Tiga PR Besar Muhammadiyah: Pendidikan Bahasa Arab, Penguasaan Turas Islam dan  Kaderisasi Dai

Gedung PP Muhammadiyah

Ust. Wahyudi Abdurrahim, Lc. M.M:

Tadi pagi di salah satu group WA, kami berdiskusi mengenai problem yang sedang berkembang di internal Muhammadiyah. Diskusi cukup hangat dan sangat konstruktif. Hasil diskusi sengaja saya sharing di sini, barangkali bisa bermanfaat dan menjadi masukan bersama:

 

Pertama: urgensi belajar Bahasa Arab. Bahasa Arab merupakan bahasa yang sangat penting penuntut ilmu. Bahasa Arab menjadi kunci dari ilmu-ilmu keislaman. Penguasaan yang baik terhadap bahasa Arab menjadi pintu masuk untuk dapat membaca literatur induk dalam pemikiran Islam. Kyai Gus Pur menyampaikan bahwa ada perbedaan ketika mempelajari al-Quran langsung dari bahasa Arab dengan sekadar dari terjemahan. Ada spirit yang hilang jika mengkaji Quran sekadar dari terjemahan saja. Muhammadiyah sendiri jargonnya adalah kembali kepada al-Quran dan Sunnah. Kedua kitab pusaka tersebut dituliskan dengan bahasa Arab. Jika kita tidak bisa memahami bahasa Arab, bagaimana kita bisa kembali kepada al-Quran dan Sunnah?

 

Sayangnya, semangat untuk mempelajari bahasa Arab di kalangan persyarikanan sangat minim. Jika diprosentasikan, sedikit sekali dari anggota persyarikatan yang mahir bahasa Arab. Bahkan mereka yang aktif di struktur Muhammadiyah, menjadi pengurus di Ortom, banyak yang tidak bisa bahasa Arab. Di kalangan AMM sendri, bahasa Arab sangat asing. Jika demikian, bagaiaman dengan jargon kembali ke al-Quran dan Sunnah?

 

 

Kedua: Penguasaan turas Islam. Para ulama terdahulu telah meninggalkan warisan intelektual yang luar biasa dari berbagai cabang ilmu pengetahuan. Sangat disayangkan jika warisan intelektual itu sekadar menjadi sejarah, padahal ia adalah permata yang sangat berharga. Para pemikir Islam kontemporer yang sangat berpengaruh di dunia Islam, semuanya menguasai turas Islam, bahkan yang dianggap liberal sekalipun. Sebut saja misalnya Syahrur, Hasan Hanafi, Arkoun, Abid Al-Jabiri, Adonis dan lain sebagainya. Maka menjadi keniscayaan bagi generasi Muda Muhammadiyah, jika ingin membangun pemikiran Islam kontemporer untuk menguasai turas Islam.

 

Kembali ke Quran dan Sunnah bukan bearti melakukan loncatan. Pemahaman Quran sunnah butuh metodologi. Sementara metodologinya ada di turas Islam. Kita tidak mungkin memulai dari nol dengan membuat metodologi sendiri, merumuskan bangunan keislaman dari awal. Sudah banyak para Imam yang memberikan rumusan secara matang. Tinggal bagaimana kita bisa memanfaatkan rumusan tadi.

 

Rumusan para imam itu ada dalam turas Islam. Ulumul hadis, ulumul Quran, ushul fikih, tafsir, Bahasa Arab, dan lain sebagainya, semuanya sudah terdokumentasikan dengan sangat baik. Tinggal sejauh mana kita bisa memanfaatkan ini secara maksimal. Jadi, penguasan turas Islam ini menjadi satu keniscayaan.

 

Ketiga: perlunya pendidikan dai Muhammadiyah. Saat ini, Muhammadiyah sudah krisis dai. Di banyak wilayah, masjid-masjid Muhammadiyah sepi pengajian karena tidak ada dai. Untuk khutbah jumah saja, banyak masjid Muhammadiyah harus “impor” khathib dari luar. Sungguh sangat miris dan memprihatinkan. Jangan kaget jika kemudian masjid Muhammadiyah pindah tangan. Ya, itu karena kita sendiri yang tidak mampu memakmurkan masjid.

 

Di sini sangat urgen agar Majelis Tablig bekerjasama dengan Majelis Tarjih untuk mengadakan pelatihan secara terprogram dan kontinyu untuk membentuk kader dai Muhammadiyah. Training para dai ini saat ini sudah sangat mendesak. Jika masjid dianggap sebagai jantungnya Muhammadiyah, maka dai ini menjadi oksigen yang bisa mengaktifkan jantung. Tanpa adanya dai, masjid Muhammadiyah sepi dan kosong dari aktivitas.