Abdul Mu’ti : Sumber Pendanaan Muhammadiyah adalah Filantropi

Sangpencerah.id – Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed menjadi pembicara Pengajian Akbar Hari Ber-Muhammadiyah Kabupaten Kendal dan Milad ke-22 Rumah Sakit Islam Muhammadiyah Kendal, Ahad (1/4).

Dalam acara yang juga dalam rangka penggalangan dana untuk pembangunan Rumah Sakit dan Klinik Aisyiyah, Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut, menjelaskan bahwa karena filantropi, Muhammadiyah bisa memiliki puluhan ribu amal usaha yang tersebar diseluruh penjuru Republik Indonesia.

“Jika ditanya kenapa Muhammadiyah punya sebanyak itu, itu karena orang-orang Muhammadiyah dibekali iman yang kuat dan mengamalkan ajaran Al-Qur’an dengan menjadi orang-orang dermawan” pungkas alumni Flinders University, Australia tersebut.

Mu’ti menyebut yang pertama adalah zakat. Menurutnya, zakat ada tiga pengertian, yaitu tazkiyatunnafs, membersihkan jiwa manusia. Sebab kalo jiwanya tidak bersih, terlalu mencintai harta, mereka tidak akan berzakat, bahkan gegara harta bisa bertengkar dengan saudaranya. Kemudian tazkiyatul maal, membersihkan harta. Karena didalam harta yang diperoleh seseorang, ada hak orang lain yang harus diberikan. Barulah yang ketiga tazkiyatul muzkilat, zakat itu dapat menyelesaikan berbagai macam problematika kehidupan sosial.

Kedua, shodaqoh. Berapapun bisa dishodaqahkan, bahkan tidak harus berbentuk harta atau uang. Shodaqoh bisa dilakukan dengan menyingkirkan duri dari jalan. Senyum kepada saudara juga shodaqoh.

Ketiga, infaq. Mengutip ayat Al-Qur’an, Mu’ti mengatakan manusia diperintahkan agar berinfaq sebelum ajal menjemput. Berpakaian mahal, memiliki mobil mahal boleh saja, asalkan memang sesuai dengan kebutuhan asal tidak berlebih-lebihan. Akan tetapi jangan pula karena itu, hingga lupa untuk berinfaq di jalan Allah.    

Keempat waqaf. Haji Roemani adalah tokoh Nahdlatul Ulama yang telah mewaqafkan tanah, yang kemudian menjadi Rumah Sakit Roemani PKU Muhammadiyah Semarang. Ada juga yang mewaqafkan tanah 100 hektar di pulau komodo. Dulu tidak ada harganya karena letaknya dikepulauan terpencil. Tapi sejak pulau komodo itu dijadikan tujuan wisata, menjadi trilyunan harganya. Orang-orang yang mewaqafkan tanahnya di jalan Allah, lanjut Mu’ti, mereka itulah orang-orang yang mempunyai kapling di surga. Kalo yang belum waqaf, di surganya kontrak.

Yang kelima, hibah atau pemberian. Pemberian itu boleh bentuk dan untuk apa saja, lanjut Mu’ti.Terakhir yang keenam adalah hadiah. Suatu waktu rasulullah diberi sesuatu oleh sahabat. Kemudian, beliau bertanya, apa yang diberikan kepadanya tersebut, apakah shodaqoh atau hadiah. Jika itu shodaqoh Rasul menolaknya. Kemudian sahabat menjawab bahwa pemberian itu adalah sebagai hadiah untuk Rasul. Maka Rasul menerima hadiah tersebut.(Rifqi)