Teroris Penyerang Masjid Selandia Baru, Pengikut Fasis dan Anti Muslim

Sangpencerah id. Brenton Tarrant, pria berdarah Australia yang diduga salah satu dari empat pelaku penembakan masjid Christchurch, Selandia Baru, Jumat (15/3), mengaku fanatik supremasi kulit putih.

Hal ini dia sampaikan dalam manifesto setebal 37 halaman yang ditulisnya di internet sebelum menembaki dua masjid, membunuh 40 jemaah yang tengah salat Jumat.

Dalam manifesto itu, pria 28 tahun itu mengaku pandangan politiknya terinspirasi dari politisi konservatif Amerika Serikat Candace Owens, pendukung Donald Trump yang mengkritisi gerakan Black Lives Matter.

Tarrant juga mengakui dirinya adalah seorang fasis dan pendukung pandangan Oswald Mosley, politisi Inggris pendiri Serikat Fasis Inggris pada 1930-an.

Berbagai pandangan Tarrant menunjukkan bahwa dia adalah pengikut garis keras kelompok supremasi kulit putih yang fasis.

Kelompok ini mengagungkan bangsa kulit putih dan merendahkan ras lainnya, terutama yang saat ini tengah jadi sorotan: imigran Muslim. Hal ini ditegaskan Tarrant dalam tulisannya berjudul “Anti-imigran, anti-Muslim”.

Dalam postingan tersebut, ia menjelaskan sudah merencanakan penembakan di Christchurch sejak dua tahun yang lalu. Sebelum menargetkan kota Christchurch, ia melakukan perjalanan menggunakan kereta. (kumparan)