“Muhammadiyah Saja Tak Boleh Diduakan, Apa lagi Menduakan Istri…..”

SangPencerah.id-Ada hal menarik dalam sambutan Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah ini dalam Pidato Pengukuhan Pimpinan Wilayah Pemuda Muammadiyah Sulawesi Utara Periode 2016-2020. Prolog intermezo nasab-sosiologinya menguraikan bahwa dalam Muhammadiyah tidak ada yang aneh mengenai toleransi otentik.

“Ada yang berkata kenapa di Muhammadiyah ada Simanjuntak. Saya lahir di Aceh. Ibu saya Semarang. Saya tidak tahu turunan ke berapa, tapi Ayah saya adalah Batak turunan muslim.” Demikian pembukaan yang disambut hangat para hadirin.

Lima menit pertama Dahnil bercerita, “Waktu saya meminang isteri saya, Ayahnya adalah Kyai NU. Ibunya ngotot agar pinangan nak Dahniel diterima. Terus dikatakan, nak Dahiel itu kan Muhammadiyah. Nanti banyak perbedaan. Subuhnya nanti beda. Terus ibunya bilang… Anak Muhammadiyah itu sedikit yang poligami. Jadi ini untuk ibu-ibu Aisyiyah, di Jogja ada tulisan amanah KH. Ahmad Dahlan ‘Jangan Duakan Muhammadiyah’, kalau Muhammadiyah saja tidak boleh diduakan, apalagi isteri.” Disambut tepuk tangan meriah.

Dalam pidatonya Dahnil mengurai tentang 4 (empat) hal pokok. Dua hal yang menjadikan Muhammadiyah bertahan dan dua hal yang menjadi watak/karakteristik dakwah Muhammadiyah.

Dua hal yang menjadikan Muhammadiyah bertahan hingga detik ini, dari Sabang sampai Merauke, hingga ke luar negeri adalah:

1). Ruhul Ikhlas
Dahniel menjelaskan bahwa Ruhul ikhlas adalah proyeksi Muhammadiyah, proxy Muhammadiyah. Dahniel menjelaskan bahwa dirinya tidak digaji di Muhamadiyah. Namun dengan mengurus Muhammadiyah ia bisa keliling untuk berdakwah. Keikhlasanlah yang membuat Muhammadiyah bertahan. Bahkan menurut Dahniel, isteri pun harus ikhlas.

2). Ruhul Jihad.
Tidak hanya sampai di ikhlas, Dahniel menekankan pentingnya Jihad. Jihad yang dimaksud adalah berusaha melakukan yang terbaik. Di Muhammadiyah, ada hal yang sangat sulit diterima akal. Yaitu, pembangunan amal usaha Muhammadiyah, baik itu sekolah atau rumah sakit di tingkat Ranting, adalah milik Muhammadiyah. Tidak ada amal usaha Muhammadiyah menjadi milik pribadi. Tidak peduli apa dan siapa yang membangun amal usaha Muhammadiyah tetap menjadi milik Muhammadiyah yang berkedudukan di Yogyakarta.

Selanjutnya, dua hal yang menjadi watak dan karakteristik Muhammadiyah menurut Dahniel adalah tujuan Muhammadiyah tahun 1926 sebelum diatur dalam AD/ART saat ini. Tujuan Muhammadiyah saat itu adalah “Menggembirakan dan Memajukan ajaran Islam di Hindia Belanda”.

Menurut Dahniel, dari tujuan Muhammadiyah ini terlihat jelas bahwa apa yang menjadi orientasi dakwah Muhammadiyah hari ini tentang Islam berkemajuan adalah bukan hal baru. Dari sini menurut Dahniel terdapat dua karakteristik Muhammadiyah adalah:

1). Menggembirakan
Jika melihat cara dakwah KH. Ahmad Dahlan, beliau adalah figur dakwah yang menggembirakan. Beliau bukan orang yang mengobral ‘sesat’ dan ‘kafir’. Ketika melihat orang-orang yang meminta-minta di kuburan, berobat ke dukun, beliau berkata bahwa mereka hanya belum memiliki ilmu tentang itu. Saat itu KH. Ahmad Dahlan langsung membangun sekolah dan membangun klinik. Ini dakwah yang menggembirakan.

2). Berkemajuan.
Berkemajuan menurut Dahnil bukanlah kemajuan simbolisme. Beliau mencontohkan bahwa desain layar di belakang saat berpidato adalah kemajuan sarana. Bukan esensi.

Dahnil mengutip satu suku Badui di Banten yang secara umum menolak modernisme. Mereka menolah memakai hp, sandal, dan menampilkan kesederhanaan. Akan tetapi, menurut Dahniel, perikehidupan di sana mengedapnkan keadaban. Siapa yang membuang sampah sembarangan, apalagi di aliran sungai, atau menebang sembarangan, maka akan menerima hukum adat setempat yang tidak ringan. Sementara itu ada orang yang berkendaraan mobil yang berjalan di tempat umum namun menurunkan kaca dan membuang sampah sembarangan. Manakah yang disebut berkemajuan ? Menurut Dahnil berkemajuan dan berkeadaban adalah suku Badui tadi.

Itu sebanya kata Dahnil, berkemajuan dan berkeadaban ada di otak dan hati.

Menutup pidatonya, Dahnil menekankan bahwa watak berkemajuan mengedepankan toleransi otentik. Indonesia tidak perlu diajarkan tentang toleransi. Toleransi di Indonesia telah menjadi genetik. Mengalir dalam darah. (sp/red)

 

Ketika Dahnil Anzar Simanjuntak Di Manado. Catatan Awien SJT, Aktivis Muhammadiyah Sulawesi Utara