Ketum Pemuda Muhammadiyah Pekikan Takbir di Depan Mahasiswa IMM, HMI, Gema Pembebasan

Gabungan gerakan mahasiswa

Sangpencerah.id – Malang, Selasa, 21/02/2017, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Universitas Brawijaya sukses melaksanakan kajian nasional bertemakan “Peran Serta Kontribusi Mahasiswa Dalam Pembangunan Negeri”. Selaku pembicara pada kegiatan tersebut adalah Dahnil Anzar Simanjuntak, Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Periode 2014-2018. Adapun peserta pada kegiatan tersebut datang dari berbagai kelompok pergerakan mahasiswa, selain IMM, hadir pula Gema Pembebasan, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), dan beberapa warga Muhammadiyah lainnya.

Pada kegiatan yang dilaksanakan di Masjid Al Khairat tersebut, (yang merupakan ladang dakwah Muhammadiyah di Ketawanggede, Kota Malang) dibuka dengan pekikan suara takbir “Allahu Akbar!!!” 2x dan “merdeka!!!” 1x, dipimpin langsung oleh Dahnil Anzar S. Kemudian pada kesempatan itu, lebih banyak dibahas persoalan keummatan, mulai isu toleransi-intoleransi, dan isu-isu terkait perkembangan moral pemimpin bangsa.

Dikatakan bahwa Republik Indonesia tidak kekurangan jumlah orang-orang cerdas dan pintar, melainkan saat ini, bangsa Indonesia sedang miskin pemimpin yang punya integritas. “bangsa Ini tidak kurang pemimpin cerdas dan pintar, tapi kita ini miskin integritas” begitu ungkap Dahnil Anzar S.

Selain itu, melihat fenomena kebangsaan yang menjadikan Jakarta sebagai episentrum. Dahnil menyebut hal itu sebagai permainan korporasi besar dengan menjadikan satu orang sebagai pioneer permainan. Lebih lanjut, Ia juga mengungkapkan kalau pergolakan kebangsaan terutama kasu- kasus yang menyangkut persoalan agama, pada dasarnya tidak ada pergesekan ideologi. Yang ada hanyalah pertarungan para korporasi raksasa si pemegang modal besar. “bukan ideologi yang menjadi soal sekarang; bukan kapitalisme, bukan sosialisme, tapi hipotesis saya itu adalah “uangisme”, pungkasnya.

Selain itu, pada kesempatan itu pula, Dahnil Anzar menyampaikan, bola panas proses hukum yang terjadi atas kasus pendugaan “penistaan keberagaman” yang saat ini sedang berlangsung, adalah sebuah “akrobatik hukum”. Sebab, menurutnya, kasus itu adalah kasus yang mudah, hanya saja dipermainkan hingga seolah-olah susah. Lebih lanjut, Ia menyebut kembali kalau hal yang begitu disebabkan kemiskinan integritas yang melanda bangsa. Dahnil mengistilahkan dengan ketiadaan “akhlak hukum”.

Pada forum itu pula, Dahnil menjelaskan berkenaan wacana publik yang coba digiring kearah persoalan Sara, yang berujung pada tuduhan “intoleransi” umat Islam. Yang begitu harus disikapi dengan bijak. Dan hal yang begitu adalah (sekali lagi) ulah para korporasi besar. “ini bukan persoalan intoleransi, ini adalah persoalan ketidakadilan”, pungkasnya.

Ia mengaca pada sejarah bangsa Indonesia berdiri, proses pembentukan dasar negara, dan peran para tokoh Islam termasuk tokoh Muhammadiyah didalamnya, dan tokoh nasional lainnya. Dan bagaimana umat Islam dengan tulus ikhlas merelakan beberapa kata di poin pertama “Piagam jakarta” harus dihapuskan, demi kerekatan bangsa Indonesia. “kok, saat ini umat Islam dituduh intoleran, nalarnya dimana ini?” begitu ungkapnya.

Lebih lanjut, ia beranalogi begini, “mengajari toleransi kepada umat Islam di Indonesia sama halnya dengan mengajari ikatan bernafas dalam air”. Yang artinya umat Islam sudah jauh lebih paham tentang soal toleransi, bahkan sedah jauh sejak Indonesia membentuk dasar negara.
Sejarah memang menyebut bahwa peran umat Islam tidaklah kecil. Ia juga berpesan dan mengajak para mahasiswa untuk kritis dan terus memperbanyak membaca, diskusi dan aksi. “baca, diskusi, kalah diskusi, baca lagi! diskusi lagi baca lagi!” pungkasnya.

Sebab fenomena mahasiswa melakukan aksi tanpa diskusi adalah hal yang kini menjamur dimana-dimana. Dan hal yang begitu menjadi kritik keras.

Diakhir pembicaraan. Dahnil berpesan kalau perbedaan pandangan itu adalah hal yang wajar. Tapi yang menjadi poin penting adalah jangan sampai saling menghakimi pendapat satu sama lain. Kedepankan dialog, diskusi, dan berdebat yang beradab. “kalau tidak setuju dengan pendapat orang lain, datang ke forumnya, ajak diskusi, ajak dialog”, ungkapnya.

Sebab yang begitu akan mendorong “ukhuwah islamiyah”. Dan akhirnya ia berpesan bahwa sebagai pemuda harus punya integritas dan produktivitas. Integritas bermakna memiliki moralitas agung yang selalu dibawa dimanapun, dan produktivitas adalah berkenaan dengan kemampuan diri untuk terus bekerja keras dan belajar.

reporter : Azhar Syahida (IMM Brawijaya)