Buruk Sangka

Oleh Abdul Gaffar Ruskhan

Apa kabar Saudaraku? Semoga semua berada dalam keadaan sehat walafiat, senantiasa tercurah rahmat Allah, dan selalu dalam pelindungan-Nya. Amin!

Allah SWT berfirman

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka karena sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain” (QS Al-Hujurat:12)

Ada sifat yang dapat ditemukan dalam pergaulan dengan sesama, yaitu prasangka. Memang ada dua macam prasangka, ada yang baik (husnuzan) dan yang buruk (suuzan).
Prasangka yang akan disorot dalam renungan ini adalah buruk sangka. (negative thinking).

Buruk sangka muncul dalam hati seseorang karena menganggap orang lain banyak kekurangannya. Bisa juga muncul ketika melihat orang lain memperoleh sesuatu walaupun dia tidak ingin memilikinya. Sering terucap jangan-jangan dia begini… begitu…?

Buruk sangka adalah sifat memandang orang lain dengan tidak baik atau salah. Artinya, ada pandangan yang keliru terhadap orang lain. Begitu seseorang berjalan berduaan dengan perempuan, timbul di dalam pikiran bahwa orang itu punya selingkuhan. Padahal,
yang bersama dengannya adalah saudaranya. Jika melihat seorang anak dari keluarga sederhana memakai jam tangan, di dalam pikirannya muncul sangkaan, jangan-jangan arloji itu dicurinya. Padahal, jam tangan itu hadiah pamannya.

Ada cerita yang menarik bagaimana bahaya buruk sangka kepada orang lain. Hal itu terjadi pada seorang ulama besar Tabiin, Hasan al-Basri.

Suatu hari Hasan al-Basri melihat tiga orang di pinggir Sungai Dajlah (Tigris), di antaranya perempuan. Di samping mereka terdapat sebotol arak. Hasan al-7Basri berkata dalam hati, “Alangkah buruknya orang itu. Lebih bagus dia itu bersikap seperti saya.” Maksudnya tidak bersama perempuan dan minuman keras.

Tiba-tiba Hasan melihat sebuah perahu tenggelam. Pemuda yang berada di pinggir sungai tadi langsung terjun karena melihat penumpang perahu itu tenggelam. Pemuda itu berhasil menolong 6 dari 7 penumpang yang tenggelam itu.

Setelah naik ke darat, pemuda itu menoleh kepada Hasan Basri dan berkata, “Jika engkau memang lebih mulia daripada saya, demi Allah, silakan engkau selamatkan seorang lagi yang belum bisa saya selamatkan. Engkau hanya diminta untuk menyelamatkan satu orang, sedangkan saya sudah berhasil menolong enam orang.”

Hasan al-Basri terdiam dan gagal menyelamatkan seorang penumpang perahu. Entah karena ketakberaniannya atau karena kelambanannya.

Laki-laki itu berkata lagi kepada Hasan al-Basri, “Perempuan di sebelah saya ini adalah ibu saya, sedangkan botol ini hanya air putih.”

Hasan al-Basri terdiam mendengarkannya. Karena merasa salah sangka, dia berkata dengan penuh penyesalan, “Kalau begitu, sebagaimana engkau telah berhasil menyelamatkan enam orang yang tenggelam, selamatkan pula saya dari tenggelam kebanggaan dan kesombongan.”

Hasan al-Basri menyadari kekeliruannya telah berprasangka buruk kepada mereka yang berada di pinggir sungai dan botol yang ada di sebelahnya.

Laki-laki itu menjawab, “Mudah-mudahan Allah mengabulkan doa Tuan.”

Sejak itu Hasan al-Basri sadar diri dan bersifat rendah hati, bahkan menganggap dirinya sama dengan
orang lain.

Ternyata Hasan al-Basri telah berlaku keliru kepada beberapa orang dengan memandangnya lebih rendah daripada dia. Hasan al-Basri dipandang sebagai ulama besar, tetapi tersungkur di bawah kemuliaan orang yang dianggapnya berkarakter buruk. Orang yang diprasangkai buruk itu ternyata lebih hebat daripadanya.

Apa yang disampaikan oleh Allah SWT dalam surah Al-Hujurat: 12 benar bahwa sebagian prasangka itu dosa. Peristiwa yang dialami oleh Hasan al-Basri merupakan bentuk prasangka buruk yang menimbulkan dosa. Dapat dibayangkan bahwa besar kemungkinan buruk sangka itu terjadi pada orang kebanyakan. Orang yang setaraf ulama besar saja tidak luput dari buruk sangka, apalagi orang awam.

Di dalam pergaulan sehari-hari kita pun pernah berprasangka buruk kepada orang lain. Sikap itu sangat dicela oleh Allah dan Rasul-Nya sabagai dosa dan ungkapan yang dusta.
Rasulullah saw. bersabda,

إِيَّا كُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ.

“Jauhilah berprasangka buruk karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan.” (HR Bukhari- Muslim)

Di dalam pergaulan manusia, buruk sangka itu tidak jarang terjadi pada seorang atau sekelompok orang terhadap orang yang memang tidak disukainya. Betapapun kebaikan dan didikasi yang diperlihatkan oleh orang lain tetap dipandangnya jelek dan banyak kekurangan. Biasanya, sifat itu sudah diperberat dengan kedengkian. Kalau dua sifat itu telah menguasai diri seseorang, dapat dipastikan bahwa orang lain baginya terlihat banyak kekurangan. Tidak ada yang baik dalam diri orang itu.

Sikap itu akhir-akhir ini sering tampak, terutama si bidang politik. Pemimpin yang bukan pilihannya selalu dipandang salah dan tidak memiliki prestasi apa pun. Walaupun banyak prestasi yang ditoreskannya dan diberi pengakuan, baik dari dalam maupun dari luar negeri, pemimpin itu tetap dipandangnya gagal dan tidak dapat berbuat apa-apa. Padahal, jika pemimpin sudah resmi memegang tampuk pemerintahan, baik di pusat maupun di daerah, itu adalah pilihan demokratis. Tinggal bagaimana kita mengawalnya agar jangan salah mengambil kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat. Itu pun harus dilakukan dengan cara-cara yang sesuai dengan koridor hukum dan perundang-undangan yang berlaku.

Bulan Ramadan merupakan momentum yang tepat untuk meluruskan niat kita, mengelola hati dengan baik, manjauhkan buruk sangka dan kebencian. Puasa berfungsi untuk menahan diri dari hati yang tidak puas dan nafsu yang tak terkendali, sesuai dengan doa Rasulullah saw,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الأَخْلاَقِ ، وَالأَعْمَالِ ، وَالأَهْوَاءِ.

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari akhlak, amal, dan hawa nafsu yang jelek.” (HR Tirmidzi, No. 3591)

Mari kita selalu berbaik sangka karena “berbaik sangka merupakan pertanda baiknya ibadah” (HR Abu Daud) dan “baik sangka adalah salah satu ciri-ciri orang berakal (Ali bin Abi Thalib). Amin!

Wabillahit-taufiq wal-hadayah.

Wassalamualaikum wr. wb.