Pemuda Muhammadiyah Desak Presiden Jokowi Bentuk TGPF Kasus Novel

Sangpencerah.id – Novel Baswedan baru beberapa hari yang lalu melakukan operasi kedua matanya di Singapura, dan tentu Kami berharap beliau bisa kembali pulih dan bisa berjuang seperti sedia kala melawan praktik korupsi di Indonesia.

Mencermati penanganan Kasus Penyiraman Air Keras terhadap Novel, PP Pemuda Muhammadiyah menilai banyak keganjilan, selain terkesan lambat ditengah “kehebatan” Polisi menangani kasus terorisme melalui Densus 88. Keganjilan-keganjilan tersebut, bisa dilihat dari dinyatakannya AL tidak terbukti terlibat dan tidak cukup bukti, padahal nama AL muncul berasal dari Novel yang menyerahkan foto yang bersangkutan, kemudian muncul nama Miko yang Mengaku dibayar Novel untuk bersaksi pada salah satu kasus yang melibatkan Mantan Ketua MK Beberapa waktu yang lalu, yang didahului penyebaran testimoni yang bersangkutan ke sosial media bersamaan dengan ramainya kasus E-KTP.

 

“Berangkat dari beberapa keganjilan tersebut, Kami merasa perlu untuk mendorong berbagai pihak terlibat menemukan fakta kasus Penyiraman air Keras kepada Novel Baswedan tersebut, untuk menguak fakta Praktik bandit politik dan Jejaring korupsi yang menguasai dan menteror Indonesia saat ini”, tegas Dahnil Anzar Simanjuntak.

Hari ini PP Pemuda Muhammadiyah secara resmi menyampaikan permintaan kepada Komnas HAM RI agar membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) kasus Novel Baswedan, Karena Apa yang dialami oleh Novel adalah terang teror yang menciderai Hak Asasi Manusia (HAM) mengancam gak untuk hidup dan bebas dari ketertakutan.

“Permintaan yang sama juga kami sampaikan kepada Presiden RI, sambil menagih komitmen Antikorupsi yang menjadi “hutang” kampanye terpenting Presiden Joko Widodo. Kami berharap Presiden bisa bersama-sama dengan Komnas HAM membentuk TGPF yang melibatkan beberapa pihak (organisasi kemasyarakan, LSM, Tokoh) yang independent dan berintegritas untuk menjadi anggota Tim”, lanjut Ketum PP Pemuda Muhammadiyah.

TGPF sangat penting untuk menguak fakta sesungguhnya di balik upaya teror sistematis terhadap penyidik senior KPK, Novel Baswedan. Bagi Pemuda Muhammadiyah kasus ini bukan sekedar teror terhadap pribadi Novel, namun teror dan upaya membunuh agenda pemberantasan korupsi di Indonesia dan melanggengkan praktik bandit politik di Indonesia.(sp/red)