan tempat seseorang akan selamat.

Hadis Rasulullah saw. ini menjelaskan peran istikamah dalan ber-Islam.

عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الثَّقَفِيِّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ قَالَ قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ فَاسْتَقِمْ

Dari Sufyan bin Abdullâh
ats-Tsaqafi, ia berkata, “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, katakan kepadaku di dalam Islam satu perkataan yang aku tidak akan bertanya kepada seorang pun setelah Anda!’ Beliau menjawab, ‘Katakanlah, ‘aku beriman’, lalu istikamahlah” (HR Muslim No. 38, Ahmad 3/413, Tirmidzi No. 2410, dan Ibnu Majah No. 3972].

Orang yang istikamah tidak akan silau dengan godaan untuk mengganti akidahnya dengan akidah yang lain. Rayuan kekuasaan tidak akan menjadikan keyakinannya berubah. Tawaran kekayaan atau materi tidak akan mampu menjadikan imannya berganti dengan keimanan salah dan batil. Godaan wanita cantik atan pria ganteng untuk pasangan hidupnya tidak akan tergadai dengan berganti agama mengikuti iman calon istri/suaminya. Pendek kata, akidah tetap dijaga agar tidak rusak atau berubah walaupun ada keinginan duniawi yang datang menghampirinya.

Dalam berjuang mendakwahkan Islam, istikamah sangat dituntut agar Islam eksis di negara yang penduduk muslimnya terbesar di dunia. Tawaran kekuasaan tidak akan menghentikan tekadnya untuk memperjuangkan Islam. Suguhan sejumlah uang dan materi tidak akan membungkamnya untuk berpaling dari perjuangan Islam. Itulah orang istikamah dalam berjuang.

Ada sebuah ayat dalam surah Hud yang memerintahkan Rasulullah untuk istikamah.

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Maka, istikamahlah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS Hud: 112)

Begitu dalam makna istikamah dalam surah itu sampai-sampai Rasulullah cepat beruban memikirkan ayat itu.

Kisahnya bahwa Rasulullah saw. didatangi oleh sahabatnya Abu Bakar Siddik. Kemudian, sahabatnya itu bertanya mengenai perubahan rambut beliau yang berlangsung begitu cepat sebelum waktunya.

Abu Bakar Siddik bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang membuat rambutmu beruban?” Beliau menjawab, “Surah Hud (maksudnya ayat 112) beserta saudara-saudaranyalah yang membuatku beruban.”

Mendengar jawaban dari Rasulullah tersebut, Abu Bakar pun masih merasa penasaran. Kemudian, ia kembali bertanya, “Apa saja saudaranya?” Beliau menjawab, “Surah Al-Waqi’ah, Al-Mursalat, An-Naba, dan At-Takwir. Semua membuatku beruban sebelum waktunya.” (HR Tirmidzi, Thabrani, dan Hakim)

Istikamah dalam beribadah pun penting dipertahankan. Selama Ramadan kita sudah dilatih dalam berbagai ibadah. Apa yang sudah manjadi ibadah andalan selama Ramadan dilakukan kembali secara konsisten di luar Ramadan. Itu merupakan wujud istikamahnya kita dalam beramal. Kalau biasanya rajin salat sunah seperti salat Duha, salat Rawatib, dan salat Malam, kita harus lebih rajin lagi melakukannya di luar Ramadan. Jika rutin membaca Al-Qur’an selama Ramadan, rutinitas itu harus dipertahankan selepas Ramadan. Begitu pula sedekah dan infaknya. Karena itu, istikamah itu dilakukan setiap waktu, tempat, dan aspek kehidupan.

Ada di antara manfaat istikamah

  1. Jaminan Allah untuk kehidupan yang baik Allah SWT Berfirman yang artinya, “Siapa yang beramal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan kami beri balasan mereka dengan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.” (QS An-Nahl: 97)
  2. Penjagaan dari Allah SWT
    Rasulullah saw.
    bersabda, ”Jagalah Allah (perintah dan larangan Allah). Maka, Allah akan menjagamu.” HR Tirmidzi) Lihat juga QS Fussilat: 30–31
  3. Kabar gembira dengan surga

Allah berfirman,
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan Kami ialah Allah,” kemudian mereka beristikamah. Maka, malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih. Gembirakanlah mereka dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS Fussilat: 30–31)
Selain itu, mereka yang istikamah akan dimasukkan ke surga.

Allah SWT berfirman, “Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian dan pada hari Kiamat akan diberikan pahala kalian secara penuh. Maka, siapa yang dijauhkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga sesungguhnya ia adalah sang pemenang, dan tidaklah kehidupan dunia, kecuali hanya kesenangan semu yang menipu.” (QS Ali Imran: 185)

Semoga dalam beragama kita istikamah. Hidup yang istikamah dapat memberi keselamatan kita di dunia dan akhirat. Kita jaga akidah kita agar tidah berubah, kita pertahankan Islam kita dalam kondisi apa pun dan di mana pun. Jangan sampai karena godaan dunia berupa kekuasaan, kekayaan, dan kemewahan, iman tergadaikan. Kita selalu berharap dalam salat paling tidak 17 kali dalam sehari dan semalam agar Allah SWT memberi jalan yang lurus dalam hidup kita: Ihdinash-shirathal mustaqim ‘Tunjuki kami jalan yang lurus’. Amin!

Wassalamualaikum wr. wb.

—++—-+——–

Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan pesantren Almuflihun yang diasuh oleh ust. Wahyudi Sarju Abdurrahmim, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899