Disaksikan Ketua Dikti Litbang, Rektor UMRI Lantik 3 Warek

Sangpencerah.id – Rektor Universitas Muhamadiyah Riau (Umri) DR H Mubarak MSi, Kamis (13/4/2018) melantik tiga Wakil Rektor. Masing-masing Sri Fitria Retnawati SSi MT sebagai wakil Rektor I, Bakaruddin SE MM sebagai Wakil Rektor II dan dr H Taswin Yacob SpS sebagai Wakil Rektor III untuk masa jabatan 2018-2022. Acara pelantikan dilaksanakan di Auditorium Gedung Ahmad Dahlan Kampus Utama, jalan Tuanku Tambusai Pekanbaru.

Hadir dalam prosesi pelantikan tersebut ketua Majelis Dikti Litbang PP Muhammadiyah Prof H Lincolin Arsyad MSc PhD, Ketua PW Muhammadiyah Riau Drs H Wan Abu Bakar MS MSi dan jajaran, pimpinan ortom Muhammadiyah tingkat wilayah, segenap civitas akademika Umri dan para tamu undangan. Acara prosesi pelantikan berlangsung khidmat yang ditandai dengan pembacaan sumpah jabatan oleh ketiga wakil rektor.

Dalam sambutannya, Rektor menegaskan, jabatan yang diberikan adalah amanah yang diberikan oleh Muhammadiyah. Dimana amanah ini harus dipertanggungjawabkan dunia dan akhirat. “Karena itu, saya minta Wakil Rektor untuk terus bekerja. Karena 2018 hingga 2022 bukan waktu yang panjang. Banyak yang harus kita selesaikan,” paparnya.

Di antara pekerjaan yang harus dicapai 4 tahun kedepan yang harus dicapai adalah peningkatan kapasitas akademik. Salah satu indikatornya yaitu akreditasi perguruan tinggi dan program studi. Dimana saat ini ada sembilan prodi baru yang butuh dilakukan legalitas. Seiring dengan itu, akreditasi perguruan tinggi harus dilakukan reakreditasi. Walaupun punya waktu sekitar tiga tahun lagi, Umri sudah membentuk panitia sejak sekarang untuk meningkatkan akreditasi terbaik.

Kedua yaitu tata kelola keuangan dan sumber daya manusia. “Kami beberapa tahun lalu sudah mencanangkan sistem manajemen berbasis teknologi informasi (TI). Sekarang tinggal mengembangkan” paparnya. Ditargetkan, dalam setahun harus tuntas transformasi teknologi yang telah dipakai di perguruan tinggi lain. Kemudian, target berikutnya adalah seluruh dosen menyandang  gelar doktor.  Saat ini, sudah ada empat orang yang menyandang gelar doktor. Lalu ada juga yang tinggal berproses mencapai gelar itu. Untuk itu, Umri telah menyiapkan penghargaan untuk para dosen tersebut.

Begitu juga dengan karyawan, akan ada sistem memberi penghargaan kepada karyawan yang kinerjanya bagus dibanding yang mereka-mereka kurang baik. “Empat tahun kedepan diharap sistem sudah tuntas. Sehingga ada standar dalam menjalankan sistem pendidikan,” kata dia. Ditambahkan Rektor, saat ini sumbangsih Umri untuk perserikatan belum terlalu maksimal. Namun, Rektor berharap hal itu dimaklumi karena Umri mengalihkannya untuk mengembangan pendidikan bagi mahasiswa.

Sebagai sumbangsih, maka Umri ingin pengabdian masyarakat oleh mahasiswa dan dosen berbasis pengembangan ranting dan cabang Muhammadiyah. Pilot project-nya sudah dilakukan Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat (LPPM). “Ternyata ini semua sudah sejalan dengan perintah persyarikatan melalui Majelis Dikti Litbang. Tinggal melakukan internasionalisasi,” katanya. Untuk mencapai hal itu, tentu dosen-dosen didorong menguasai bahasa Inggris.

Sementara itu, ketua Majelis Dikti Litbang PP Muhammadiyah Prof H Lincolin Arsyad MSc PhD menyebut bahwa pergantian pejabat perguruan tinggi adalah hal biasa. Justru yang istimewa adalah tantangannya. Karena tantangannya tentu tak sama dengan masa lalu. Untuk itu butuh kerja keras, kerja cerdas serta kerja ikhlas. Dia berpesan, wakil rektor menurutnya harus kompak dengan rektornya. Akan merugikan jika tidak kompak. Karena energi habis untuk hal yang tidak efektif.

Atas perkembangan dan capaian yang telah diperoleh Umri, Lincolin memberikan apresiasi khusus dengan memberikan perbandingan dengan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) lainnya. “Meski baru berusia Sembilan tahun pada tahun ini, Universitas Muhamamdiyah Riau (Umri) telah berkembang cukup pesat, disamping sebagian besar Program studi (Prodi) sudah terakreditasi B, dari sarana prasana Umri juga sudah cukup maju” Ujarnya. Ia juga menegaskan “Capaian yang didapat itu bukan sesuatu yang luar biasa lagi, tapi sudah ruar.. biasa”.

Lebih lanjut Lincolin menyebut, terdapat begitu banyak Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) di berbagai daerah di Indonesia, namun dia melihat kemajuan yang diraih Umri sangat cepat sekali, tidak hanya sekedar berhasil membangun gedung megah, tapi juga berhasil membangun Sumber Daya Manusia (SDM) didalamnya, yang dapat dilihat dari jumlah Dosen yang bergelar Doktor, dimana saat ini sudah terdapat Empat orang, dan tidak berapa lama lagi akan bertambah menjadi 10 orang.

“Ini yang namanya kerja keras dan kerja cerdas, tambah satu lagi kalau kita di Muhammadiyah ini kerja Ikhlas. Tidak hanya cukup kerja keras dalam memajukan sebuah institusi pendidikan, kerja cerdas itu jauh lebih sangat penting,” kata Lincolin. Dia mencontohkan terdapat satu PTM yang sudah berusia 17 tahun namun baru menghasilkan 3 orang Doktor. “Ini yang namanya kerja tidak cerdas,” sambungnya.

PP Muhammadiyah menurutnya siap saja membantu berbagai PTM asal yang diminta sesuai dengan kebutuhan. Tantangan kedepan menurutnya yang masih harus terus dikejar Umri adalah bagaimana memanfaatkan kemajuan IT dalam menyensong Internasionalisasi, para Dosen dituntut untuk terus bisa menghasilkan berbagai karya keilmuan yang tentunya hal itu akan bernilai positif bagi institusi Umri.

“Jangan pernah puas dengan keberhasilan sekarang ini, tantangan kedepan masih panjang. Teruslah berkarya menuju Umri yang lebih maju dan berjaya dibumi Lancang Kuning ini, berjaya ditingkat nasional, dan tentunya juga ditingkat internasional,” ungkapnya.