Materialisme Menggerus Akidah Umat, Di Mana Ulama Kalam?

Ust. Wahyudi Abdurrahim. Lc. M.M:

Sebelumnya saya telah menulis mengenai sekularisasi di buku diktat sekolahan yang berakibat pada turunnya nilai moral peserta didik. Sejak dibangku SD hingga Perguruan Tinggi, para siswa  diajari berbagai macam ilmu pengetahuan tanpa melibatkan Tuhan. Secara tidak sadar, kita digiring untuk melupakan Tuhan dan menghilangkan peran Tuhan dalam berbagai aktivitas kehidupan.

Di sekolahan, dampak negatifnya sangat kentara. Buku diktat itu sukses mensekulerkan anak didik. Buku diktat itu secara tidak sadar namun pasti berhasil menanamkan jiwa materialisme pada siswa.

Setelah mereka keluar dari bangku sekolahan, sikap materialisme tadi terus terbawa. Dia menjadi manusia penyembah materi. Segala sesuatu dihitung dengan kalkulasi materialis. Dalam berbagai macam aktivitas sosial, ditimbang dengan untung rugi yang bersifat keduniaan.

Tuhan benar-benar telah disingkirkan. Tuhan cukup ditaruh di pojok masjid, yang akan kita datangi tatkala dibutuhkan.

Lihat saja prilaku pengurus negeri ini. Bukankah mereka semua muslim? Tapi mengapa begitu mudah melakukan tindakan korupsi? Jawabnya sederhana, karena sudah tidak ada lagi Tuhan di hati mereka. Tuhan ada di pjok masjid saja. Buktinya mereka tetap shalat, puasa bahkan haji.

Tapi ibadah mereka itu formalitas saja, sekadar dapat menggugurkan tradisi keberislamannya. Ibadah yang sama sekali tidak mempunyai implkikasi positif dalam kehidupan sehari-hari. Meski beribadha, yang ia sembah dan ia taati adalah materi. Dia akan melakukan prilaku apa saja, untuk mendapatkan harta kekayaan, jabatan, pangkat dan seabrek prilaku duniawi lainnya.

Dalam tradisi masyarakat, silaturrahmi juga dihitung dari kalkulasi materi. Lihat saja waktu mereka punya hajat, seperti halnya acara pernikahan, pesat sakral itu akan dihitung biaya pengeluaran dan pemasukan. Para ibu itu, setelah usai pernikahan akan menghitung dan menuliskan “kado sumbangan”, dari siapa dan jumlahnya berapa rupiah? Karena kelak jika mereka punya hajat, akan disumbang sesuai dengan besaran sumbangan yang telah ia berikan.

ini masih mending. Tahlilan pun, yang oleh sebagian umat dianggap sebagai seremoni keagamaan, juga dihitung dari kalkulasi materi. Para tamu yang diundang, pulang akan mendapatkan “amplop” yang diselipkan uang beberapa ribu rupiah. Kelak jika tetangga punya musibah yang sama, maka ia juga akan memberi amplot kepada jamaah tahlil, sama dengan jumlah uang yang pernah diberikan tetangganya.

Masyarakat kita melihat bahwa mereka yang kayaraya sangat terhormat. Orang miskin dihinakan, sementara orang berduit dimuliakan. Sering orang bekerja, bukan untuk memberikan kecukupan hidup, namun untuk mencari prestis. Meski pekerjaan melanggar syariah, jika dapat meningkatkan prestis dalam kehidupan sosial, maka akan ia jalani.
Lihat juga siaran televisi. Acara yang bersifat hedonisme sangat mendominasi. TV bukan dijadikan sebagai sarana untuk memberikan informasi dan pendidikan yang baik, namun justru menjadi sarana efektif untuk menggerus moral dan akidah umat.

Sinetron yang bertemakan rebutan harta waris, perselisihan rumah tangga, perselingkuhan, kehidupan mewah dan tema merusak lainnya.

Tuhan benar-benar jauh tersingkir dari kehidupan umat. Tuhan terpinggirkan. Berhala materialisme merajalela dimana-mana. Berhala-berhala itu menjadi Tuhan baru yang mereka sembah dan taati.

Disinilah para mutakallim harus bangkit. Jika ulama kalam dulu dihadapkan pada persoalan eksistensi Tuhan akibat serangan kaum Majusi, Shabiun, Dahriyun, Athesi, Yahudi dan Nasara. Sekarang persoalan terbesar adalah paham materialism.

Ulama kalam harus bisa memformat ilmu kalam baru yang lebih sesuai guna menghadapi paham materialisme yang sangat masif. Jika tidak segera ada upaya antisipasi, maka umat semakin terjerumus ke dalam kehidupan material yang pada akhirnya akan merugikan umat baik di dunia dan akhirat.

 

Sebelumnya saya telah menulis mengenai sekularisasi di buku diktat sekolahan yang berakibat pada turunnya nilai moral peserta didik. Sejak dibangku SD hingga Perguruan Tinggi, para siswa  diajari berbagai macam ilmu pengetahuan tanpa melibatkan Tuhan. Secara tidak sadar, kita digiring untuk melupakan Tuhan dan menghilangkan peran Tuhan dalam berbagai aktivitas kehidupan.

Di sekolahan, dampak negatifnya sangat kentara. Buku diktat itu sukses mensekulerkan anak didik. Buku diktat itu secara tidak sadar namun pasti berhasil menanamkan jiwa materialisme pada siswa.

Setelah mereka keluar dari bangku sekolahan, sikap materialisme tadi terus terbawa. Dia menjadi manusia penyembah materi. Segala sesuatu dihitung dengan kalkulasi materialis. Dalam berbagai macam aktivitas sosial, ditimbang dengan untung rugi yang bersifat keduniaan.

Tuhan benar-benar telah disingkirkan. Tuhan cukup ditaruh di pojok masjid, yang akan kita datangi tatkala dibutuhkan.

Lihat saja prilaku pengurus negeri ini. Bukankah mereka semua muslim? Tapi mengapa begitu mudah melakukan tindakan korupsi? Jawabnya sederhana, karena sudah tidak ada lagi Tuhan di hati mereka. Tuhan ada di pjok masjid saja. Buktinya mereka tetap shalat, puasa bahkan haji.

Tapi ibadah mereka itu formalitas saja, sekadar dapat menggugurkan tradisi keberislamannya. Ibadah yang sama sekali tidak mempunyai implkikasi positif dalam kehidupan sehari-hari. Meski beribadha, yang ia sembah dan ia taati adalah materi. Dia akan melakukan prilaku apa saja, untuk mendapatkan harta kekayaan, jabatan, pangkat dan seabrek prilaku duniawi lainnya.

Dalam tradisi masyarakat, silaturrahmi juga dihitung dari kalkulasi materi. Lihat saja waktu mereka punya hajat, seperti halnya acara pernikahan, pesat sakral itu akan dihitung biaya pengeluaran dan pemasukan. Para ibu itu, setelah usai pernikahan akan menghitung dan menuliskan “kado sumbangan”, dari siapa dan jumlahnya berapa rupiah? Karena kelak jika mereka punya hajat, akan disumbang sesuai dengan besaran sumbangan yang telah ia berikan.

ini masih mending. Tahlilan pun, yang oleh sebagian umat dianggap sebagai seremoni keagamaan, juga dihitung dari kalkulasi materi. Para tamu yang diundang, pulang akan mendapatkan “amplop” yang diselipkan uang beberapa ribu rupiah. Kelak jika tetangga punya musibah yang sama, maka ia juga akan memberi amplot kepada jamaah tahlil, sama dengan jumlah uang yang pernah diberikan tetangganya.

Masyarakat kita melihat bahwa mereka yang kayaraya sangat terhormat. Orang miskin dihinakan, sementara orang berduit dimuliakan. Sering orang bekerja, bukan untuk memberikan kecukupan hidup, namun untuk mencari prestis. Meski pekerjaan melanggar syariah, jika dapat meningkatkan prestis dalam kehidupan sosial, maka akan ia jalani.
Lihat juga siaran televisi. Acara yang bersifat hedonisme sangat mendominasi. TV bukan dijadikan sebagai sarana untuk memberikan informasi dan pendidikan yang baik, namun justru menjadi sarana efektif untuk menggerus moral dan akidah umat.

Sinetron yang bertemakan rebutan harta waris, perselisihan rumah tangga, perselingkuhan, kehidupan mewah dan tema merusak lainnya.

Tuhan benar-benar jauh tersingkir dari kehidupan umat. Tuhan terpinggirkan. Berhala materialisme merajalela dimana-mana. Berhala-berhala itu menjadi Tuhan baru yang mereka sembah dan taati.

Disinilah para mutakallim harus bangkit. Jika ulama kalam dulu dihadapkan pada persoalan eksistensi Tuhan akibat serangan kaum Majusi, Shabiun, Dahriyun, Athesi, Yahudi dan Nasara. Sekarang persoalan terbesar adalah paham materialism.

Ulama kalam harus bisa memformat ilmu kalam baru yang lebih sesuai guna menghadapi paham materialisme yang sangat masif. Jika tidak segera ada upaya antisipasi, maka umat semakin terjerumus ke dalam kehidupan material yang pada akhirnya akan merugikan umat baik di dunia dan akhirat.