Hal Wanita dalam Islam; Partisipasi dan Eksistensi dalam Politik

Oleh : M. Iman Sastra Mihajat, Lc.

Pendahuluan

Problematika kaum wanita sering kali muncul di permukaan, dalam menuntut hak-hak mereka dalam kehidupan bermasyarakat, bukan pada saat ini saja, akan tetapi, problematika ini telah ada sejak zaman sebelum Rasul saw. diutus. Dikarenakan wanita sebelum Rasul sangat tidak berharga, mereka hanya sebagai alat pemuas nafsu belaka, bahkan sama seperti barang yang bisa diperjualbelikan, dan di wariskan kepada anak mereka. Akan tetapi, apakah setelah Rasul saw. diutus hak mereka masih diselewengkan? Setelah muncul seorang Rasul Muhammad saw., dengan kecermatan dan kepekaan beliau terhadap lingkungan dalam memerankan aktor sebagai rahmat bagi semesta alam, telah mengangkat derajat manusia –khususnya wanita– kepada derajat yang sesungguhnya. Apalagi, dengan langkah beliau yang salah satunya memerdekakan budak. Beliau bisa dikatakan pahlawan HAM bagi dunia, sebagai orang sangat memiliki andil dalam penegakan hak-hak asasi manusia. Walaupun Jack Donelly dalam kumpulan artikel Robert Holden, Hugh Howard, Andrew Luberes, Lidya Voronina, dan Prof. Theodore Orlin di buku ‘Intruduction to Human Right’ menyebutkan 122 orang tokoh hak asasi manusia tanpa mencantumkan Muhammad saw. sebagai pelopor HAM. Akan tetapi, kita jangan lupa, bahwa, karena jasa Nabi kita Muhammadlah dunia sekarang hampir hilang dari perbudakan dan hak-hak manusia terjaga.
Begitu juga dengan agama Islam yang beliau bawa ke permukaan bumi. Islam menjaga lima hal dalam kehidupan manusia –sebagaimana yang disebutkan Imam Syathibi dalam ‘Muwâfaqatnya’– yaitu : agama, diri, akal, keturunan dan harta.3 Dengan demikian, hak manusia sangat terjaga, begitu juga hak-hak wanita, seperti hak waris,4 hak berpolitik dan hak memilih suami dan banyak lagi. Islam sebagai agama rahmat bagi semesta alam telah sukses membawa dunia dari jalan kegelapan ke jalan yang penuh dengan ‘kebebasan’ dan keadilan. Islam sebagai agama, telah menjadi pelopor penegakan HAM bagi semesta alam. Kalaupun dunia berteriak tentang HAM dan tentang ketidakadilan serta tindak kekerasan yang terjadi, ketahuilah, Islam telah lebih dulu melaksanakannya dan mengaktualisasikannya di tengah masyarakat.
Naib sekali rasanya jika sekarang sering sekali terjadinya pelanggaran HAM di dunia akan tetapi Lembaga HAM PBB –salah satu lembaga HAM yang sudah lama berdiri adalah Human Right Wacth, sebagai organisasi dunia terbesar pembela hak manusia yang tertindas yang lahir pada tahun 19785– tidak pernah berdiri tegak membelanya. apalagi yang dilanggar adalah hak asasi umat Islam, mereka hanya diam seakan-akan keberadaannya hilang ditelan bumi. Akan tetapi, jikalau hak mereka di ganggu sedikit saja, atau warga negara mereka ada yang diganggu atau terbunuh, mereka langsung berteriak atas nama HAM. Apakah itu yang disebut HAM? Banyak sekali kasus pelanggaran HAM di dunia yang tak pernah usai dan bahkan Lembaga HAM PBB sendiri tak pernah mengusut pelanggaran yang ada. contoh di negara kita, seperti kasus di Ambon yang mana KOMNASHAM sebagai organisasi HAM di Indonesia tidak begitu terlihat keberadaannya dalam menyelesaikan kasus tersebut, atau di luar negara kita seperti di Palestina dan di Irak yang baru saja terjadi. Itu sebenarnya adalah pelanggaran HAM yang sangat besar akan tetapi Lembaga HAM PBB hanya diam tak berkutik. Saya rasa, ini hanyalah sebuah alat untuk menjatuhkan umat Islam, agar mereka lebih leluasa memerangi kita. Maka dari, itu selagi aturan yang diletakkan di bumi adalah aturan manusia bukan aturan sang pencipta, maka, bumi tidak akan pernah aman dan tenteram. Sebab sebuah aturan atau undang-undang itu seharusnya memakai sistem yang telah digariskan oleh sang pencipta alam ini–Allah swt.– dengan al-Qur’an dan al-Sunnah-Nya.

Ibu, Madrasah Negara

Jika kita amati bangsa manapun di dunia ini, pasti kita temukan bangsa tersebut terdiri atas satu kelompok manusia yang umumnya diikat oleh suatu ikatan agama, kebangsaan, dan etnis. Bahagia atau tidaknya suatu bangsa bergantung pada individu-individunya. Artinya, jika individunya baik, maka baiklah bangsa tersebut. Dan jika individunya rusak maka rusaklah bangsa tersebut. Mereka adalah anggotanya. Bergerak atau diam, maju atau mundur, sengsara atau binasanya suatu bangsa bergantung pada mereka. Suatu bangsa bergantung pada kaum prianya yang bekerja dan kaum wanitanya yang mempunyai keyakinan yang teguh, serta kawula mudanya yang mempunyai ilmu pengetahuan dan agama.
Merekalah sumber kebahagiaan dan kemajuan suatu bangsa. Mereka adalah tiang negara dan sandaran tempat bertahan. Mereka adalah sinar yang menerangi negara dan penunjuk jalan yang membimbing ke arah kebaikan. Sedangkan pemegang peran yang paling terpenting adalah ibu.
Mengingat ibu adalah tiang utama yang diandalkan oleh semua bangsa dalam mendidik anak, dia haruslah orang yang berakal, pintar, arif, bijaksana, terpelajar, dan sempurna. Benar sekali apa yang dikatakan Napoleon Bonaparte, “ Perancis tidak mungkin mecapai kejayaan dan kebesaran kecuali dengan wanita yang baik.”
Maka dari itu, tidak salah penulis mengatakan perempuan adalah ujung tombak dalam suatu negara, walaupun keberhasilan negara kedepan itu dilihat dari pemudanya, akan tetapi kita harus tahu pemuda lahir dari perempuan-ibu- dan perempuanlah yang mendidik dan mengarahkan pemuda-anak-anaknya-, sehingga tidak heran lagi bagaimana perempuan itu dalam keberadaannya sangat menentukannya, sehingga nama dan simbol mereka sering digunakan. kita lihat, bagaimana sebuah pusat negara dinamakan ibu kota, bukan bapak atau ayah kota. Di Indonesia setiap tahunnya diperingati hari ibu untuk mengenang jasanya. Begitu juga dalam Islam yang ada hanya Ummu al-Mu’minin tidak ada Abu al-Mu’minin. Jadi tidak heran sampai di hadits pun menyebutkan bagaimana seorang nabi besar Muhammad saw. menuturkan ketika salah seorang lelaki yang datang kepada beliau lalu bertanya, “Wahai Rasulullah : siapakah orang yg paling berhak untuk saya perlakukan secara baik? Beliau menjawab, “Ibumu.” kemudian siapa lagi, ”Ibumu.” kemudian siapa lagi, “Ibumu.” kemudian siapa lagi, ”kemudian ayahmu.”6 Alangkah besarnya peran seorang ibu dalam rumah tangga dalam menentukan masa depan sebuah keluarga. Maka dari itu, kita harus memperhatikan juga eksistensinya dan menjaga hak mereka dalam suatu masyarakat, bahkan, negara sekalipun untuk ruang lingkup yang lebih besar lagi. Agar mereka tak merasa dikesampingkan, padahal, peran mereka sangat besar. Dengan aturan–Islam– yang telah ditetapkan kepada kita.
Dahulu, sebelum datang Islam, kaum perempuan adalah kaum ummi, tidak dapat membaca dan menulis, kemudian mereka diwajibkan menuntut ilmu oleh Islam. ketika peradaban sebelumnya dimusnahkan oleh Islam, maka terbukalah pintu sekolah bagi kaum wanita. Hingga sampai saat ini perempuan bebas-bahkan sebuah kewajiban- dalam menuntut ilmu berkat jasa Islam.7 Sehingga mereka dalam membina keluarga lebih membaik dengan ilmu yang mereka miliki. Dengan demikian ibu sebagai sekolah bagi anak-anaknya dapat teraplikasikan dengan baik, kalau ibu mereka memiliki ilmu yang matang.
Ibu sebagai sekolah yang informal, banyak mempengaruhi anak dalam belajarnya melebihi sekolah formal. Walaupun ilmu secara umumnya yang mereka dapat dari sekolah formal. Saya sangat kagum sekali dengan perkataannya Hafidz Ibrahim,
“Al Ummu madarasatun idzâ a’dadtahâ ; A’dadta sya’ban thayyiba al-a’râqi
Al Ummu raudha in ta’ahhadahu al-haya ; bi al-rayyi auraqa ayyuma îrâqi
Al Ummu ustadzu al-asâtidzati al-ūla ; syaghalat maâtsirahum madâ al-âfâqi.”
“Ibu adalah madrasah. Jika Anda persiapkan, berarti Anda mempersiapkan generasi yang harum namanya.
Ibu adalah taman, jika ia selalu disiram, ia akan berdaun rindang.
Ibu adalah guru pertama dari sekalian guru, pengaruhnya menjangkau seluruh dunia.”8
Mengingat periode pertama pendidikan anak sebagian besar dihabiskan di rumah dalam pelukan kaum ibu dan penasihat pertama bagi manusia, sekaligus menjadi pendidik dan tempat belajar sebelum seseorang mengenal bicara. Ibulah yang menanamkan kebiasaan baik dan sifat terpuji pada diri manusia sehingga ia menjadi orang terpandang dan berani. Seorang ibu bisa saja menjadikan anaknya seorang raja yang penyayang atau setan yang terkutuk, sebab dialah yang senantiasa bersama anaknya sejak kecil. Maka dari itu kaum ibu haruslah memiliki akhlak mulia dan kebiasaan yang baik, senantiasa berpegang teguh pada agama, mengikuti aturan Allah, mengerjakan perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya. Mengapa tidak, sebab agama yang menanamkan rasa cinta kepada keutamaan dan menjauhkannya dari tempat-tempat yang menyesatkan dalam jiwa anak. Agamalah sebaik-baik penunjuk jalan bagi muda-mudi supaya memiliki sifat malu, tidak memakai pakaian yang seronok, serta tidak meniru wanita asing mengenai hal yang tidak pantas.
Pendek kata, kebahagiaan dan kejayaan bangsa bergantung pada kaum ibu yang shalih dan remaja putri yang baik, sebab, merekalah yang akan melahirkan bagi suatu bangsa anak-anak yang shalih dan individu yang berguna dan intelektual terbaik. Dari merekalah akan muncul suatu umat yang saleh dan bangsa yang mulia.

Perkembangan Sejarah

Kalau kita melihat ke belakang, bagaimana eksistensi wanita sebelum datangnya Islam ke permukaan bumi, maka kita akan menemukan, bahwa, kaum wanita pada waktu itu sangat tidak dihargai sekali. Mereka sama halnya seperti barang dijual, diwariskan, dan disuruh bekerja dengan kasar. Layaknya seperti binatang, yang diusir dari rumah ketika datang bulan, seakan akan mereka hanya mengotori rumah.
Kalau kita melihat bagaimana para Filosof terdahulu menghina kaum wanita dan merendahkan kedudukannya. Coba kita perhatikan guru pertama, Aristoteles,9 eyang para Filosof, yang berpendapat bahwa, ‘wanita tidak berhak mengenyam pendidikan, bahkan tidak layak menerimanya, kecuali menyangkut cara-cara mengatur dan mengurus rumah tangga saja.’ Malah kata Aristoteles, ‘kalau wanita diberikan hak yang lebih banyak lagi, maka hal itu menjadi pertanda akan musnah dan hancurnya suatu negara.’
Rousseau10 berpendapat bahwa, ‘wanita bukanlah makhluk yang berdiri sendiri. Tetapi, wanita adalah bagian pelengkap bagi tabiat laki-laki. Wanita diciptakan untuk membahagiakan dan melayani laki-laki, tak lebih dari itu. Kalau bukan untuk itu, tidak ada artinya keberadaan wanita.’ Schopenhauer11 memandang wanita lebih rendah daripada pria dalam soal akal, akhlak, dan pemikiran. Wanita itu otaknya melempem, akhlaknya kotor, dan tabiatnya jelek atau keterlaluan. Hanya bisa menipu, mengelabui, munafik, dan mubazir. Orang-orang yang mubazir adalah temannya setan.
Peron,12 seorang inggris, pernah mengatakan bahwa, wanita wajib memperhatikan rumah. Sementara kita wajib berbuat baik kepada mereka dalam soal makanan dan pakaian. Tetapi, mereka tidak boleh membaurkan diri dengan masyarakat. Kalau mereka belajar sesuatu, maka hendaklah yang ia pelajari agama, tetapi dengan catatan mereka tidak boleh mengenal syair dan politik, serta tidak boleh membaca selain buku-buku tentang ibadah dan makanan saja.
Demikian pandangan filosof tentang wanita. Sekarang mari kita lihat bagaimanakah keadaan wanita menurut sejarahnya yang ada pada dunia.
Di Yunani13 wanita sangat lemah, mereka tidak tinggal di rumah, jauh dari peradaban, tidak mendapat bagian sedikit pun dalam kehidupan. Mereka sangat terhina, sehingga ada yang menyebutnya sesuatu yang najis. Sedangkan dari perspektif hukumnya, wanita bagi mereka, hanya sebagai pemuas hawa nafsu yang dapat diperjualbelikan di pasar, mereka juga tidak diberi hak dalam hal waris. Pada puncak peradaban Yunani, laki-laki dan perempuan bercampur aduk dalam kehidupan masyarakat. Maka, menyebarlah kekejian sehingga mereka menganggap zina itu bukan suatu perbuatan yang munkar. Sampai pada masa wanita mengenyam masa kelaliman politik dan sastra, kemudian mengambil dan mementaskan wanita di dunia perfilman dengan busana telanjang dengan mengatasnamakan sastra dan seni.
Sedangkan di Romawi,14 seorang ayah tidak harus menerima dan menggolongkan seorang anak –baik laki-laki maupun perempuan– ke dalam keluarga. Akan tetapi, anak yang baru lahir tersebut diletakkan di telapak kakinya, jika ia mengangkatnya dan menggendongnya, berarti dia menerima anak itu dan menggolongkannya sebagai keluarganya, kalau tidak, berarti ia menolaknya. Setelah itu anak tersebut di bawah ke lapangan dan membuangnya disana, jika ada yang menginginkannya boleh mengambilnya–jika laki-laki–, kalau tidak yah anak itu akan mati kelaparan dan kehausan, serta disengat dengan panasnya terik matahari atau dinginnya musim dingin. Kepala keluarga berhak memasukkan siapa saja ke dalam anggota keluarganya, dan mengeluarkan anaknya dengan cara menjualnya.
Orang India15 terdahulu berpendapat bahwasanya manusia itu tidak boleh menuntut ilmu. Sedangkan wanitanya dalam Undang-undang Mono, wanita tidak mempunyai hak kebebasan dari belenggu ayah, suami dan anaknya. Jika seluruhnya meninggal dunia, maka ia wajib menisbatkan dirinya kepada orang terdekat suaminya. Dia juga tidak mempunyai hak untuk hidup setelah kematian suaminya. Akan tetapi, ia harus mati juga bersamaan dengan kematian suaminya, ia dibakar hidup-hidup ditempat suaminya dibakar. Adat seperti ini terus berlanjut sampai abad ke-17.
Orang-orang Jerman mempertaruhkan istri-istrinya di meja judi. Dalam masyarakat Cina, jika seorang suami mati, maka istrinya tidak boleh lagi menikah sepanjang hayatnya. Lain lagi dengan orang Sparte yang wanitanya boleh bersuami lebih dari satu orang. Tradisi yang jelek ini cukup banyak mendapat sambutan dan diterima oleh banyak wanita. Menurut undang-undang Romawi, wanita tidak layak berbuat sesuatu sepanjang hidupnya, persis bayi. Segala urusannya harus diwakilkan oleh kepala rumah tangga. Sementara menurut undang-undang Perancis, wanita tidak layak atau tidak berhak melakukan akad perjanjian tanpa restu dan izin suaminya.16
Yang lebih aneh lagi beberapa negara bagian Perancis pernah menyelenggarakan suatu pertemuan pada tahun 586M yang membahas masalah apakah wanita dianggap manusia atau bukan? Dari topik pembicaraannya saja seakan-akan wanita itu diragukan kedudukannya seperti manusia. Setelah dibahas dan dibicarakan panjang lebar, bahkan terjadi dialog dan debat sengit antara para peserta, akhirnya mereka sampai pada satu keputusan, yaitu, bahwa wanita adalah manusia, tetapi, manusia hina yang hanya diciptakan untuk melayani pria semata, tidak lebih.17
Sebagian kelompok Orang Yahudi menyamakan kedudukan anak perempuan dengan seorang pembantu, dan ayahnya mempunyai hak untuk memperjualbelikannya. Dia tidak mendapatkan hak waris, kecuali ayahnya tidak mempunyai anak atau saudara laki-laki, kalau tidak, maka ia tidak akan pernah mendapatkan warisan dari ayahnya. Dan saudaranya yang laki-laki berhak mendapatkan nafkah dan mahar dalam pernikahannya. Dia mendapatkan perabot rumah tangga, jika seorang ayah meninggalkannya, sedangkan jika peninggalannya berupa harta maka dia tidak mendapatkan apapun dari nafkah dan mahar walaupun yg ditinggalkan tersebut harta yang melimpah.18
Menurut orang kristen seorang perempuan harus bertanggungjawab segala persoalan yang terjadi di masyarakat, karena ia di keluarkan untuk masyarakat. Dinikmati oleh siapapun yang menginginkannya dan menyatu dengan laki-laki seenak mereka. Mereka menetapkan bahwasanya menikah itu adalah suatu perbuatan yang kotor yang harus dijauhi. Dan mereka menganggap itu adalah pintu setan dan seorang perempuan harus malu dengan kecantikannya karena itu adalah senjata iblis untuk memfitnah dan menghasut. Al-Qadis19 Sustam20 berkata, ‘mereka–perempuan– adalah suatu kejelekan, dan menyebabkan malapetaka, berbahaya bagi kehidupan keluarga dan rumah tangga, suka membunuh, dan penyebab suatu penyakit yang parah.’ Al-Qadis Tirtolian21 juga berkata, “Mereka adalah tempat masuknya syaitan ke tubuh manusia, membuat cacat wahyu Allah dan mengingkari ciptaan Allah yaitu laki-laki.”
Pada abad ke-15 pernah diadakan pertemuan untuk membahas masalah Apakah perempuan itu hanya sekadar sesosok tubuh yang tidak mempunyai ruh atau memiliki ruh? Setelah pertemuan, mereka menetapkan mereka tidak mempunyai ruh yang selamat(dari api neraka) kecuali ibunya al-Masih.22
Sementara di kalangan orang Arab, meskipun wanita mereka beri kebebasan yang cukup memadai, mereka masih saja menindas, menganiaya dan menyiksa kaum wanita. Mereka mewarisi wanita secara paksa. Jika ada seorang laki-laki yang meninggal dunia, anak lelaki tertuanya melemparkan pakaian bapaknya kepada istri bapaknya seraya berkata, “Aku mewarisinya–istri bapaknya– sebagaimana aku mewarisi hartanya.” Anak tertua ini bisa memiliki bekas istri bapaknya, sedangkan wanita yang malang ini tidak bisa berbuat apa-apa untuk dirinya. Anak tertua laki-lki yang meninggal ini, jika berminat mengawini, bisa mengawini bekas istri bapaknya atau mengawinkannya dengan laki-laki lain untuk mendapatkan maskawinnya. Atau, dia melarang mantan istri bapaknya untuk menikah lagi sampai ia mati agar ia mewarisi hartanya. Orang-orang Arab jahiliah biasanya melarang wanita janda menikah lagi. Begitu juga pewarisnya melarang menikah sampai ia menentukan jodohnya, tidak peduli apakah janda yang bersangkutan suka atau tidak. Mereka juga bisa mengawini dua perempuan bersaudara. Bahkan, ada sebagian mereka yang menikah dengan anak perempuannya.23
Dahulu, juga memiliki kebiasaan menikah yang tidak ada batasannya. Akan tetapi, ketika Islam datang, mereka disuruh menceraikan istri mereka dan diperintahkan untuk memilih empat saja dari mereka. Sebagaimana yang tercantum dalam al-Qur’an (QS. al-Nisa’,4:3).
Pada zaman fir’aun, wanita sangat menikmati sekali kebebasan yang diberikan kepadanya, baik eksistensinya di masyarakat, maupun di keluarga. Yang mana, waktu itu orang Mesir belum mengenal ikhtilath dan hijab. Mereka pergi ke manapun dengan bebas, dan berbicara kepada siapa pun yang ia kehendaki.24
Konon Hajib bin Zurrah,25 seorang pemimpin dari Bani Tamim, menikah dengan putrinya, lalu melahirkan anak yang kemudian diberi nama Dakhtanus, yaitu nama putri kaisar. Begitu juga, masyarakat Arab jahiliah dulu sangat benci kepada anak perempuan. Dan mengubur anak perempuan karena malu menanggung malu dan takut miskin, disebabkan lemahnya wanita dan tidak bisa ikut dalam peperangan, dan tidak dapat mencari rezki sendiri. Seperti yang termaktub dalam al-Qur’an Allah swt. berfirman,
“Dan apabila seorang dari mereka diberi kabar dengan(kelahiran) anak perempuan, hitamlah(merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah ia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.”26

Dari ayat tersebut, kita bisa mengambil kesimpulan, bahwasanya, Islam melarang bagi manusia untuk menguburkan anak perempuannya yang baru lahir, karna itu adalah nikmat Allah yang diberikan kepada manusia yang patut disyukuri. Dan anak perempuan bukanlah sesuatu yang aib, karena dari merekalah akan muncul pemimpin-pemimpin bangsa. Sehingga, hadits menekankan dan melarang keras manusia untuk mengubur anak perempuan mereka yang baru lahir. Rasul saw. bersabda,
“ Sesungguhnya Allah melarang kepada kalian durhaka kepada orang tua, dan mengubur(hidup-hidup) anak-anak perempuan, melarang(apa yang Allah tidak melarangnya) dan melarang(meminta apa yang tidak berhak ia minta), dan dibenci bagi kamu sekalian untuk qila wa qala (memberikan berita apa yang ia dengar dan seraya berkata: katanya begini dan begini, tanpa mengetahui siapa yang berkata), banyak bertanya, dan menimbun harta”.27

Pada abad ke-6 Masehi setelah kelaliman yang melanda perempuan di seluruh dunia, di Mekah lahirlah seorang nabi yang meletakkan kebenaran untuk menghormati kaum hawa, dan memberikan hak-haknya dengan sempurna, dan mengangkat derajatnya yang mana dahulu hanya sebagai pemuas hawa nafsu dan pembuat fitnah dan menjadikan perempuan bagian dari masyarakat dan menjaga keselamatannya.

Hak Wanita Dalam Islam

Islam sebagai agama yang dibawa Rasul saw. telah mempunyai andil dalam menjaga hak-hak kaum wanita, antara lain28 : pertama, bahwasanya wanita itu seperti pria dalam segi kemanusiaannya. Walaupun pria diangkat dan dilebihkan satu derajat oleh Allah. Akan tetapi, sama di mata Allah swt. dari segi kemanusiaan mereka. Allah swt. berfirman, ”Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu.”29 Dan Rasul saw. bersabda, “Wanita adalah saudaranya laki-laki.”30 Dan dari ayat ini kita bisa mengambil kesimpulan bahwasanya laki-laki dan wanita diciptakan dari tubuh yang satu. Sangat tidak masuk akal sekali jka sebagian orang eropa mengatakan, “Bahwasanya kaum muslimin tidak mengakui bahwasanya wanita itu mempunyai ruh sebagaimana halnya pria. Hal ini langsung dibantah oleh penjelajah Perancis Gerardy Nerval yang hidup lama di Timur. Beliau menyatakan, bahwasanya itu tidak benar adanya.31 Islam sangat adil terhadap memberikan hak terhadap wanita. Islam juga menyamakan pria dan laki-laki dari segi pahala dan dosa.(QS. al-Nisa’ : 24, al-Taubah : 72, al-Nahl : 97, al-Ahzab : 35-36 dan 73, Muhammad : 19 dan al-Fath : 5-6).
Kedua, menangkal fitnah dan tidak menjadikan penyebab keluarnya Adam dari Surga hanya bersumber dari diri Hawa, akan tetapi, akibat dari keduanya. Allah swt. berfirman, ”Lalu keduanya digelincirkan syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula.”32 Begitu juga pada QS. al-A’raf : 20 dan 23, dan QS. Thaha : 121.
Ketiga, dia adalah ahli ibadah dan agama serta masuk surga jika berperilaku baik, jika tidak maka akan di adzab. Sama seperti halnya pria. Allah swt. berfirman, ”Barang siapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, sesungguhnya akan kami berikan kepada mereka kehidupan yang baik. Dan sesungguhnya akan kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebh baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” Begitu juga yang termaktub dalam surat al-‘Imran : 195, dan surat al-Ahzab : 35.
Keempat, Islam menghapuskan rasa sial dan sedih ketika dia dilahirkan, sebagaimana keadaan orang Arab yang masih melekat pada diri ibu dan sebagian orang barat. Allah swt. mencerca keadaan yang seperti ini dalam al-Qur’an, ”Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan(kelahiran) anak perempuan, hitamlah(merah padamlah) muka mereka, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah(hidup-hidup)? Ketahuilah alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.”33
Kelima, Islam mengharamkan menguburnya(hidup-hidup) dan menganggap hal tersebut perbuatan yang sangat keji dan harus ditinggalkan. Allah swt. berfirman, ”Apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh?”34 Dan Allah juga berfirman dalam surat lain, ”Sesungguhnya rugilah orang yang membunuh anak-anak mereka karena kebodohan lagi tidak mengetahui, dan mereka mengharamkan apa yang telah Allah telah rezkikan kepada mereka dengan semata-mata mengada-adakan terhadap Allah. Sesungguhnya mereka telah sesat dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.”35
Keenam, memerintahkan untuk menghormatinya dan mengasihinya, baik dia seorang anak, atau istri, atau lebih-lebih dia seorang ibu. Rasul saw. bersabda, “lelaki manapun yang mempunyai anak perempuan, jika ia mendidiknya, maka, didiklah dengan sebaik-baiknya, jika ia mengajarkannya, maka, ajarilah dengan sebaik-baiknya.” Sedangkan menghormati istri nash al-Qur’an menyebutkan tata caranya. Allah swt. berfirman, “Dan di antara kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu kasih dan sayang.”36 Dan Rasul saw. bersabda, “Sebaik-baik perhiasan dunia adalah istri yang shalihah, jika engkau memandangnya maka kamu merasa senang, jika kamu pergi dia menjaga—harta–mu.”37 Sedangkan penghormatan terhadap ibu terdapat banyak sekali ayat dan hadits yang menjelaskan. Seperti Allah swt. berfirman, “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua ibu bapaknya, ibunya mengandung dengan susah payah.”38 Dan hadits yang saya sebutkan di awal pembahasan tentang seseorang yang datang kepada Rasul menanyakan tentang orang yang paling utama diperlakukan dengan baik adalah ibu. Dari hadits yang lain disebutkan, ketika salah seorang datang kepada Rasul saw. dan berkata : “Wahai Rasul, saya ingin berjihad dijalan Allah, maka Rasul saw. berkata kepadanya, “Apakah ibumu masih hidup?” ia menjawab : ya, kemudian Rasul bersabda, “Rawatlah dia maka kamu akan masuk surga.”39
Ketujuh, mendidiknya secara baik seperti halnya laki-laki, seperti hadis Rasul tadi, “laki-laki manapun yang mendidik anaknya maka didiklah sebaik-baiknya.” Dan hadis lainnya juga menyebutkan, “Menuntut ilmu itu wajib hukumnya bagi seorang muslim.”40
Hadits ini saya rasa hampir seluruh muslim tahu, ada hadits lain yang menambahkan lafazh ‘muslimah’ akan tetapi riwayatnya tidak benar, namun makna dari hadis itu benar, yaitu, ulama bersepakat bahwa setiap sesuatu yang diharuskan diketahui oleh laki-laki harus diketahui juga oleh wanita. Begitu juga kata al-Hafidz al-Sakhawi dalam al-Maqâsid al-Hasanah hal : 277.
Kedelapan, memberikan hak waris, baik itu ibu, istri, atau anak perempuan besar atau kecil atau masih dalam kandungan ibunya.
Kesembilan, diaturnya hak suami istri, dan memberikan hak sebagaimana haknya seorang laki-laki, dengan laki-laki sebagai kepala keluarga yang mana hak tersebut bukanlah sesuatu yang zhalim. Allah swt. berfirman, “Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan dari pada istrinya.”41
Kesepuluh, mengatur tata cara thalaq, dengan melarang penyimpangan dan pembangkangan laki-laki dalam hal thalaq dengan memberikan batas tiga kali yang tidak boleh dilanggar. Sebagaimana orang Arab dahulu tidak mempunyai batas dalam hal ini, dan memberikan batasan waktu untuk kembali.
Kesebelas, membatasi poligami–maksimal empat orang– yang mana dahulu adat Arab tidak membatasi hal tersebut. Dan berpoligami pun mempunyai syarat sebagaimana Abdul Halim Abu Syuqqah menyebutkan dalam bukunya ‘Tahrîru al-Marati’ Sebagaimana para sahabat juga pernah melaksanakan hal ini. Dan saya kira tujuan dari poligami ini jangan kita memandang begitu sempit, karena menurut penulis di sana ada makna tersendiri kenapa hanya boleh laki-laki saja yang boleh memiliki istri lebih lebih dari satu, sedangkan wanita tidak. (baca : poligami dalam Islam).
Kedua belas, menetapkan urusan–sebelum masa balignya– di bawah naungan walinya, naungan tersebut adalah naungan penjagaan, pendidikan, mengatur urusannya, dan mengembangkan hartanya, bukan naungan memiliki dan menyimpangkannya. Setelah masa baligh, ia mempunyai hak atas harta tersebut sebagaimana laki-laki.

Apakah Wanita Dan Pria Itu Sama?

Ketika saya membaca makalahnya seorang feminisme Indonesia Dr. Siti Musdah Mulia, MA. Saya memandang bahwasanya di sana terdapat keinginan untuk persamaan kesetaraan antara wanita dan laki-laki dari segala aspek dan menolak fakta sejarah yang menyatakan bahwasanya wanita tercipta dari tulang rusuknya laki-laki dan lain sebagainya. Sekarang saya akan mencoba mengulas dengan menjawab pemahaman yang demikian sempit terhadap ketetapan Islam, agar kita tidak terjerumus kepada kesalahpahaman yang mana seakan-akan apa yang disampaikan oleh mereka itu benar. akan tetapi, dibalik itu semua adalah penolakan terhadap kodrat yang telah Allah tetapkan kepada kita.
Dr. Siti Musdah Mulia, MA menulis,42 ”Salah satu penyebab ketimpangan gender tersebut dari perspektif agama adalah rendahnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat mengenai nilai-nilai agama yang menjelaskan peranan dan fungsi perempuan; dan masih banyaknya disosiolasikan penafsiran agama yang merugikan kedudukan dan peranan perempuan. Di antara pemahaman agama yang bias dan kemudian membawa implikasi kepada ketimpangan gender adalah sebagai berikut. Pertama, pemahaman tentang asal-usul penciptaan manusia. Umumnya muballigh dan mubalighat menjelaskan manusia yang pertama yang diciptakan Tuhan adalah Adam As. selanjutnya Hawa istrinya diciptakan dari tulang rusuk Adam a.s.. pemahaman seperti ini mengacu kepada surat al-Nisa’ ayat pertama. Pemahaman yang demikian membawa implikasi yang luas dalam kehidupan sosial. Karena Hawa, selaku wanita pertama, tercipta dari bagian tubuh laki-laki, yaitu Adam As., lalu perempuan itu diposisikan sebagai subordinat laki-laki. Dia adalah the second human being, manusia kelas dua. Perempuan bukanlah manusia yang penting, dia hanyalah makhluk pelengkap yang diciptakan dari dan untuk kepentingan laki-laki. Konsekuensinya, perempuan tidak pantas berada di depan, tidak pantas menjadi pemimpin dan seterusnya. Kedua, pemahaman tentang kejatuhan Adam as. dan Hawa dari surga. Di masyarakat disosialisasikan bahwa Adam a.s. jatuh dari surga akibat godaan Hawa, istrinya terlebih dahulu terpengaruh oleh bisikan iblis. Implikasi dari pemahaman ini bahwa perempuan itu hakikatnya adalah makhluk menggoda dan dekat dengan iblis. Karena itu, jangan terlalu dekat dengan perempuan dan jangan dengar pendapatnya sebab akan menjerumuskan ke neraka. Perempuan mudah sekali dipengaruhi dan diperdayakan. Karenanya, ia tidak boleh keluar tanpa muhrim, tidak boleh jalan sendirian, dan tidak boleh keluar malam. Lebih baik baginya ia tinggal di rumah saja mengurus rumah tangga, tidak perlu sekolah tinggi-tinggi dan tidak perlu aktif di masyarakat.”
Kalau kita perhatikan makalahnya tersebut, penulis menilai bagaimana sempitnya prediksi beliau dalam menilai kedudukan wanita yang ditetapkan dalam Islam. Penulis akan mencoba menjelaskan bagaimana sebenarnya kedudukan wanita yang Islam telah berikan kepada kaum wanita—sebagaimana yang saya jelaskan pada bab sebelumnya–. Apakah segitu sempitnya Islam memberikan kedudukan bagi kaum wanita dengan memandang wanita sebagai makhluk pelengkap dan apa yang keluar dari mereka selalu jelek dan tidak pantas diambil. Kita bisa meneliti kembali bagaimanakah peran wanita ketika Islam datang, mereka berpolitik, mereka bermasyarakat dan kedudukan mereka sangat dihormati.
Pada bab awal saya telah menjelaskan bagaimana peranan wanita dalam sebuah negara sangat besar sekali dan Islam mengangkat derajatnya. Memberikan kebebasan bagi wanita dengan menempatkan wanita kepada tempat yang sebenarnya. Pertama saya akan menjawab apa yang telah dilontarkan oleh Dr. Siti Musdah Mulia, MA. Seharusnya kita jangan menganggap bahwa diciptakannya Hawa dari tulang rusuk Adam As. adalah wanita sebagai wanita pelengkap, keduanya adalah saling melengkapi. kita ketahui bahwasanya dalam Islam wanita dan pria itu sama kedudukannya dari segi kemanusiaannya di mata Allah, hanya yang membedakan ialah ketaqwaan seseorang saja. Cuma, laki-laki diangkat satu derajat untuk memimpin dikarenakan perbedaan tabiat, itu saja. Selanjutnya, apakah itu yang di anggap wanita sebagai pelengkap. Kedua, bahwasanya kejatuhan Adam As. disebabkan oleh Hawa itu benar, sejarah membuktikan. Akan tetapi al-Qur’an juga memaparkan bahwasanya kejatuhannya Adam a.s. adalah akibat mereka berdua, Allah tidak hanya menyalahkan Hawa. Tapi, bukan berarti wanita dekat dengan syaitan dan wanita itu jelek tanpa melihat wanita yang baik. Wanita memang menggoda kecuali wanita yang shalihah. Kalau kita melihat dan membaca kembali bahwa bukankah penghuni neraka itu kebanyakan adalah wanita? Kalau kita melihat dari jumlah wanita di dunia ini perbandingan antara wanita dan laki-laki itu antara 1 laki-laki banding 4-5 perempuan. Itu kalau kita melihat dari segi kuantitas.
Gejala lain yang menyebabkan kaum wanita terjerumus ke neraka adalah pembangkangan mereka terhadap suami, tidak mengakui jasanya. Kadang-kadang wanita–tidak semuanya– membebankan kepada suaminya sesuatu yang tidak bisa ia pikul. Kaum wanita banyak memakai pakaian yang tidak pantas, mengingkari fungsi mereka dalam kehidupan, berperilaku seperti kelakuan wanita jahiliah. Sungguh menyedihkan keadaan wanita sekarang ini, ketika adat barat datang dengan pakaian yang seronok, kaum wanita seharusnya tidak menerima mentah-mentah hal tersebut. Yang mana dahulu timur sangat menjaga etika, akan tetapi ketika eropa datang dengan adat barunya dengan mengulang adat zaman jahiliah dulu, wanita kita secara tidak sadar telah ikut kepada hal yang tidak baik. Seharusnya kita bisa mengambil sesuatu dari mereka hal positif saja, jangan hal yang negatif dan positifnya kita acuhkan. Alangkah baiknya jika yang kita ambil dari mereka itu hanya sekadar kemajuan ilmu saja, baik dari bidang ekonomi, politik, teknologi dan discovery (penemuan) dan hal yang positif lainnya. Begitu juga kita lihat keadaan mahasiswi sekarang, jarang sekali kita lihat mereka yang memakai pakaian rapi sehingga enak dipandang dan tidak memancing orang untuk tidak berbuat jahat. Mungkin pembahasan ini akan panjang kita bahas akan tetapi intinya di situlah kenapa yang paling banyak manusia yang masuk neraka adalah kaum wanita.
Kita tidak bisa menyamakan pria dan wanita dalam segala hal, kita seharusnya bisa menempatkan sesuatu pada tempatnya. Kita bisa melihat bagaimana perbedaan keduanya sangat mendasar. Perbedaan yang bisa kita lihat dari keduanya adalah, Pertama, antara pria dan wanita adalah wanita dapat hamil, melahirkan, dan menyusukan. Selama masa hamil, melahirkan, dan menyusukan ini dia menghadapi beberapa tugas berat yang telah ditakdirkan kepadanya. Selama ini juga ia tidak bisa mengatakan bahwa antara pria dan wanita itu sama.
Kedua, secara ilmiah postur tubuh wanita lebih kecil dibandingkan dengan tubuh pria. Bahkan dalam semua bidang, wanita lebih kecil dibandingkan dengan pria. Kepalanya lebih kecil, dadanya lebih sempit, dan ciptaan tubuh wanita lebih lembut dari pada pria. Kulitnya juga sangat berbeda dengan kulit pria. Kulit wanita licin dan halus, sementara kulit pria kasar dan keras. Namun demikian, rambut wanita lebih subur dibandingkan dengan pria, sebab dengan rambut yang subur ia akan kelihatan lebih cantik. Kemudian, otot wanita lebih lunak daripada otot pria. Wanita lebih mudah mencintai, cemburu, dan iri dan tingkatnya sangat tinggi. Hal ini terlihat dalam mencintai anak-anaknya dan memusuhi lawan-lawannya.43
Mengingat wanita itu diciptakan untuk berperan menemani pria dalam memerankan tugas yang ada di bumi ini, seiring dengan itu berubah pula susunan anggota tubuh mereka, maka wanita mengalami penyakit khusus yang tidak dialami kaum pria. Perbedaan dalam bidang anatomi ini diikuti pula oleh perbedaan dalam penetapan hukum. Pembuat hukum menetapkan hukum yang berbeda bagi pria dan wanita dalam banyak hal, sesuai dengan perbedaan alamiah dan kejiwaan pada setiap jenis.44 Setelah semua itu, apakah orang masih memiliki seberkas akal dalam kepalanya dan bersikeras untuk menuntut persamaan pria dan wanita, serta memutar balikkan sistem yang telah digariskan oleh Allah, ditetapkan oleh hukum alam, dan dibutuhkan oleh kepentingan umum.

Pemimpin Wanita, Bolehkah?

Hal ketiga yang saya kritisi dari beliau adalah beliau tidak menerima keberadaan wanita yang tidak boleh menjadi pemimpin, dan menolak ayat dan hadits yang menyatakan ‘pria adalah pemimpin kaum wanita’ disebabkan oleh beberapa hal. Bagi penulis sendiri, beliau adalah seorang agamis akan tetapi tidak mengakui apa yang diberikan dan ditetapkan Allah kepada beliau, seakan-akan pencipta ini tidak adil. Mari kita membahas ayat dan hadits berikut ini beserta alasan-alasannya.
Pertama, Allah swt. berfirman, ”Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka(laki-laki) atas sebahagian yang lain(wanita).45 Kelompok pertama menafsirkan, bahwasanya kepemimpinan itu hanya terbatas untuk kaum laki-laki, disebabkan laki-laki memiliki keutamaan mem-planning, pendapat, dan kekuatan. Selama laki-laki masih mampu mengembannya maka ini tidak boleh diemban oleh wanita. Ada juga yang mengatakan bahwasanya permasalahan ini khusus pada kepemimpinan dalam keluarga, dan yang lebih penting lagi tentang hal ini adalah bahwasanya wanita itu lemah dalam mengatur urusan manusia secara umum. Kelompok yang lain menafsirkan, bahwasanya relasi antara laki-laki dan perempuan itu sekitar problematika umum, artinya ayat ini berhubungan dengan pemerintahan.46
Kedua, perbedaan pendapat mengenai hadits Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Abi Bakrah, seraya berkata, “Tatkala Nabi saw. dikabarkan bahwa Persi menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada anak perempuan kaisar, Beliau bersabda, “tidak akan pernah bahagia suatu kaum jika urusannya dipimpin oleh wanita.”47
Kelompok pertama berpendapat, bahwasanya hal tersebut mencakup seluruh aspek pemerintahan. Sedangkan Kelompok kedua mengatakan itu dikhususkan untuk kepemimpinan secara umum bukan yang lainnya. Akan tetapi ilmuwan kontemporer mengingkari kebenaran hadits ini, mereka berpendapat bahwasanya hadis ini maudhu’ dan tidak benar dari dari Nabi, kalaupun benar maka, hadits itu ahad. Maka dari itu, ini tidak bisa dijadikan undang-undang.48 Akan tetapi, sebagian ulama’ kontemporer berpendapat bahwasanya hal tersebut hanya berkisar pada kepemimpinan umum–presiden– saja, sebagaimana Dr. Muhammad Biltaji mengatakan dalam bukunya ‘Makanatu al-Marati fi al-Quran wa al-Sunnah’.
Dan hadis ini diperkuat lagi oleh hadits yang lain sebagai alasan mengapa wanita tidak boleh menjadi pemimpin. Hadits ini menjadi sandaran oleh kebanyakan orang. Rasulullah saw. bersabda, ”Wahai kaum Wanita bersedekahlah kalian, bahwa aku telah diperlihatkan kebanyakan dari kalian adalah penghuni neraka, mereka berkata : kenapa ya Rasul ?Beliau berkata : kalian banyak melaknat(mencaci maki) dan mengingkari kebaikan keluarga , saya tidak pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya selain kalian, kami bertanya : apa kekurangan agama dan akal kami wahai Rasul saw.?Rasul berkata : Bukannya kesaksian wanita itu setengah dari kesaksiannya laki-laki? mereka berkata : Benar. Beliau berkata : maka itulah kekurangan akalnya. Bukankah jika haid mereka tidak shalat dan puasa? Kami berkata : ya, Beliau berkata : Maka itulah kekurangan agamanya.”49 Akan tetapi kebanyakan orang yang menuntut untuk penyamaan antara laki-laki dan wanita tidak mengakui keberadaan hadits ini. Karena menurut mereka hadits ini telah menjatuhkan martabat wanita.
Ulama terdahulu juga telah membahas masalah tentang ketidakbolehannya wanita menjadi pemimpin, seperti kita lihat pada buku-buku politik Islam yang mereka karang. Sa’id Hawa50 mengatakan, “Syarat menjadi pemimpin adalah laki-laki, karena menurut tabiatnya perempuan tidak diperkenankan menjadi pemimpin, sebagaimana Islam melarangnya. Dengan dalil sabda Rasul saw., “Tidak akan bahagia suatu kaum jika membebankan urusannya kepada wanita.” Dalam riwayat yang lain, “Tidak akan bahagia suatu kaum jika perempuan memimpin urusan mereka.”51 Hadis ini disebabkan pada waktu itu di Paris52 menyerahkan tajuk kepemimpinan kepada wanita. Maka dari itu Rasul saw. langsung memberikan peringatan bagi kaum muslimin.
Mari kita bahas alasan mengapa al-Qur’an hadits mengatakan demikian. Coba kita lihat eksperimen-eksperimen ilmiah sebagai patokannya. Kita letakkan wanita di timbangan, lalu kita analisis unsur-unsur yang darinya itu berbentuk sifat dan tabiat wanita. Kemudian, kita bandingkan unsur-unsur serupa yang terdapat pada pria, untuk mengetahui apakah keduanya sama.
Ilmu anatomi53 membuktikan bahwa perangkat otot pada pria lebih kuat dari pada wanita dengan tingkat perbedaan yang cukup mencolok. Hal itu terlihat jelas pada suku primitif, yang mana kaum wanitanya ikut bersama kaum pria berburu, mengejar mangsa, dan berperang. Hal itupun dapat dilihat pada masyarakat yang sudah maju dan berbudaya. Ini yang pertama. Kemudian, dari segi postur tubuh. Umumnya kaum wanita lebih pendek 12 cm, beratnya lebih ringan sekitar 5 kg, dan gerakannya lebih lamban dari kaum pria. Begitu juga jantung, Jantung adalah sentral kekuatan yang paling vital bagi tubuh manusia. Kekuatan jantung seorang lelaki lebih kuat kesehatannya dan kekuatannya dari jantung wanita. Jantung yang sehat ukurannya lebih besar dan timbangannya lebih berat. Ternyata jantung wanita manapun lebih ringan timbangannya sekitar 60 gram dan ukurannya lebih kecil.
Kemudian, dari segi alat-alat indra. Professor Zikoles dan Beylie membuktikan melalui penelitiannya bahwa wanita tidak bisa mencium aroma lemon kecuali bila kadarnya dua kali lipat dari yang bisa dicium oleh pria. Sentuhan dan rabaan kaum pria lebih kuat dari pada kaum wanita. Dua orang pakar Lombrezor dan Sergie menjelaskan bahwa wanita lebih kuat menahan rasa perih dibanding dengan pria. Hal ini menunjukkan bahwa indra rasanya lebih lemah dibandingkan dengan pria. Lombrezor berkata, ”Ini merupakan keuntungan bagi kaum wanita. Sebab, wanita sering sekali menghadapi rasa perih seperti saat mengandung, melahirkan, dan menyusui anak. Seandainya tingkat sensitivitasnya sama dengan pria, pasti wanita tidak mampu menanggung semua itu.”54
Mengingat lemahnya tubuh wanita dan lebih sedikitnya jumlah syarafnya, maka wanita lebih mudah tergoncang dibandingkan dengan pria. Eksperimen membuktikan bahwa otak pria lebih berat dari pada otak wanita sekitar 100 gram menurut ukuran sedang. Di samping itu, pusat-pusat saraf pada pria lebih baik susunannya daripada wanita.55 Rofarini56 berkata, “Hal ini membuat wanita lebih cepat bereaksi dan terpengaruh ketika menghadapi masalah yang cukup berat.” Dapat pula ditambahkan bahwa perbandingan berat otak pria dan berat badannya adalah 1:40, sementara wanita 1:44.57 Begitu pula tutur bahasa dan cara berfikir pria menunjukkan kekayaan pengalaman dan keluasan.
Perbedaan yang lain yang cukup berarti terdapat pada esensi ‘otak pintar’ yang merupakan pusat penangkapan dalam otak.58 Arti semua itu adalah bahwa daya tangkap otak pria lebih hebat daripada wanita, meskipun masalah ini masih menjadi pusat perdebatan di kalangan para pakar kejiwaan yang selalu sibuk membahas masalah kecerdasan manusia. Namun, pada umumnya mereka berpendapat tidak ada perbedaan antara pria dan wanita dalam soal kecerdasan. Perbedaan keduanya lebih terkonsentrasi pada tabiat. Cuma ini saja dan tidak lebih, pria lebih cenderung melakukan kegiatannya di luar rumah, di tengah masyarakat ditempat dia tinggal, sementara wanita sebaliknya. Akan tetapi, kalau kita ukur pula dari segi kemampuan jasmani, rohani. Akhlak, dan sosial, maka hasilnya adalah kemampuan wanita dua pertiga dari kemampuan pria.59
Para pakar mengasumsikan dalam setiap masyarakat terdapat tiga unsur: pekerjaan, ilmu pengetahuan, dan keadilan. Nilai kemampuan dan pria masing-masing unsur juga dua berbanding tiga. Kalau kita buatkan perbandingan matematis mengenai nilai yang diperoleh masing-masingnya dari kemampuan kerja, ilmu, dan keadilan adalah sebagai berikut.
Pria : 3 x 3 x 3 = 27
Wanita : 2 x 2 x 2 = 860

Dengan demikian, nilai sosial wanita hanyalah sekitar sepertiga nilai pria. Setelah mengetahui data-data tersebut apakah kita masih membiarkan kaum wanita memberontak terhadap hukum alam dan peraturannya untuk menuntut persamaan dalam segala aspek. Jadi, menurut penulis apa yang Allah tetapkan di muka bumi ini bukan hanya sekadar untuk dibaca, juga ditaati. akan tetapi disana masih lebih banyak alasan yang tersimpan dibalik ini semua, yang mana, penulis belum mampu mengungkapkan secara mendetail. Jadi, menurut penulis kita harus mensyukuri ketetapan yang telah ditetapkan, karena pencipta itu tahu yang lebih baik untuk makhluknya.
Walaupun demikian wanita adalah separo masyarakat.61 Namun demikian sudah ribuan tahun dilalui oleh manusia, pada kenyataannya perasaan wanita lebih kuat daripada akalnya. Sungguh keliru apabila fakta ini diabaikan, lalu kita hadapkan kepada bahaya pola yang sudah biasa kita terapkan untuk masyarakat kita. Islamlah yang menyamakan antara lelaki dan perempuan dalam hal-hal yang keduanya sama dalam soal keahlian. Tetapi, Islam juga membedakan antara keduanya dalam hal-hal yang keduanya berbeda sesuai menurut kadar perbedaannya. Dan Islamlah yang pertama kali mengumumkan kepada masyarakat manusia untuk pertama kalinya dalam sejarah bahwasanya wanita mempunyai hak yang sama dengan kewajibannya menurut yang ma’ruf. (QS. al-Baqarah : 228)
Akan tetapi, mengingat adanya kelebihan dan kekurangan pada masing-masing jenis makhluk ini, maka Islam mengumumkan dengan adil dan teliti sekali bahwa lelaki berada satu derajat di atas kaum wanita. Yaitu, kepemimpinan akal atas perasaan (al-Nisa’ : 32). Hal ini tidak berarti tidak ada dari kalangan wanita yang mampu untuk tidak dikalahkan dengan perasaannya, dan dari kalangan pria yang terpelihara dari tunduk kepada perasaan. Hanya saja, wanita lebih mudah dan lebih mungkin untuk dihinggapi penyakit-penyakit semacam ini, karena tabiat dan unsur kejadiannya, sebagaimana yang ditegaskan oleh para ahli hukum dan ilmu jiwa. Masalah ini diisyaratkan dengan jelas oleh pakar hukum terkemuka Prof. Kamil Tsabit dalam bukunya yang berjudul ‘Ilmu al-Nafs al-Qadha’i, “Sesungguhnya bangsa yang menghadapi permasalahan karena sebagian kaum laki-lakinya tunduk kepada perasaan, maka sepantasnyalah kalangan cendikiawannya untuk tidak menghancurkan nasib bangsanya dengan menyerahkan nasib bangsanya ke tangan orang-orang yang mempunyai perasaan yang berlebihan.”62 Islamlah yang mengingatkan umatnya dalam hadits yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dalam kitab Sunan-nya, “Apabila para pemimpinmu adalah orang-orang terjahat di antaramu dan para hartawanmu adalah orang yang terkikir di antaramu serta urusanmu diserahkan kepada kaum wanita, maka perut bumi lebih baik bagimu dari pada permukaannya.”63

Existensi Dan Partisipasi Wanita Dalam Politik

Kalau kita melihat lebih jauh lagi, bagaimana peran kaum wanita pada zaman awal munculnya Islam, maka, kita akan menemukan bagaimana peran kaum wanita sangat membantu Rasul saw. dalam menjalankan misi penyebaran Islam di muka bumi ini. Banyak tokoh wanita yang kita kenal dari kalangan wanita sebagai pemeran penting dalam berbagai momen dalam sejarah.
Pada bagian ini saya membagi partisipasi kaum wanita dan eksistensinya dalam politik menjadi dua bagian penting. Pertama, peran kaum wanita dalam masyarakat. Kedua, peran wanita dalam keluarga. Karena, politik itu sangat bergantung dua bagian ini. Kalau peran yang kecil saja sudah rusak maka akan berimbas kepada ruang lingkup yang lebih besar. Maka dari itu, partisipasi wanita dalam menstabilkan nuansa politik di sebuah negara sangat besar. Kalau mereka tidak menjaga kerukunan dan keserasian dalam keluarga dan masyarakat, maka akan rusaklah sebuah negara dan pemudanya. Karena pemudalah yang akan menjadi cermin masa depan suatu negara.

a. Peran Dalam Masyarakat

Wanita muslimah pada awal munculnya Islam ikut terjun ke medan perang mendampingi kaum pria, merawat pasukan pria yang terluka, membantu membalutkan perban untuk menghentikan darah yang mengalir, menyambungkan tulang yang patah, memompa semangat juang pria, berpatroli di antara barisan pasukan, mempertaruhkan nyawanya menentang kematian, merelakan dirinya dihantam anak panah atau pedang, berjihad membela agamanya, dan berjuang untuk mengangkat kalimatullah. Mereka banyak andil dalam perjuangan Islam. Banyak peperangan yang mana, di sana, keikutsertaan wanita dalam membantu dan mendorong semangat para mujahid Islam untuk menegakkan kalimatullah.
Kalau kita lebih meneliti kembali bagaimanakah peran wanita pada awal datangnya Islam, kita akan melihat bagaimana mereka berkecimpung dalam berbagai segi kegiatan. Seperti, ketika para sahabat hijrah pertama ke Habasyah, di sana terdapat peran wanita yang menyertai laki-laki. Dengan jumlah sebelas laki-laki dan empat wanita. Ada yang berjalan kaki ada yang berkendaraan, melintasi laut tanpa ada yang mengeluh. Sebagaimana Usman bin ‘Affan mengajak anaknya Ruqayyah binti Rasulullah, dan beliaulah yang pertama kali yang berhijrah bersama anaknya setelah Nabi Luth As..64 Begitu juga peran wanita ketika Rasul saw. hijrah ke Madinah pertama kali, kita tahu bagaimana Abu Salamah seorang wanita yang pertama kali hijrah ke sana, kemudian ‘Amir bin Rabi’ah dan anaknya Laila binti Abi Hatsmah. Dan wanita dari Bani Jahsy Zainab binti Jahsy, Ummu Habib binti Jahsy, Ummu qays binti Muhshan, dan Aminah binti Ruqays dan banyak lagi. Mari kita bahas bagaimana peran wanita yang sangat besar dalam hijrah Rasul saw ke Madinah.65
Kita ambil contoh sederhana, Raqiqah binti Shaifi bin Hasyim adalah seorang wanita yang sangat berjasa dalam perjalanan Rasul saw ke Madinah, beliaulah yang memberitahukan bahwasanya orang-orang Quraiys ingin menyergap rumah Rasul saw. Beliau berkata kepada Rasul saw. sesungguhnya orang-orang Qurays telah berkumpul untuk mengepung rumahmu pada malam hari, maka Rasul saw. meninggalkan tempat tidurnya lalu pergi dan Ali bin Abi Thalib yang menggantikannya tidur di ranjang Nabi saw., Sehingga dari berita beliaulah Nabi saw. tertolong dari malapetaka yang mengancam beliau.66 Sebagaimana Maria –pembantu Rasul saw.– yang melindungi ketika beliau memanjat tembok pada malam hari ketika beliau dikejar oleh kafir Qurays. Begitu juga Asma’ dan ‘Aisah yang ikut andil dalam hijrah Rasul saw. ke Madinah.67
Begitu juga andil kaum wanita ketika Rasul saw. mengadakan perdamaian dengan kaum Qurays pada Perang Hudaibiyah untuk menolak orang yang datang tanpa ada izin dari walinya. Ketika kaum wanita datang kepada Rasul saw. dan masuk Islam. Allah enggan untuk menolak mereka disebabkan mereka sungguh-sungguh dalam hal ini. Allah tahu bahwasanya kaum wanita datang karna kecintaan mereka terhadap Islam. Maka Rasul saw. menerima kedatangan mereka dan menolak kaum lelaki. Kalaulah bukan Allah yang menetapkan, maka Rasul saw. juga akan menolaknya sebagaimana beliau menolak laki-laki.68 betapa besar perhatian Islam kepada kaum wanita, dan betapa indahnya hidup di naungan agama Islam jika kita mengetahui.
Selanjutnya, peran wanita dari berbagai macam aspek kegiatan yang tidak kecil peran mereka dalam menjunjung tinggi nilai-nilai Islam. Seperti, peran kaum wanita dalam Bai’at ‘Aqabah, yang mana baiat pertama kali bagi kaum wanita pada awal tahun setelah bi’tsah, seperti Romlah binti Abi ‘Auf dan Laila binti Abi Hatsmah dan banyak lagi.69 Begitu juga peran Robi’ binti Mu’awwadz dan Asma’ binti Yazid dalam Bai’at Ridhwan.70 Dan banyak lagi peran wanita ketika datangnya Islam yang mungkin akan menjadi pembahasan yang sangat panjang akan tetapi penulis memberikan gambaran global, bahwasanya Islam sangat menjaga hak kaum wanita dan memberikan ‘kebebasan’ dalam kehidupan mereka.
Sekarang kalau kita lihat kondisi sekarang ini, sah-sah saja wanita ikut dalam dunia perpolitikan, dan turun rembuk di DPR atau MPR untuk mewakili suara kaum wanita. Dan penulis kira Islam tidak melarang kaum wanita untuk berkecimpung dalam hal tersebut, sebagaimana yang mereka dengung-dengungkan. Akan tetapi, tanpa menuntut untuk persamaan dari segi kuantitasnya sebagaimana halnya laki-laki. sebagaimana yang dituntut oleh feminisme atau gerakan yang lainnya yang menuntut demikian. Dikarenakan perbedaan yang mendasar antara keduanya.
Dahulu, di Mesir pada tahun 1945, pada rezim Husni Az-Za’im, adalah awal bagi kaum wanita di sana diberikan hak memilih, dan pada tahun itu juga dimulai peletakan undang-undang pemilihan bagi kaum wanita. Dan pada tahun 1950, undang-undang itu diresmikan. Akan tetapi, hal ini tidak berhasil dan tidak bertahan lama, dikarenakan wanitanya tidak konsisten dengan apa yang dituntutnya. Sebagaimana masyarakat pada waktu itu tidak menghendaki keikutsertaan dan andil mereka dalam kancah politik.71

b. Peran Dalam Keluarga

Dalam memerankan keluarga, seorang ibu mempunyai andil sangat luar biasa dalam membina kesejahteraan dan kerukunan rumah tangga. Pada suatu hari salah seorang raja bertanya kepada seorang tokoh wanita yang sudah lama berkecimpung mengelola yayasan pendidikan khusus wanita, “Apalagi kekurangan yang harus kita sempurnakan agar kita bisa membentuk generasi manusia yang baik?” tokoh tersebut menjawab, “Kaum ibu.” Dan penulis juga menilai peran kaum ibu dalam politik bukan hanya di masyarakat saja, akan tetapi kita lihat bahwa asas pendidikan politik itu berasal dari keluarga, dan kaum ibulah yang paling berperan di sini. Merekalah yang mengantarkan keluarga menuju kebahagiaan dan kesejahteraan rohani. Mereka pulalah yang setia menjaga keindahan rumah tangga agar terus harum dan elok ketika dipandang orang. Kalaulah bukan keikhlasan kaum ibu menjaga hal ini, tidak mungkin kemajuan bumi akan maju pesat seperti sekarang ini. Karena sebagaimana penulis gambarkan kaum ibu adalah madrasah bagi sebuah negara.
Ibu adalah orang yang bertanggung jawab atas sebuah keluarga. Karena dialah yang mengurus rumah tangga. Sebagaimana hadits Rasul saw. bersabda, “Wanita adalah pemimpin dalam rumah tangga, suami, dan anak-anaknya.”72
Tugas tersebut adalah urusan besar dan salah satu kewajiban seorang ibu terhadap masyarakat. Karena itu, seorang wanita hendaklah mendayagunakan kehidupannya untuk kebahagiaan yang sesuai dengan perasaannya yang mulia dan berdasarkan unsur kejadian jasmani dan sosialnya. Islam sangat realistis sekali dalam menetapkan tatanan ini dan sangat memperhatikan kebahagiaan masyarakat yang mana di tinjau dari sejauh mana keluarga tersebut memperhatikan urusan rumah tangganya. Kalaupun ada bangsa lain yang berbeda dengan kita dari segi menata rumah tangga, dan cara itu baik menurut fitrah manusia boleh kita ikuti–Walaupun penulis merasa tidak ada yang sebaik Islam dari segi mengatur urusan rumah tangga– dan jangan sekali-kali kita meniru mereka dalam hal-hal yang tidak sejalan dengan fitrah manusia dan faktor-faktor kemaslahatan. Bagaimana pun Islam telah menata berbagai macam aspek rumah tangga yang tercantum dalam al-Qur’an dan al-Sunnah yang kita percayai. Walaupun masih ada yang meragukannya. Akan tetapi orang yang masih meragukan akan ketetapan yang Allah gariskan, Allah berfirman,
”Dan tidaklah patut bai laki-laki mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.”73

Sekarang bagaimana jika seorang ibu tidak benar-benar memerankan dirinya dalam keluarga, pasti akan terjadi kehancuran dalam ruang tersebut yang akan berimbas kepada masyarakat. Yang mana masyarakat ini akan mempengaruhi kestabilan sebuah negara. Zaman sekarang sekarang semakin banyak penyelewengan yang dilakukan oleh remaja dan sifatnya pun semakin berani, terbuka, aneh, serta merusak. Hal tersebut sebuah fenomena sosial yang harus diperhitungkan, dan mengapa sampai terjadi hal yang demikian. Mungkin itu juga menyangkut lingkungan yang ada di depan mereka. Tapi kita juga harus meneliti dari akarnya. Sekarang para remaja bisa demikian apakah kesalahan mereka secara utuh, saya pikir tidak. Ini juga disebabkan oleh lingkungan utama yang ia pelajari yaitu keluarga. Maka kaum ibu harus benar-benar mengetahui tentang diri anak, bagaimana mendidik anak dengan baik, bagaimana mengatur rumah tangga yang baik dsb? Maka kaum ibu–begitu juga kaum bapak- mempunyai tanggung jawab yang besar untuk melahirkan pemuda yang berbudi luhur, rajin menolong, cerdas dan saleh. Karena awal pendidikan yang diserap oleh anak berasal dari keluarga. Jika ada penyimpangan atau kejanggalan terdapat pada diri anak, maka, kewajiban seorang ibu memberikan arahan kepada mereka.
Penyebab yang lain yang berdampak terhadap anak-anak adalah mereka sendiri juga tidak menemukan pada diri ibu dan ayah untuk mereka teladani dan mereka contoh untuk ditiru dan diterapkan pada diri mereka dalam mengarungi kehidupan masa sekarang dan masa depan. Kemudian, hubungan antara anak dan orang tua tidak diwarnai dengan nilai-nilai takwa dan keutamaan, serta perasaan cinta kasih yang sangat menunjang anak untuk mengarungi kehidupan ditengah-tengah masyarakat berdasarkan nilai-nilai tersebut.
Maka dari itu, marilah kita memperbaiki apa yang telah rusak dalam rumah tangga dengan cara setiap orang tua mengenal kewajiban atas anak-anaknya dan memberikan pendidikan yang benar kepada mereka, serta membentuk kepribadian mereka sehingga mereka dengan sendirinya mampu menyingkirkan hal-hal yang dapat merusak akhlak mereka. di samping itu, masyarakat berkewajiban–terutama media masa– untuk melakukan hal-hal yang mendukung terwujudnya kehidupan masyarakat yang bersih dari segala bentuk penyelewengan, penyimpangan serta menjaganya dari sesuatu yang dapat mengancam eksistensi masyarakat tersebut dan merusak putra-putrinya. Insya Allah dengan demikian, kita akan berhasil mengatasi terjadinya tindak kriminal dan penyimpangan di kalangan pemuda sehingga kita dapat menjamin terwujudnya generasi yang baik, bangsa yang cerdas, dan kehidupan yang makmur. Dan hendaklah kita selalu mengingat pesan Rasul saw. yang memerintahkan orang tua untuk terus memantau anak-anaknya dan memperbaiki akhlak mereka.

Penutup

Perbincangan masalah wanita saya kira tidak sebatas ini saja, yang seharusnya masih banyak yang harus dibahas. Oleh karena pembahasan tentang hal ini membutuhkan waktu yang tidak singkat dan pengamatan yang sangat dalam. karena meliputi berbagai aspek dari keluarga sampai negara. Dan problematika wanita mungkin akan terus berlanjut dari tahun ke tahun. Walaupun kelihatan sedemikian rumit, akan tetapi nyaman, menarik, enak, menyentuh jiwa, dan menarik hati untuk dibahas.
Dalam pembahasan tentang wanita ini, penulis sangat menyayangkan sekali tentang penuntutan hak oleh wanita yang melebihi tabiatnya sebagai wanita yang telah digariskan Allah dan alam. Karena kenapa? Yang muncul nanti bukan kebaikan wanita yang didapat, akan tetapi, akan menjelekkan mereka sendiri. Seperti penuntutan mereka dalam menjadi pemimpin atau olahraga yang sama seperti pria. Ikhtilath antara pria dan wanita tidak seimbang sehingga akan menyebabkan sesuatu yang ditentang oleh agama. Dan membuka aurat di depan umum yang mereka anggap itu sebuah hal yang biasa. Kalau boleh penulis menyarankan. Silahkan kaum wanita menuntut hak mereka sesuai kodrat dan tabiat mereka sebagai wanita, jangan lebih dari itu. Oleh karena pencipta kita lebih tahu apa yang dia tetapkan kepada makhluk-Nya. Dan kita sebagai makhluk sepatutnya kita bersyukur akan tempat yang Allah berikan kepada kita. Karena dengan bersyukurlah kita akan nyaman tinggal di bumi ini. Tempat yang telah disediakan oleh pencipta yaitu Allah. Maka sudah seharusnya kita memakai hukum dan undang-undang yang telah dia berikan kepada kita sebagai tanda syukur kita kepada-Nya.

++—-+——–

Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan pesantren Almuflihun yang diasuh oleh ust. Wahyudi Sarju Abdurrahmim, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899