Perjuangan Panti Asuhan Terbaik di Jateng, Didik Anak Hingga Kuliah

SangPencerah.id-Panti asuhan itu tak seperti panti asuhan biasa. Gedung dua lantai dengan aksen hijau, seperti kebanyakan bangunan Muhammadiyah, tampak resik dan gagah. Di Ada pendopo joglo yang tak kalah bersih. Pendopo digunakan salat berjamaah, mengaji, dan menggelar pertemuan secara lesehan. Sebuah minibus, dengan logo panti, dan warna merah muda mencolok terparkir. Di halaman panti yang lapang dan asri, berjajar pula puluhan sepeda motor.  Kendaraan ini rupanya milik warga yang tengah menyewa ruang di lantai dua.

Panti memang menyewakan ruang pertemuan, juga minibus pink tadi, dan perangkat suara (sound system) untuk menopang ekonomi panti. Baliho di depan panti menegaskan keberadaan panti: “Selamat dan sukses atas penghargaan Panti Asuhan Yatim Putri Aisyiyah Karanganyar sebagai panti percontohan se-Jawa Tengah tahun 2014”.

Di bagian depan gedung, di bawah baliho ini, juga dibuka warung kelontong. Dari segala keunikan panti, para dara penghuni panti yang menjaga warung kelontong inilah yang paling berbeda dari panti asuhan lainnya: mereka semua berstatus mahasiswa. Saat itu, karena sedang libur semesteran, mereka bergantian menjaga toko dan melayani pembeli.

“Dengan menguliahkan mereka, saya melanggar peraturan pemerintah karena tanggungjawab maksimal sampai 18 tahun sesuai status anak. Tapi bagaimana lagi, telanjur mengambil anak orang dan masyarakat sudah percaya,” tutur Kepala Panti, Agus Sumadi, seraya tergelak.
Masuk sebagai pengurus dua tahun setelah panti berdiri pada 1994, Agus merasa tak nyaman dengan anggapan bahwa panti asuhan itu seadanya.  Umumnya anak panti tak tuntas bersekolah. Kalaupun sampai  lulus SMA, mereka hanya jadi penjaga toko atau jadi buruh.

Mereka sering diremehkan. Jadi saya mengharuskan mereka yang di sini untuk kuliah. Kalau bisa S1, mereka sudah punya modal ijazah,” kata Agus, yang berprofesi sebagai guru Sekolah Luar Biasa di Karanganyar ini.

Panti dihuni 44 anak. Penghuni panti terdiri dari tiga putra dan lainnya putri. Mereka adalah anak yatim atau piatu, atau keduanya, juga dari kalangan duafa.  Mereka bisa masuk ke sini karena dibawa oleh kerabat, guru, atau anggota Muhammadiyah, bahkan kenalan Agus sendiri. Ada yang berasal dari Yogyakarta, Klaten, Bekasi, namun kebanyakan berasal dari sekitar Karanganyar.

Saat ini ada seorang anak usia PAUD, dua anak SD, dan lainnya SMP-SMA, termasuk seorang tuna grahita. “Semua bersekolah di luar panti,” tegas Agus. Panti baru bisa menguliahkan pada 2005. Menurut, Agus saat ini panti asuhan tengah menguliahkan 14 anak dan empat di antaranya secara cuma-cuma karena mendapat beasiswa. Ada lima orang kuliah di Sekolah Tinggi Agama Islam Mambaul Ulum, seorang di Universitas  Muhammadiyah Surakarta, Universitas Surakarta, Akademi (ASMI), dan IAIN. Enam orang telah menyandang gelar sarjana S1 dan mentas menjadi alumni.

Setiap bulan panti memerlukan dana operasional Rp40-60 juta perbulan. Namun bantuan dari donatur cukup untuk menutup kebutuhan itu. “Allah SWT memberi kemudahan,” kata dia. Kesulitan dana bukannya tak pernah terjadi. Suatu kali, salah satu anak panti butuh dana Rp 4 juta untuk biaya kampus. Tinggal satu hari, Agus belum juga mendapat pinjaman hingga malam hari. Eh, esoknya, pagi-pagi ada sumbangan masuk persis Rp 4 juta.

Agus mengatakan tak ada kiat khusus mendidik anak agar “Kami menanamkan pada anak bahwa sekolah itu untuk kebaikan diri sendiri.” Mayoritas anak panti belajar secara mandiri dan tepat waktu sesuai jadwal, tak terkecuali mendekati ujian masuk kuliah. Tak semua berhasil sebab ada anak yang selepas SMA meilih pulang ke rumahnya ketimbang berada di panti dan kuliah.

Aturan paling ketat, bahkan jadi syarat sejak awal anak masuk panti adalah larangan membawa ponsel. Agus meminta anak tersebut memilih antara HP dan panti. Alhasil, ada juga anak yang keberatan atas aturan tersebut dan tak jadi masuk panti.

Selain itu, anak mesti pulang ke panti tepat waktu. Namun Agus bialng ketentuan itu telah berjalan sendirinya. Bahkan tanpa dikomando pun, anak-anak belajar dan mengaji mengikuti jadwal. “Anak-anak sudah mandiri. Kami juga menerapkan sistem among. Mereka yang senir menjadi ibu bagi adik-adiknya.”

Agus mengatakan panti kini punya dana abadi Rp 1 miliar yang disiapkan sejak 2005. Dana abadi dan donasi ini menopang sebagian besar operasonal panti. Dari dana itu pula, panti bisa memiliki aset gedung senilai Rp 735 juta, membeli bus Rp 120 juta dan mobil elf Rp 350 juta untuk  disewakan.

Saban hari, untuk biaya makan, panti mengeluarkan biaya rata-rata Rp 1,5-2 juta per hari. Untuk kuliah, tiap mahasiswa butuh sekitar Rp 2 juta per semester hanya untuk SPP.

Anak-anak panti dilatih jujur. Mereka menghitung dan mengajukan sendiri kebutuhan hidup dan biaya sekolah tiap bulan. Rata-rata Rp500-700 ribu per bulan. Anak panti masih kecil dibantu oleh kakak angkatannya. “Berapapun permintaannya asal jujur kami penuhi.”

Agustus 2016, panti ini dicek oleh  tim Kementerian Sosial. Hasilnya, panti mendapat akreditasi A. Panti kerap menjadi tujuan kunjungan panti lain dari Kebumen, Surabaya, Madura, Kendal dan Batang. “Kuncinya pengurus harus ikhlas dan menjadikan panti seolah milik sendiri. Kalau setengah hati, ethok-ethok (pura-pura), ya tidak jadi.”

Namun Agus menilai panti itu sukses jika sudahtakada penghuninya. Artinya penguni panti sudah bisa hidup mandiri.  Tahun ini, ia bersiap menguliahkan empat anak. Selain meneruskan upaya untuk menguliahkan anak asuhnya, Agus berencana menyiapkan panti jompo. “Lahan dari wakaf sudah siap,” ujar dia.(sp/gt)