Buya Hamka, Sosok Muhammadiyah yang Akan Difilmkan

Kisah kehidupan Abdul Malik Karim Amrullah alias Buya Hamka akan diangkat menjadi film. Rumah produksi Starvision Plus dan Falcon Pictures dipercaya menggarapnya.

Buya Hamka merupakan salah satu tokoh agama Islam paling terkenal di Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai ketua MUI dan aktif di Muhammadiyah. Ia juga sastrawan andal. Buku-bukunya yang terkenal, Di Bawah Lindungan Ka’bah (1938) dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (1938) sudah lebih dahulu diadaptasi menjadi film.

Adalah mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin yang pertama menggagas biopik tentang tokoh politik sekaligus penulis asal Sumatera Barat itu. Ia menawarkan kepada produser Starvision Plus, Chand Parwez untuk membuat film tentang Buya Hamka.

Pemeran Buya Hamka sudah dipastikan jatuh ke tangan aktor peran Vino G. Bastian. Sedangkan istri Buya Hamka, Siti Raham akan diperankan oleh Laudya Cynthia Bella.

Kiprah Buya Hamka mendampingi Sutan Mansur pergi berdakwah dan mendirikan cabang Muhammadiyah. “Didalam memimpin Muhammadiyah. Banyak dia (Hamka, red) mendapat pelajaran dari beliau (Sutan Mansur, red). Semangatnya naik, rasa anti penjajahan telah tumbuh,” demikian dimuat otobiografi Hamka, Kenang-kenangan Hidup Jilid II.

Bersama Sutan Mansur, Hamka ikut mendirikan Muhammadiyah Pagar Alam, Sumatra Selatan; Lakitan, Pesisir Selatan dan Kurai Taji, Pariaman, Sumatra Barat. Hamka jadi wakil ketua Muhammadiyah cabang Padang Panjang. Ketuanya Syekh Jalaluddin Rajo Endah IV Angkat menggantikan Syekh Mohammad Jamil Jaho. Setelah menghadiri kongres Muhammadiyah di Pekalongan tahun 1927, Syekh Mohammad Jamil Jaho dan Syekh Muhammad Zain, ketua Muhammadiyah cabang Simabur, baru tahu kalau keduanya yang beraliran “kaum tua” salah masuk organisasi: Muhammadiyah itu sama dengan “kaum muda” di Sumatra Barat.

Sepulang dari Mekah pada 1928, pada usia 21tahun Hamka diangkat jadi ketua cabang Muhammadiyah Padang Panjang dan memimpin sekolah Tabligh School di Padang Panjang. Pengajarannya setiap selasa malam di gedung Muhammadiyah di Guguk Malintang, dihadiri banyak orang. Caranya mengajar dianggap baru, berbeda dengan yang lain.

Dalam kongres Muhammadiyah ke-19 tahun 1930 di Bukittinggi, Hamka berpidato tentang “Agama Islam dalam Adat Minangkabau.” Baru kali ini seorang pembicara mencoba mempertautkan adat dengan agama dalam kongres yang bersifat nasional. Dalam kongres Muhammadiyah ke-20 tahun 1931 di Yogyakarta, Hamka menyampaikan pidato mengenai perkembangan Muhammadiyah di Sumatra. Pidatonya membuat hadirin menitikan airmata. Itulah sebabnya pengurus besar Muhammadiyah di Yogyakarta mengangkatnya menjadi mubalig di Makassar sampai digelarnya kongres Muhammadiyah ke-21 di Makassar pada pertengahan 1932. Sebelum ke Makassar, dia mendirikan Muhammadiyah cabang Bengkalis.

Hamka kembali ke Padang Panjang pada 1933. Dia mendirikan Kulliyatul Mubalighin Muhammadiyah yang mengajari murid-muridnya mengarang dan bertablig. Pada 1934 dia diangkat menjadi anggota majelis konsul Muhammadiyah Sumatra Tengah (meliputi Sumatra Barat, Jambi, dan Riau). Dua tahun kemudian dia memenuhi undangan Haji Asbiran Ya’kub, ketua Yayasan Al-Busyra, penerbit mingguan Pedoman Masyarakat. Asbiran Ya’kub, mantan sekretaris Muhammadiyah Bengkalis, meminta Hamka memimpin Pedoman Masyarakat.

Setelah H.R. Mohammad Said meninggal dunia tidak lama setelah kongres Muhammadiyah ke-28 tahun 1939 di Medan, Hamka terpilih menjadi konsul Muhammadiyah Sumatra Timur. Ketika Jepang datang, dia berusaha mempertahankan Muhammadiyah dari pembubaran seperti halnya Muhammadiyah di Palembang yang masjidnya dijadikan asrama tentara Jepang. Kepala Gunseibu, Letnan Kolonel Makagawa mengizinkan Muhammadiyah, ‘Aisyiyah, Pemuda Muhammadiyah dan Nasyiah berkegiatan seperti biasa. Sebagai imbalan, Hamka menjadi penasihat Jepang untuk masalah pemerintahan dan keislaman. Akibatnya, pasca-Jepang hengkang, Hamka mendapatkan cemoohan dari banyak orang, sehingga dia lari dari Medan ke Padang Panjang, di mana dia menjadi ketua majelis pimpinan Muhammadiyah Sumatra Barat dari 1946-1949.

Pada kongres Muhammadiyah ke-31 tahun 1950 di Yogyakarta, Hamka ikut menyusun Anggaran Dasar dan rumusan Kepribadian Muhammadiyah. Sejak kongres Muhammadiyah ke-32 tahun 1953 di Purwokerto, dia selalu terpilih sebagai pimpinan pusat Muhammadiyah sampai akhirnya mengundurkan diri pada 1971.

Muhammadiyah diperkenalkan di Minangkabau oleh Abdul Karim Amrullah –uniknya dia tidak pernah menjadi anggota–, disebarkan menantunya, Sutan Mansur dan anaknya, Hamka. Sejak itu, menurut Ahmad Syafii Maarif, ketua umum pimpinan pusat Muhammadiyah periode 2000-2005, dalam Independensi Muhammadiyah di Tengah Pergumulan Pemikiran Islam dan Politik, dalam tempo yang relatif singkat, arus gelombang Muhammadiyah telah menggenangi hampir seluruh Minangkabau, dan dari daerah inilah radius Muhammadiyah bergerak ke seluruh Sumatra, Sulawesi, dan Kalimantan.

“Maka tidaklah berlebihan pendapat yang mengatakan Muhammadiyah lahir di Yogyakarta, tapi berkembang di Minangkabau dan diubah wataknya menjadi gerakan yang bercorak nasional oleh etnis Minang itu.”