Zulkifli Hasan : Muhammadiyah Tak Boleh Kalah dari Organisasi Yang Baru Muncul

Zulkifli Hasan diacara ramah tamah, pesertan tanwir

SangPencerah.id– Ketua MPR Zulkifli Hasan menghadiri acara ramah tamah yang diadakan bersama dengan peserta tanwir Muhammadiyah. Acara tersebut diadakan di rumah dinas Gubernur Maluku.

Zulkifli datang sekitar pukul 20.30 WIT, Kamis (23/2/2017), dengan mengenakan baju batik berwarna hijau dan peci hitam. Saat tiba, Zulkifli langsung duduk di meja yang di sana sudah ada Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nasir dan mantan Ketum PP Muhammadiyah yang juga Ketua Dewan Pertimbangan MUI, Din Syamsuddin, Mendikbud Muhadjir Effendy, dan Wakil Gubernur Maluku Zeth Sahuburua.

Dalam acara ramah tamah tersebut, mereka terlihat begitu akrab. Sesekali mereka terlihat begitu serius, tapi tidak jarang mereka begitu santai mengobrol, salah satunya saat ketiganya menyantap sajian makan malam.

Saat menyampaikan sambutannya, Zulkifli ingin momen tanwir Muhammadiyah yang akan dibuka oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Jumat (24/2) besok bisa mengembalikan Muhammadiyah sesuai dengan cita-cita awal pendirian organisasi Islam tersebut. Menurut Ketum PAN tersebut, saat ini Muhammadiyah sudah kalah dengan organisasi Islam yang baru muncul.

“Dulu keluarga-keluarga kalau ikut pengajian pasti pengajian Muhammadiyah. Sekarang yang diikuti itu (pengajian) yang baru-baru, kayak apa itu namanya Forum Umat Islam dan lainnya. Imbauan Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, kalah sama yang baru-baru ini,” kata Zulkifli dalam sambutannya, Kamis (23/2/2017).

“Semoga tanwir Muhammadiyah bisa mengembalikan Muhammadiyah seperti cita-cita awal dibangunnya organisasi ini,” lanjutnya.

Selain itu, Zulkifli menyoroti soal kesenjangan yang terjadi di Indonesia. Salah satu hal yang membuat begitu tingginya kesenjangan di Indonesia. Dia menyebut hal itu adalah perbedaan anggaran dari pemerintah pusat ke wilayah-wilayah di luar Pulau Jawa. Zulkifli juga menegaskan saat ini dia sedang memperjuangkan penganggaran yang lebih adil bagi wilayah di luar Pulau Jawa.

“Ketidakadilan melahirkan kesenjangan. Kesenjangan antara pusat dan daerah, daerah barat dan timur, hingga yang kaya dan yang miskin. Contoh, di sini satu provinsi bantuan modal APBN-nya Rp 2,8 triliun, jauh dengan kota-kota di Pulau Jawa. Di Surabaya saja yang kota Rp 10 triliun. Kapan yang di (Indonesia) timur mau ngejar yang ada di (Indonesia) barat. Ini yang sedang kita perjuangan, agar APBN tidak cuma menghitung penduduk dan daratan, tapi juga menghitung kepulauan,” papar Zulkifli.

Ketua MPR itu juga menyampaikan rasa kagumnya terhadap kebinekaan yang tumbuh dengan sangat baik di Maluku. Selain itu, penyelenggaraan pilkada serentak juga tidak luput dari sorotan Zulkifli. Menurutnya, penyelenggaraan pilkada serentak sudah sangat baik, walaupun ada kehebohan pada Pilkada DKI Jakarta.

Maluku ini kebinekaannya luar biasa. Begitu juga penyelenggaraan pilkada juga semakin matang. Tahun lalu ada 260 pilkada serentak selesai (dilaksanakan). Sekarang (tahun ini) ada 101 wilayah. Saya sudah berkeliling (Indonesia), tidak ada masalah. Masalah itu cuma di Jakarta saja. Jakarta ini panjang, sampai dua putaran,” ujarnya.

“Hanya Jakarta yang ramai sekali. Itu perlu dievaluasi kita bersama,” tutupnya.(sp/dt)