Surat Terbuka untuk Hanung Bramantyo

Assalamu’alaikum.

Saudara Hanung. Perkenalkan nama saya Iwan Abdul Ghani. Berasal dari Nusa Tenggara Timur, tepatnya dari sebuah desa terpencil yang bernama Desa Bana, Kecamatan Pantar, Kabupaten Alor. Desa tersebut mungkin dicari dalam peta tidak ditemukan, maklum karena pulau tempat kelahiran saya masuk dalam saftar pulau terluar.

Langsung pada inti permasalahan. Saya tercengang saat membaca berita di salah satu media online judul beritanya “Sutradara Hanung Bramantyo Sebut Jokowi Sebagai Ahmad Dahlan Masa Kini”

Selama ini saya mengakui bahwa anda seorang sutradara kondang. Sebagai sutradara yang sudah memproduksi banyak filem, pandangan orang tentu anda orang cerdas. Tetapi kali ini anggapan itu keliru dengan pernyataan anda saat berkampanye mendukung petahana di depan para milenial di Surabaya.

Bagi saya, perbandingan yang anda lakukan tidak memenuhi standar kebahasaan yang baik, anda tidak sedang memproduksi Filem yang dialognya Lo..lo..gua..gua.. yang menabrak semua kaidah bahasa karena tuntutan pemirsa.

Anda sedang berada di depan milenial, mestinya anda berbicara yang mencerdaskan mereka, bukan membandingkan dua tokoh yang jauh berbeda. Saya menganggap anda sedang eror ketika menyamakan Jokowi dengan sang pendiri Muhammadiyah Ahmad Dahlan.

Anda pake logika perbandingan macam apa ini? Berikut saya kutip pernyataan anda yang dimuat dalam media tersebut.

“KH Ahmad Dahlan itu orang yang konkrit, ketika suraunya dirobohkan beliau tidak memusuhi yang merobohkan tapi fokus untuk membangunnya kembali,” kata Hanung, Rabu (27/3/2019).

Itu adalah salah satu pernyataan yang anda paksakan untuk menyamakan Jokowi dg Ahmad Dahlan.

Pertanyaannya, kapan Jokowi membangun Surau lalu ada yang merobohkan? Yang saya tahu ada masjid dan mushala yang dirobohkan di masa kepemimpinan Jokowi dengan dalil infrastruktur. Contoh nyata di Kampung Akuarium, Luar Batang, Jakarta

Berikutnya anda mengatakan “Infrastruktur yang sangat saya rasakan, saya pulang ke Jogjakarta dari Jakarta tidak perlu naik pesawat cukup jalur darat 7-8 jam sampai,”

Ini cacat nalar. Di zaman Ahmad Dahlan perkembangan teknologi tidak seperti saat ini, di zaman ketika itu saja, Ahmad Dahlan sudah berfikir jauh ke depan, tidak gagap. Beliau sudah mampu membangun balai kesehatan, sekolah, panti asuhan, lembaga pendidikan. Dan ingat beliau membangun tidak menggunakan APBN apa lagi ngutang.

Berikutnya lagi anda mengatakan “Kita harus membawa genset, lampu, dan barang-barang besar yang lain, jadi keterhubungan antar daerah ini penting juga bagi karir saya,”.

Anda ngibul. Pekerjaan anda itu memperoduksi filem, jadi benda2 yang anda sebutkan itu menjadi barang yang wajib dibawa, apakah itu di daerah pedalaman tanpa listrik maupun di perkotaan yang listriknya nyala nonstop, anda tetap bawa jenset, lampu dll. Kalau g bawa, mau ambil listrik dari mana? Mau nyolok di gedebog pisang?

Pernyataan anda itu tidak hanya menyakitkan saya yang mengidolakan Sang Pencerah (Ahmad Dahlan) tetapi juga menyakiti perasaan Presiden Indonesia sebelumnya. Karena anda menafikan apa yang telah dibangun oleh mereka. Pernyataan anda seolah-olah semua yang ada di Indonesia saat ini Jokowi yang membangun.

Terakhir saya mau tanya pada anda.

  1. Apakah Ahmad Dahlan pernah berjanji memproduksi mobil ESEMKA?
  2. Apakah Ahmad Dahlan pernah berjanji bay back Indosat?
  3. Apakah Ahmad Dahlan pernah berjanji membentuk poros maritim tapi nyatanya Drone Cina masuk ke Indonesi?
  4. Apakah Ahmad Dahalan pernah memberi traktor ke petani lalu ditarik lagi?
  5. Aakah Ahmad Dahlan berjanji memberikan bantuan 50 juta kepada korban bencana di Lombok?

Cukup 5 pernyataan itu saja.

Semoga tulisan ini bisa sampai ke Anda (Hanung Bramantyo).

Walaupun di berita tersebut dinyatakan anda warga Muhammadiyah, bagi saya anda bukan warga Muhammadiyah sejati. Karena warga Muhammadiyah sejati nalarnya sehat, tidak cacat nalar
Wassaalam.

Iwan Abdul Ghani. Menulis sambil mendengarkan mars Sang Surya.