Fakta Dibalik Sosok Amien Rais

Amien Rais saat Mengisi Pengajian Akbar di PDM Sragen
Amien Rais saat Mengisi Pengajian Akbar di PDM Sragen

Amien Rais adalah Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Periode 1995-2000 hasil dari Muktamar Muhammaidyah ke–43 di Banda Aceh dan sering disebut sebagai Tokoh Reformasi. Dalam perjalanan Amien Rais di ranah politik tentunya mempunyai lawan politik, apalagi perjalanan politik Amien Rais sering berseberangan dengan penguasa. Bukan penguasa saat ini, melainkan sejak zaman orde baru. Berikut adalah beberapa fakta yang menarik tentang seorang AMIEN RAIS tulisan Faisal Rahman

Ada yang bilang, dia seorang yang ambisius menjadi Presiden, faktanya dalam perjalanan seorang Amien Rais tahun 1999 lampau, beliau menolak tawaran mayoritas pimpinan fraksi di DPR untuk menjadi Presiden. Beliau tolak jabatan tersebut meski sudah didalam genggaman, karena merasa tidak etis, karena baru beberapa hari beliau dilantik menjadi Ketua MPR. Jika memang dia seorang yang ambisius mustahil dapat mempedulikan soal etis tidak etis segala, apalagi ketika jabatan yang diincarnya sudah dlm genggaman.

Sebagian dari orang menjuluki Amien Rais dengan ‘Sengkuni’, faktanya yang belum mengenal siapa Sengkuni, sengkuni adalah tokoh PENJILAT dan selalu menempel pada kekuasaan. Kita lihat, bagaimana sepak terjang seorang Amien Rais, apakah memang penjilat. Dari zaman orde baru beliau BUKAN PENJILAT beliau selalu kritis, tidak perduli siapapun presidennya, apapun ancamannya. Baik yang didukung partainya, maupun yang tidak. Kemudian ada yang mengatakan, beliau bukan tokoh reformasi, realitanya Beliau tidak pernah meminta ‘gela’r tersebut. Gelar tersebut diberikan oleh media dan gerakan mahasiswa yang terlibat gerakan reformasi (kecuali mungkin mahasiswa ‘berhaluan kiri’). Faktanya beliau memamg sangat kritis terhadap rezim Orde Baru yang otoriter… Beliau mengkritisi masalah Freeport, Busang, KKN keluarga penguasa, dll. Itulah makanya di awal massa reformasi, media, mahasiswa dan para tokohpun menisbatkan beliau sebagai lokomotif reformasi, tidak ada yang akan membantah fakta tersebut.

Kemudian juga, ada yang bilang Amien Rais pengkhianat karena merubah UUD ’45, realitanya perubahan UUD ’45 adalah suatu keharusan, yang tidak boleh dirubah adalah PREAMBULEnya. Sejak awal pembentukan UUD 1945 (sebelum perubahan), para perancangnya, baik dalam rapat BPUPKI maupun dalam rapat PPKI telah menyadari bahwa UUD yang akan dibentuk ini hanya bersifat sementara. Soekarno sebagai ketua rapat/sidang sekaligus ketua PPKI dalam rapat pengesahan UUD 1945 tanggal 18 Agustus 1945, mengemukakan bahwa:

” ………Tuan-tuan semua tentu mengerti, bahwa Undang Undang Dasar yang kita buat sekarang ini, adalah Undang Undang Dasar Sementara. Kalau boleh saya memakai perkataan: ini adalah Undang Undang Dasar kilat. Nanti kalau kita telah bernegara di dalam suasana yang lebih tenteram, kita tentu akan mengumpulkan kembali Majelis Permusyawaratan Rakyat yang dapat membuat Undang Undang Dasar yang lebih lengkap dan lebih sempurna….” …

Lalu menariknya dan sempat menjadi bulan-bulanan, seorang Amien Rais pernah bilang akan jalan kaki Yogya-Jayarta-Yogya jika Jokowi menang pilpres. Realitanya, silahkan tunjukkan satu saja link berita yang menunjukkan Pak Amien pernah berkata seperti itu, Pasti tidak ada. Faktanya, konteks pernyataan beliau bukan berkaitan dengan pilpres, melainkan menjawab tuduhan bahwa beliau pada tahun 1999 menuduh Prabowo bertanggung jawab atas tragedi Mei ’98, maka beliau bilang, “kalau ada link berita, silahkan, nanti saya jalan kaki Yogya-Jakarta bolak-balik”. Apakah ada beritanya berkaitan dengan hal tersebut? Ini pasti ADA!!! Tetapi bukan tuduhan langsung, melainkan meminta agar Prabowo di-mahmilkan, karena dari sana bisa diketahui apakah Prabowo benar bertanggung jawab atau tidak, itu ada di headline berita Republika thn 1999. Orang berakal pasti bisa membedakan.

Ada lagi, Amien Rais disebut provokator urusan pemilu bawa2 perang badar dan perang uhud segala. Realitanya konteks pernyataan beliau untu dlm rangka pembekalan relawan Prabowo-Hatta, berkaitan dengan mentalitas internal, tidak menyinggung kubu-kubuan. Beliau bilang kepada segenap relawan agar menggunakan mentalitas perang badar, bukan mentalitas perang uhud. Yang belum tau, maksudnya kayak gini karena perang uhud identik dengan perebutan rampadan perang (bagi2 jatah), sehingga kaum muslimin waktu itu mengali kekalahan. Kritik2 Amien Rais terlalu berlebihan, nah tentang ini begini kawan seorang Amien Rais tetaplah manusia biasa yang memiliki kekurangan. Ada kritiknya yang berlebihan, tetapi jauh lebih banyak yang substansial, namun segala kritik beliau hanyalah menyuarakan suara rakyat, bahasa beliau memang lugas dan tajam, terkesan arogan. Orang yang anti kritik mungkin akan sakit hati, namun orang yang bijak akan melihat substansi kritiknya. Bagaimana menurut anda?