Beranda Tarjih Argumen Madzhab Nazhar:Ijmak Ulama Salaf Bahwa Alam Itu Baharu (Hadis) (Bagian XXI)

Argumen Madzhab Nazhar:Ijmak Ulama Salaf Bahwa Alam Itu Baharu (Hadis) (Bagian XXI)


Matan HPT
بَعْدُ فَاِنَّ الفِرْقَةَ النَّاجِيَةَ (1 (مِنَ السَّلَفِ اَجْمَعُوا عَلَى الإِعْتِقَادِ بِأَنَّ العَالَمَ آُلَّهُ حَادِثٌ خَلَقَهُ االلهُ مِنَ العَدَمِ وَهُوَ اَىِ العَالَمُ) قَابِلٌ لِلفَنَاءِ (2 (وَعَلَى اّنَّ النَّظْرَ فِى الكَوْنِ لِمَعْرِفَةِ االلهِ وَاجِبٌ شَرْعًا (3 (وَهَا نَحْنُ نَشْرَعُ فِى بَيَانِ اُصُولِ العَقَائِدِ الصَّحِيْحَةِ.

Kemudian dari pada itu, maka kalangan ummat yang terdahulu, yakni mereka yang terjamin keselamatannya (1), mereka telah sependapat atas keyakinan bahwa seluruh ‘alam seluruhnya mengalami masa permulaan, dijadikan oleh Allah dari ketidak-adaan dan mempunyai sifat akan punah (2). Mereka berpendapat bahwa memperdalam pengetahuan tentang ‘alam untuk mendapat pengertian tentang Allah, adalah wajib menurut ajaran Agama (3). Dan demikianlah maka kita hendak mulai menerangkan pokok-pokok kepercayaan yang benar.

Syarah:
Kata Kunci: مِنَ السَّلَفِ اَجْمَعُوا (Para ulama salaf telah berijmak)
Jika kita membaca ushul fikih, kita akan menemukan bahasan terkait dengan sumber Islam. Sumber hokum Islam dibagi menjadi dua, pertama yang muttafaq alaihi dan kedua yang mukhtalaf alaihi. Dalil yang muttafaq alaihi maksudnya adalah dalil-dalil yang telah disepakati bersama oleh para ulama, sementara yang mukhtalaf alaihi adalah dalil yang masih menjadi perdebatan di kalangan para ulama.
Untuk sumber Islam ini, ada empat dalil yang sudah menjadi kesepakatan bersama para ulama, yaitu al-Quran, sunnah, ijmak dan kiyas. Sementara yang mukhtalaf alaihi sangat banya. Sebagian ulama menyebutnya ada 36 dalil. Di antara dalil yang mukhtalaf alaihi itu adalah syr’un man qablana, aqwalushahabi, maslahah mursalah, istihsan, istishlah, urf dan lain sebagainya.
Al-Quran adalah kalamullah yang diturunkan kepada nabi Muhammad secara mutawatir. Sunnah sendiri merupakan ungkapan, prilaku dan persetujuan nabi Muhammad saw. Baik al-Quran dan sunnah wajib diikuti dan diimani bagi setiap muslim. Inkar terhadap al-Quran dianggap kafir. Inkar terhadap sunnah nabi secara menyeluruh juga kafir.
Lantas apakah ijmak itu? Ijmak merupakan kesepakatan para mujtahid pada satu masa setelah zaman Rasulullah saw terhadap persoalan tertentu. Ijmak sendiri selalu berlandaskan pada dalil, baik dalil yang sifatnya qat’hi, dzanni atau terkait persoalan umat yang membutuhkan solusi atau bisa jadi berdasarkan kiyas. Ijmak yang berdasarkan dalil qath’i mislanya terkait keyakinan bahwa Allah adalah Tuhan semesta alam, kiamat pasti akan datang, surga dan neraka adalah pasti terjadi. Dalam fikih misalnya, kewajiban shalat, puasa, zakat dan haji. Seluruh ulama sepakat mengenai kewajiban hal tersebut. Jika nas zhanni, sangat sulit untuk terjadi ijmak ulama. Disebut zhanni, karena nas memang multi tafsir. Adapun terkait dengan persoalan yang belum dijelaskan secara sharih oleh nas, sangat mungkin terjadi ijmak seperti pengangkatan khalifah Abu Bakar, pembukuan mushaf al-Quran di masa sahabat Abu Bakar ash-Shidik, pembukuan ulang mushaf al-Quran pada masa Utsman bin Affan dan lain sebagainya. Untuk saat ini, ijmak masih sangat mungkin dengan adanya Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang mempunyai badan fikih yang disebut dengan al-majma al-fiqhi.
Meski demikian, tidak serta merta seseorang mengakui bahwa suatu persoalan sudah ijmak. Ada beberapa persyaratan bahwa suatu masalahsudah menjadi ijmak ulama, yaitu

  1. Terjadinya kesepakatan.
  2. Kesepakatan seluruh ulama Islam.
  3. Waktu kesepakatan setelah zaman Rasulullah saw.
    Bila seluruh perkara di atas terpenuhi maka ia menjadi ijmak yang tak boleh diselisihi dan ia menjadi landasan dalam Islam. Siapa yang menyelisihi ijmak, dianggap menyelisihi Islam.
    Terkait kemungkinan dan pengakuan ulama terhadap ijmak, berdasarkan dalil-dalil sebagaimana berikut ini:
    Dari al-Quran
    وكذلك جعلناكم أمة وسطا لتكونوا شهداء على الناس ويكون الرسول عليكم شهيدا
    Artinya: “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kalian (umat islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia, dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas kalian” (QS. Al-Baqoroh: 143)
    Syuhada maknanaya adalah menjadi saksi. Artinya bahwa umat Islam akan menjadi saksi atas berbagai macam persoalan, termasuk perkara-perkara agama. Persaksian dari umat nabi Muhammad saw ini menunjukkan bahwa ijmak dari umat Muhammad saw sangat mungkin.
    ومن يشاقق الرسول من بعد ما تبين له الهدى ويتبع غير سبيل المؤمنين نوله ما تولى ونصله جهنم وساءت مسيرا
    Artinya: “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa pada kesesatan yang telah dikuasainya itu, dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa: 115)
    Ayat di atas menjelaskan bahwa kesesatan ada di luar ajaran Rasul dan jalan yang ditempuh oleh orang-orang mukmin. Ini artinya bahwa perkumpulan oorang beriman memberikan sebuah kebenaran. Artinya bahwa ijmak dari kalangan orang beriman adalah mungkin terjadi.
    Dalil Assunnah:
    Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
    لا تجتمع أمتي على ضلالة
    Artinya: “Umatku tidak akan bersepakat di atas kesesatan.” (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud).
    Hadis di atas memberikan keterangan bahwa kesepakatannya umat Islam, tidak akan membawa kepada kesesatan. Artinya ijmak di kalangan umat Islam sangat mungkin.
    فمن رأيتموه فارق الجماعة أو يريد أن يفرق بين أمة محمد صلى الله عليه وسلم، وأمرهم جميع، فاقتلوه كائنا من كان، فإن يد الله مع الجماعة
    Artinya: “Siapa saja yang kalian pandang meninggalkan jama’ah atau ingin memecah belah umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sedangkan dalam perkara tersebut mereka sepakat, maka bunuhlah ia siapapun gerangannya, karena sesungguhnya tangan Allah bersama jama’ah” (HR. Ibnu Hibban)
    Dalil di atas menerangkan bahwa barangsiapa yang lepas dari jamaah, maka ia dianggap memecah belah umat Islam. Meski hadis konteksnya terhadap para pemberontak, namun juga dapat dibawa kepada persoalan terkait kesepakatan para ulama. Hal ini, karena pemikiran manusia, juga dapat menjadi biang kerok perpecahan umat. Jadi ijmak sangat mungkin.
    Ijamk sendiri bisa dibagi menjadi dua:
  4. Ijmak bayani/sharih, yaitu ijmak yang terjadi secara sharih dan jelas, baik dengan perkataan, perbuatan maupun bayan resmi dari hasil muktamar para ulama. Contoh bisnis mudharabah, musaqah, murabahah dan lain. Berbagai transaksi tersebut dibolehkan oleh syariat selama tidak ada unsur ghurur, penipuan dan riba.
  5. Ijmak sukuti, yaitu ijmak para ulama, bukan dengan sikap sharih dan bayan resmi, namun ulama diam karena menganggap perbuatan tersebut tidak bertentangan dengan syariat Islam. Contoh seperti masuk kamar mandi di perjalanan, dengan membayar uang tertentu.
    Jika kita melihat pada teks matan HPT di atas, menerangkan mengenai ijmak para ulama salaf terkait dengan perkara akidah. Para ulama salaf dari generasi sahabat, tabiin dan tabiit tabiin, semua bersepakat bahwa alam raya adalah baharu (hadis). Alam raya adalah ciptaan, sementara Allah adalah Tuhan Sang Maha Pencipta. Tidak ada satu pun ulama salaf salih yang menganggap bahwa alam itu qadim.
    Terkait hal ini, bias kita lihat dari ungkapan Imam Asyari dalam kitab ushulu Ahli Sunnah wal Jamaah sebagai berikut:
    Bab Kedua.
    Bab yang sudah menjadi ijmak para ulama salaf.
    Di antara prinsip yang berlandaskan pada argument dan mereka mengambil pendapat tersebut sejak masa kenabian adalah terkait dengan baharunya alam raya.
    Ketahuilah oleh kalian bahwa pendapat yang telah menjadi kesepakatan dan keyakinan ulama salaf, seperti yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad saw, serta diingatkan nabi Muhammad saw, dan bahwa ia benar adanya adalah bahwa alam raya, yang terdiri dari atom serta sifat-sifatnya, merupakan benda yang sifatnya baharu. Ia dulu tidak ada, lalu menjadi ada. Ia dengan semua rangkaiannya, juga sifatnya baharu. Dan bahwa Allah swt, sebelum menciptakan alam raya, ia disifati dengan sifat ilmu, Allah Maha Kuasa (qadiran), Maha Berkehendak (muridan), Maha Berbicara (mutakalliman), Maha Mendengar (Sami’an) dan maha melihat (Bashiran). Allah mempunyai asmaul husna dan sifat-sifat yang agung. Para ulama salaf mengetahui hal tersebut seperti yang telah diberitakan Allah ta’ala serta diceritakan oleh nabi Muhammad saw. Terkait hal ini, telah kami terangkan di bab lain.
    Dalam khazanah pemikiran Islam, yang menganggap alam qadim adalah para filsuf yang terpengaruh dengan pemikiran Aristoteles. Juga pendapat Ibnu Taimiyah yang mengatakan bahwa alam itu qadim min haitsu an-nau dan hadis min haitsu al-jins. Jika kita buka pendapat para ulama salaf, tidak akan kita temukan pendapat yang mengatakan bahwa alam itu qadim min haitsu an-nau’ dan hadis min haitsu an-jins. Pendapat para filsuf atau Ibnu Taimiyah, dimarjuhkan oleh Muhammadidyah dan dianggap bertentangan dengan pendapat ijmak para ulama salaf.

—++—-+——–

Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan pesantren Almuflihun yang diasuh oleh ust. Wahyudi Sarju Abdurrahmim, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899