Siti Komariah, Bergaji 500 Ribu Mengajar Sendirian di SD Muhammadiyah 4 Filial

Dunia pendidikan Tanah Air masih menyisakan sejumlah problematika yang harus diselesaikan, salah satunya mengenai fasilitas untuk belajar mengajar. Seperti di Sekolah Dasar (SD) Muhammadiyah 4 Filial, di Sumatera Selatan. Sekolah ini hanya memiliki satu ruang kelas dan satu guru.

Bangunan sekolah yang berada di Desa Saluran, RT 36, Kecamatan Talang Kelapa, Kabupaten Banyuasin, ini cukup memprihatinkan. Selain kondisi bangunannya yang sudah tak layak, murid dari kelas satu hingga enam di sekolah ini harus belajar dalam satu ruangan yang sama, tanpa sekat pemisah. Tak hanya itu, sekolah yang telah berdiri sejak tahun 2002 ini juga hanya pemiliki satu tenaga pengajar atau guru untuk memberikan pendidikan kepada siswa yang umunya berasal dari keluarga kurang mampu secara ekonomi tersebut. Guru SD Muhammadiyah 4 Filial, Siti Komariah, mengatakan untuk menjalankan proses belajar-mengajar, siswa setiap kelas hanya dipisahkan dengan meja dan ditempatkan berbaris memanjang sesuai dengan tingkat pendidikannya.“Jadi jika ada pelajaran yang kurang jelas mereka maju satu per satu ke depan, biasanya saya menjelaskan pelajaran di papan tulis menggunakan spidol. Tapi ini spidolnya belum ada, jadi sementara ini lisan saja dulu,” katanya, Kamis (14/11).Siti mengatakan dirinya sudah mengajar di sekolah ini sejak tahun 2011. Saat ini total murid di sekolah tersebut berjumlah 25 orang, dalam satu hari ada tiga sampai empat mata pelajaran yang ia ajarkan. Untuk mengatasi kekurangan tenaga pengajar, maka setiap mata pelajaran yang disampaikan harus disamakan, baik dari kelas satu hingga kelas enam.“Jadi bisa dijelaskan secara langsung, misalnya mata pelajaran Bahasa Indoensia. Maka murid semua murid akan belajar mata pelajaran yang sama,” katanya.
Akan tetapi, kata dia, saat mata pelajaran matematika, Siti biasanya akan mengajak serta suaminya untuk ikut membatu mengajar di kelas. Sebab, menurutnya, murid harus mendapatkan penjelasan satu per satu agar bisa mengerti.
“Suami saya membantu untuk mata pelajaran matematika saja,” katanya.
Meski bekerja sebagai guru honorer, Siti hanyalah tamatan Sekolah Menengah Atas (SMA). Akan tetapi dirinya tak ingin ada anak-anak– khususnya yang berasal dari keluarga kurang mampu–di sekitar lingkungan tempat tinggalnya yang tidak mendapatkan pendidikan.
Sementara gaji yang diterimanya tidaklah besar, hanya Rp 500 ribu per bulan. Gaj itu biasanya baru akan diambilnya tiap tiga bulan sekali. Sebab, untuk mengambil gaji tersebut dirinya harus menempuh perjalanan sekitar dua jam menggunakan perahu menuju Balai Makmur, Kabupaten Banyuasin, tempat tinggal kepala sekolah tersebut. Hal ini dikarenkan sang kepala sekolah yang jarang datang ke sekolah tempatnya mengajar.
“Iya kalau gaji biasanya saya ambil ke rumah kepala sekolah, biasanya tiga bulan sekali karena jaraknya jauh,” katanya.
Meski berstatus sekolah swasta, semua murid yang belajar di sekolah ini tidak dikutip biaya apa pun. Seluruh fasilitas yang tersedia, seperti meja, kursi, papan tulis, dan ruangan ditanggung oleh pihak sekolah.
Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Selatan, Romli membenarkan kondisi sekolah dasar Muhammadiyah 4 Filial cukup memprihatinkan. Ia mengatakan sudah ada tim yang turun ke lapangan untuk meninjau sekolah tersebut, serta melaporkannya ke dewan pimpinan Muhammadiyah Ilir Timur II, Palembang.
“Kami juga sudah melaporkan ke pemerintah daerah agar bisa mendapatkan bantuan untuk sekolah itu,” katanya. (kumparan)