Tangisan Putri Amien Rais Mengenang Perjuangan Reformasi Ayahnya

Sagpenceah.id – Hanum Rais, putri Amien Rais, masih ingat bagaimana perjuangan ayahnya ‘menggulingkan’ Orde Baru pada tahun 1998 silam. Ia bahkan tak kuasa menahan air matan saat mengenang ayahnya yang hampir ditangkap di rezim Presiden Soeharto karena akan melakukan aksi.
Pada 20 Mei 1998, Amien menjadi komandan untuk mengerahkan massa dalam aksi people power di Halaman Monumen Nasional. Hal itu yang menjadikan Amien diancam akan ditangkap.
“Saya tidak rela ayah saya dipenjara waktu itu, kegagalan bertubi-tubi dialami oleh seorang Amien Rais. Saya pernah bilang, Pak, ngapain mikirin bangsa ini, sudah lah lupain saja,” ujar Hanum dalam acara Refleksi 19 Tahun Reformasi bertajuk Menggembirakan Demokrasi dan Tribute to Amien Rais di Kantor PP Muhammadiyah, Menteng 62, Jakarta Pusat, Sabtu (20/5).
Hanum mengetahui rencana penangkapan itu dari cerita tiga sahabat ayahnya, Adi Sasono, Sri Edi Swasono dan Parni Hadi. Hanum menuturkan, dia menjadi orang yang paling menentang ayahnya terlibat dalam aksi saat itu.
“Saya salah satu orang yang menjadi rebel di keluarga pas zaman reformasi. saat itu saya masih SMA, beliau telepon Ibu dan ada tiga sahabatnya yang telepon. Mereka bilang ‘Amien jangan ke Jakarta, ini sudah A1 (resmi) bapak akan ditangkap,” ujar Hanum.
Bahkan Kusnasriyati Sri Rahayu, istri Amin, hanya bisa pasrah dan rela membesarkan anak-anaknya seorang diri bila Amien ditangkap. Padahal, kata Hanum, ibunya hanya ingin terlihat tegar di mata Amien.
“Kata ibu ‘Bapak Bismillah saja, Insyaallah bojomu bisa membesarkan anak-anakmu dengan menjual batik. Ibu ingin terlihat tegar di depan bapak, tapi dia bilang ke saya dan saudara-saudara saya, doakan bapak. Di belakang bapak ada 2 wanita kuat, ada ibu saya dan almarhumah nenek saya, ibu Amien Rais” kata Hanum sambil berurai air mata.
Tindakan Amien dalam mendirikan Partai Amanat Nasional pada 23 Agustus 1998 mengejutkan publik. Terlebih, sebelumnya, Amien menjadi orang yang menuntut sistem politik dan ekonomi Orba saat itu.
Amien beserta aktivis lain juga sempat membentuk Majelis Amanat Rakyat, sebagai wadah terbuka untuk memperjuangkan keadilan dan demokrasi di Indonesia pada 14 Mei 1998. Hingga runtuhnya Soeharto, kegiatan tersebut masih berlangsung hingga Amien digadang-gadang menjadi calon presiden pada 1999 dan 2004 lalu.
“Tahun 1999 bisa dikatakan PAN tidak dapat hasil menggembirakan, ada lagi kekalahan Pak Amien kalah dalam pilpres. Saya bilang “Pak ingat kata-kata saya, saya ini dokter, kalau ada pasien yang sakit tidak bisa diselamatkan kemudian ada dokter yang rela menolong tapi dia enggak mau, ya sudah tinggalin saja, itu analogi saya. Kata bapak, ‘wah itu analogi kamu ngawur dan enggak masuk akal,” kata Hanum.
Bagi Hanum, Amien Rais adalah orang yang tidak pernah lelah berjuang. Dia pun meminta ayahnya untuk menghabiskan waktu bersama keluarga saat ini.
“Bapak adalah orang yang tidak pernah tahu titik akhir perjuangannya, saya masih memprotes bapak yang selalu ikut aksi bela islam. Pak udah lah main-main sama cucu saja, tapi beliau orang yang ikhlas dalam berjuang,” kata dia.
“Amien Rais tetaplah ayah bagi putra putrinya, itu baru saya temui jawabannya setelah saya nikah 11 tahun dengan suami saya. Dari memberikan keturunan, selama 11 tahun saya belum dapat keturunan. Ayah selalu bilang, “ingat bapak, saya sering gagal, namun ingat perjuangan itu tidak ada akhir, ikuti semua program yang ada, yakin, kamu pasti bisa punya keturunan,” ungkap Hanum.(sp/kumparan)