Amien Rais, karena Kau Lahir dari Rahim Muhammadiyah

Kau memang hanya manusia biasa. Kau tentu punya kelemahan, dan kau (pasti) juga punya banyak kelebihan.

Kau bersekolah di negeri “kafir” Paman Sam. Kau banyak berinteraksi dengan mereka “kaum kafir”. Namun tak menjadikan kau bagian dari kebanyakan alumni sekolah negeri “kafir” yang cenderung islamophobia. Kau tetap Amien Rais yang lahir dari rahim Muhammadiyah yang proporsional memposisikan Islam dan “kafir”.

Kau berhasil menggerakan aksi menentang kekuasaan otoriter dan bahkan totaliter Orde Baru, di saat orang yang lainnya yang sebayamu diam membisu dan bahkan nyaman menjadi bagian dari kekuasaan yang tiran.

Kau berteriak dengan kencang tentang “suksesi kepemimpinan nasional sebagai keharusan” di kala lainnya diam penuh ketakutan, menghamba dan bahkan menjadi penjilat kekuasaan serta berusaha mempertahankan status quo.

Kaulah manusia “aneh” yang selalu teriak lantang kepada penguasa yang menyimpang. Kau kritisi Soeharto, kau kritisi pemimpin-pemimpin sesudahnya.

Kau memang tak akan pernah membuat nyaman penguasa- penguasa yang lalim dan para komprador di negeri ini.

Kau manusia yang sudah tak punya urat takut, di kala teman sebayaku masih penuh ketakutan. Takut mati, takut tak punya dan dekat dengan kekuasaan, takut miskin.

Kau manusia langka yang rela tidak populer demi prinsip tauhid (politik) yang selama ini kau perjuangkan. Bandingkan sebayaku yang masih terus cari popularitas dan gila hormat dan jabatan.

Kau salah lahir dari rahim Muhammadiyah. Coba kau lahir dari ormas keagamaan lain. Coba kau lahir dari keluarga abangan dan bahkan keluarga PKI sekalipun, kau tak akan pernah di-bully dan dicaci maki secara kasar oleh mereka yang begitu bangga dengan ashobiyahnya.

Kau salah sih lahir dari rahim Muhammadiyah. Kau sepanjang zaman tak akan pernah termaafkan dan selalu dituduh sebagai aktor tunggal pelengseran seorang presiden. Coba kau lahir bukan dari Muhammadiyah, tapi kau lahir dari keluarga santri (yang bukan Muhammadiyah), lahir dari keluarga abangan, lahir dari keluarga non-Muslim, pasti mereka bisa memaafkanmu.

Kau dan siapa pun pasti tahu bahwa ada kekuatan besar yang antusias mendukung pelengseran itu. Kekuatanmu saat itu begitu ringkih. Kau hanya punya 34 kursi. Bandingkan kekuatan lain yang punya banyak kursi di MPR, termasuk militer dan kepolisian.

Kau pasti paham teori kudeta. Selagi militer berada di belakang dan bersama presiden pasti tak akan pernah terjadi kudeta atau pelengseran.

Kau pasti tahu, militer, kepolisian, partai-partai besar saat itu tak lagi berpihak ke presiden. Tapi karena kau Ketua MPR dan berasal dari Muhammadiyah, maka selamanya kau akan dipersalahkan dan tak termaafkan akibat lengsernya presiden.

Kau usianya tidak muda lagi, namun jiwamu tak pernah tua. Jiwa “pemberontak”-mu tiap melihat kebatilan politik, hukum, dan ekonomi selalu muda.

Kau rela dihujat, dicaci, di-bully, bahkan rela dituduh provokator dan makar oleh penguasa, pendukung penguasa, dan mereka yang tengah bermesraan dengan penguasa.

Kau terlalu kritis sih. Coba kau akomodatif dan kooperatif dengan penguasa, pasti kau hidupnya akan selalu aman dan nyaman. Tak akan pernah terjadi ancaman- ancaman pembunuhan kepadamu, termasuk ancaman pembunuhan yang didalangi “jenderal luwak” itu.

Kau sih salah tidak menjadi penjilat atau sekadar bermain aman dalam relasinya dengan kekuasaan. Coba kau menjilat pada kekuasaan, pasti pundi-pundi rupiah dalam jumlah gede akan kau dapatkan. Anak kau juga pasti akan peroleh jabatan empuk di negeri ini.

Kau tahu tidak, bahwa semua yang kau lakukan ini membuat saya dan (yakin) kaum muda lainnya yang gelisah dan prihatin dengan kondisi bangsa saat ini, iri padamu. Iri padamu Muhammad Amien Rais. Sekian. (*)

Cirendeu, 25 Mei 2019
Kolom oleh Ma’mun Murod Al-Barbasy, Ketua Departemen Organisasi dan Kewilayahan Dewan Masjid Indonesia (DMI) Pusat.