Anaknya Dituduh Teroris, Lisnawati Datangi Pemuda Muhammadiyah

Sangpencerah.id –  Kisah pilu pendidikan Arnita Rodelina Turnip ternyata sudah diketahui PW Pemuda Muhammadiyah Sumatera Utara, sebelum viral di media sosial atas pemberitaan dari Ombudsman RI Perwakilan Sumut.

Ketua PW Pemuda Muhammadiya Sumut Basir Hasibuan menyeritakan, kala itu ibunda Arnita, Lisnawwati datang ke Kantor PW Pemuda Muhammadiyah Sumut, untuk menyampaikan persoalan yang dihadapi anaknya yang diputus beasiswanya dari Pemkab Simalungun.

“Alhamdulillah, kasusnya ini sudah viral di media sosial. Sudah menjadi konsumsi publik negeri ini. Saya berharap pihak terkait merespon masalah yang dihadapi bu Lisnawati dan putrinya Arnita,” ucap Basir kepada wartawan, Senin 30 Juli 2018.

Basir mengatakan, kehadiran Lisnawati warga Nagori Bangun Raya, Raya Kahean, Kabupaten Simalungun, menjumpai Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Sumut dalam mencari dukungan atas pemutusan sepihak Beasiswa Utusan Daerah (BUD) anak kandungnya oleh Pemkab Simalungun.

Lisnawati, kata Basir, menceritakan bahwa anaknya termasuk cerdas dan sering juara olimpiade tingkat daerah dan provinsi sehingga mengikuti tes BUD Pemkab Simalungun dan dinyatakan lulus pada tanggal 7 Agustus 2015 bersama 28 orang lainnya ke IPB.

Dalam perjanjian yang ditandatangani di atas materai, beasiswa diputus jika yang bersangkutan IP min 2,50. Dalam 2 semester yang diikuti Arnita mendapat IP 2,71, walaupun pada semester 2 tidak lagi menerima beasiswa namun Arnita masih tetap mengikuti perkuliahan.

“Pada semester 3 bulan Desember 2016 Arnita Turnip tidak lagi dibenarkan pihak kampus nengikuti ujian karena belum bayar uang kuliah,” ujar Basir menirukan perkataan Lisnawati.

“Penuturan ibu lisnawati, perlakuan terhadap anaknya tidak adil karena secara perjanjian tidak ada yang dilanggar. Orangtua Arnita ini menyampaikan penyebab diputus dibuat alasan-alasan termasuk karena menjadi muallaf dan dituduh ikut kelompok teroris, dituduh menikah padahal kemauan anaknya masuk Islam tanpa paksaan dan mendapat izin dari ke dua orangtuanya, bahkan ayahnya juga pengurus gereja,” sambung Basir.

Dugaan muallaf maka diputuslah beasiswa karena Arnita sempat dipaksa pulang ke Kabupaten Simalungun untuk di baptis kembali. Setelah itu masih menurut Lisnawati dijanjikan akan diberikan kembali beasiswa.

Namun Arnita tidak mau melakukan hal itu. Usaha sudah dilakukan orangtua Arnita menjumpai bupati namun tidak ditanggapi, menjumpai gubernur, menjumpai ombudsman serta menjumpai wakil rektor.

Usaha yang dilakukan sampai akhirnya keluar surat izin aktif kembali dalam kegiatan akademik yang dikeluarkan Dekan Fakultas Kehutanan pada tanggal 21 Mei 2018.

Namun usaha yang dilakukan Lisnawati tetap sia-sia karena sampai sekarang Pemkab Simalungun tidak mau melayani permohonan orangtua Arnita. Posisi Arnita sekarang pun mengambil kuliah di Universitas Muhammadiyah di Jakarta, sembari mengajar les untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Sumut, kata Basir, sampai saat ini terus menyuarakan ketidakadilan yang dibuat oleh Pemkab Simalungun. Ia berharap kepada seluruh elemen anak bangsa agar menyuarakan kasus Arnita ini. “Jangan karena hanya beda keyakinan membuat harapan dan masa depan anak terabaikan,” tandasnya.(drberita)