Cara Allah Menyikapi Doa Seorang Hamba

Suatu ketika seorang teman berkata, “Saya sudah sering sholat malam dan berdoa, tapi tak juga lulus-lulus jadi PNS”. Di kesempatan lain sering kita mendengar perkataan, “Allah tidak mengabulkan doa saya”. Ada juga yang berkata, “Percuma saja berdoa, takkan juga dikabulkan”.

Subhanallah. Tidak mungkin ungkapan seperti ini muncul, kecuali dari orang yang tidak faham bagaimana cara Allah ta’ala menyikapi doa para hamba-Nya. Dan kita memang tidak akan bisa faham, kecuali dengan mengetahui apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Untuk itulah kita penting mengetahui bagaimana cara Allah menyikapi doa seorang hamba agar kita tidak berputus asa dalam berdoa, tetap semangat, sabar, dan tidak berprasangka buruk kepada Allah.

Kalau kita tau, justru dengan mengatakan doa kita tidak dikabulkan oleh Allah, maka dengan perkataan itulah Allah tidak akan pernah mengabulkan doa kita. Karena perkataan yang kita ucapkan seperti itu jelas mengandung keraguan, prasangka buruk, dan tidak adanya kesabaran kepada Allah Ta’ala dalam berdoa. Rasulullah bersabda, artinya, “Doa seseorang di antara kalian senantiasa dikabulkan oleh Allah selama ia tidak tergesa-tergesa, lalu dia berkata: “Saya telah berdoa, tapi tidak dikabulkan” (HR Al Bukhari).

Rasulullah juga bersabda, artinya, “Berdoalah kepada Allah sedang kamu yakin akan terkabul, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa orang yang hatinya lalai dan tidak serius” (HR Tarmidzi).

Jadi, berdoa itu harus sabar, yakin, serius, tidak tergesa-tergesa untuk dikabulkan, apalagi sampai berkata, “Saya telah berdoa, tapi tidak dikabulkan Allah”. Karena hal itu justru penyebab doa kita tidak akan dikabulkan oleh Allah Ta’ala. Paling tidak, ada tiga cara Allah menyikapi doa hamba-Nya. Dengan mengetahui ini, insya-Allah seseorang tidak akan memiliki masalah dengan doanya. Tidak ragu dan berprasangka buruk kepada Allah dengan belum terkabulnya doa. Dan tetap bersemangat dalam berdoa.

PERTAMA, doa itu langsung dikabulkan oleh Allah dalam waktu yang cepat. Antara doa dan pengambulan dari Allah (seakan) tidak ada tirai penghalangnya. Biasanya, itulah doa para nabi dan rasul, serta orang-orang yang dizolimi. Dari Ibnu Abbas RA disebutkan, sebelum Mu’adz diutus ke negeri Yaman, Rasulullah pernah berwasiat kepadanya, di antaranya: “Dan takutlah kamu terhadap doa orang yang dizalimi, karena sesungguhnya tidak ada penghalang antara doanya itu dengan Allah” (HR Al Bukhari).

Dalam hadis yang lain Rasulullah menyebut bahwa; Doa pemimpin yang adil, orang yang berpuasa, teraniaya (HR Tarmidzi); Doa orang tua, musafir, dan doa orang teraniaya (HR Abu Dawud) tidak akan ditolak oleh Allah Ta’ala.

KEDUA, pengabulan doa ditunda oleh Allah saat di dunia dan dijadikan tabungan pahala bagi pelakunya saat di akhirat. Mengapa demikian? Karena setiap apa yang kita doakan, yang kita harapkan dari Allah, belum tentu baik untuk kehidupan dunia kita. Sedangkan Allah Maha Mengetahui yang terbaik untuk kita (QS Al Baqarah: 216).

Makanya, doa yang kita panjatkan itu Allah tunda pengabulannya saat di dunia. Tapi, karena doa itu adalah ibadah, maka pahala ibadah doa itu tetap dikumpulkan oleh Allah sebagai tabungan pahala untuk kebaikan kita di akhirat kelak. Jadi, tidak ada yang sia-sia dari doa yang kita ucapkan, meski pengabulannya tidak kita rasakan saat di dunia ini.

Namun, adakalanya pula, Allah menunda pengabulan doa itu saat di dunia, kemudian mengabulkannya juga saat kita masih di dunia ini, yaitu di waktu yang tepat dan saat kita dinilai siap menerimanya. Tidak heran, kadang apa yang kita dapatkan hari ini berupa kenikmatan, baru kita sadari karena doa yang pernah kita ucapkan di masa yang lalu. Allah menilai, bahwa saat inilah waktu yang tepat kita menerima apa yang kita harapkan dulu.

Ini ibarat anak kecil yang minta HP kepada orang tua. Karena orang tua menilai anak belum pantas pegang HP, maka permintaannya tidak dipenuhi. Di pending dahulu. Namun, di saat ia mulai besar dan dianggap siap dan telah waktunya pegang HP, barulah orang tua membelikannya.

KETIGA, doa yang diucapkan Allah ganti pengabulannya dalam bentuk yang lain. Seperti menghindarkan diri kita dari keburukan yang akan terjadi yang sebanding dengan kualitas doa kita. Atau, Allah ganti doa yang kita ucapkan itu dengan sesuatu yang lebih baik dari apa yang kita harapkan. Karena sesuatu yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut Allah.

Ini ibarat ingin naik mobil untuk menuju ke suatu tempat. Tapi mobil yang kita inginkan tidak bisa memberi tumpangan. Kita pun masuk mobil lain yang tidak pernah kita harapkan. Di tengah jalan, mobil yang ingin kita tumpangi tadi ternyata mengalami kecelakaan dan seluruh penumpangnya tewas. Sedangkan kita selamat dari kecelakaan itu justru dengan menumpangi mobil yang tidak kita harapkan tadi. Kita pun sadar, ternyata Allah menyelamatkan diri kita dari kecelakaan justru dengan mobil yang tidak kita harapkan itu. Begitulah kadang doa kita. Apa yang kita pinta boleh jadi hal buruk untuk kita, maka Allah tidak penuhi permintaan kita itu. Namun, permintaan itu kemudian Allah ganti dengan sesuatu yang lebih baik untuk kita, untuk menyelamatkan kita dari sesuatu yang akan mencelakakan hidup kita.

Sebab itu, berprasangka baiklah kepada Allah dan sabarlah dalam setiap doa. Karena sungguh Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan doa hambanya yang berdoa kepada-NYA. Dan rencana Allah pasti lebih baik dari apa yang kita kira. Begitulah cara Allah menyikapi doa para hamba-Nya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

ما مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِى الآخِرَةِ وَإِمَّا أَنُْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا ». قَالُوا إِذاً نُكْثِرُ. قَالَ « اللَّهُ أَكْثَرُ »

“Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat) melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: [1] Allah akan segera mengabulkan do’anya, [2] Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan [3] Allah akan menghindarkan dirinya dari kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdo’a.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan do’a-do’a kalian.” (HR. Ahmad 3/18, dari Abu Sa’id; derajat hasan).

Wallahu A’lam

Ditulis oleh: Lidus Yardi