Hafal 30 Juz, Kader Muhammadiyah Bukittinggi Raih Kesempatan Belajar ke Jepang

SangPencerah.id– Sumatera Barat menyimpan banyak potensi anak muda Minangkabau, tidak hanya mahir berdagang bahkan juga bertalenta dari segi hafalan quran, salah satu yang bertalenta itu adalah Nindi (21) Hafizah 30 juz yang merupakan Santri PP Tahfiz Quran Muhammadiyah Sawah Dangka, Bukittinggi, Sumbar. Nindi satu-satunya utusan Sumbar lolos seleksi yang digelar PP Muhammadiyah dan sekarang mengikuti pertukaran pelajar bersama 8 orang hafizh ke negeri Sakura Jepang, Senin, (16/1/2017).

Menyikapi itu Ketua PW Muhammadiyah Sumbar Dr H. Shofwan Karim Elhusein,MA mengatakan Ini berkah dari Allah SWT, Nindi bisa ikut pertukaran pelajar ke Jepang, ini membangkitkan memori saya ketika saya ikut pertukaran pelajar tahun 1980-1985 lalu.

“Ini berkah dari Allah Swt, Nindi Santri PP Tahfiz Al-Quran Muhammadiyah Sawah Dangka, Bukittinggi bisa lolos seleksi dan sekarang sudah berada di Jepang bersama 8 mahasiswa lainnya,” ujarnya

Ketua PW Muhammadiyah Sumbar Dr. H. Shofwan Karim Elhusein mengatakan Saya ikut berbangga bahwa Nindi hafizah 30 juza tahfizh quran Muhammadiyah Sawah Dangka bisa lolos seleksi pertukaran pelajaran ke Jepang.

Katanya, Sekretaris Badan Kerjasama Hubungan Luar Negeri (BKHL) PP Muhammadiyah Dr. Wachid Ridwan pernah memberitahu saya terkait pertukaran pelajar, dimana Salah seorang santri dari Pesantren Muhammadiyah Sumbar dikirim ikut pertukaran pelajar ke luar negeri kali ini ke Jepang. Yang beruntung lulus seleksi adalah Nindi Ningsih dari Pondok Pesantren Muhammadiyah (PPM) Tahfizul Quran Muallimin Muhammadiyah Sawah Dangka, Bukittinggi.

Lanjutnya, Lolosnya Nindi juga pernah saya singgung pada pidato PW Muhammadiyah pada Peringatan Hari Bela Negara, Peresmian Qabilah Hizbul Wathan (HW), Pembukaan Kemah HW 19 Desember 2016 lalu. “Alhamdulillah, hal itu kini menjadi kenyataan. Nindi kini sedang di Jepang bersama 9 orang lain dari Indonesia,” tandasnya

Lebih jauh dia mengatakan Pertukaran pelajar, mahasiswa dan pemuda keluar negeri sudah tak asing bagi setiap negara di dunia, termasuk Indonesia. Ke Amerika sejak tahun 60-an ada program AFS yang kini disebut Bina Antar Budaya untuk Siswa SMA setahun di Amerika. Sekarang di modifikasi setahun di berbagai negara di dunia yang berkolaborasi dengan AFS Amerika. Artinya kalau dulu siswa AFS Indonesia hanya ke Amerika, sekarang mereka dapat juga ke negara lain di luar itu Amerika, seperti Jepang Australia, Negara-negara Eropa dan lainnya.

Tambahnya, Pertukaran pemuda juga sudah berlangsung lama sejak 1974-2015 Indonesia-Canada World Youth Exchange Program, kemudian menjadi Youth Leader in Action lalu menjadi Global Youth fokusnya adalah international community development, cultural exchange dan language learning lalu Kapal Pemuda ASEAN dan Jepang sejak tahun 1974. petukaran pelajar ini difokuskan pada friendship and partnership. Ada Indonesia-Australia dan Malaysia sejak 1981 fokusnya cultural exchange. Indonesia-Korea, China, India sejak 2010. Fokusnya youth collaboration. Belum lagi program irregular dengan Amerika seperti beasiswa short study pelajar, guru, studi pluralisme, budaya, bahasa, musik, kepemimpinan, wiraswasta dan pemerintahan.

Ketua PW Muhammadiyah Sumbar Shofwan Karim Pernah Ikut Pertukaran Pelajar

Ketua PW Muhammadiyah Sumbar Shofwan Karim Elhusen juga pernah menjadi participant, group leader dan county coordinator Indonesia-Canada World Youth Exchange Program, 1980/1982, 1982/1983, 1984/1985 di Alberta, Saskatchewan dan Ontario. Pada tahun 2013 dan 2015 Shofwan diminta menjadi peserta dan nara sumber untuk program review dan working session di Montreal, Halifax, Truro, Charlottetown, Ottawa dan Toronto (Provinsi Quebec, Nova Scotia, Prince Edward Island dan Ontario). Kapasistasnya sebagai Senior Executive Advisor dan President Alumni Indonesia 1989-1993.

Pertukaran siswa, mahasiswa dan pemuda, itu semua pendidikan informal dan non-degree. Kalau pendidikan formal dengan beasiswa akademik degree itu sudah rutin atau regular di puluhan universitas di Amerika, Inggris, Jerman, Arab, Mesir, Australia, Jepang, Russia dan seterusnya. Pada kaman Habibi menjadi menteri Ristek dan Ketua BPPT dulu, puluh an ribu, malah.

Keadaan itu mengalami pasang naik dan pasang surut. Pasang naik adalah pada tahun 70 sampai awal 90-an sebelum reformasi. Ketika reformasi banyak program itu yang terhenti dengan berbagai alasan baik dari dalam negeri maupun dari negara partner luar negeri.

Muhammadiyah nampaknya tidak banyak terpengaruh oleh keadaan. Secara berkelanjutan, sejak zaman Drs. H. Lukman Harun menjadi Wakil Ketua PP Muhammadiyah membidangi Luar Negeri dan Hubungan Publik, lalu lintas angkatan muda ke luar negeri melalui pendidikan formal dan informal itu cukup dinamis, banyak dan sangat menggairahkan.

Setiap bulan ada saja tokoh, warga dan pimpinan serta angkatan muda Muhammadiyah mengikuti kunjungan, seminar, workshop dan lawatan dengan berbagai tema dan agenda. Begitu pula pengiriman mahasiswa dari Muhammadiyah untuk kuliah di berbagai universitas di Timur Tengah, Amerika dan Australia, Jepang, Eropa dan Inggris cukup intensif.

Walaupun begitu, pemerataan kesempatan belum optimal. Tentu saja dengan berbagai alasan. Tetapi tetap saja peluang itu ada. Shofwan juga pernah ikuti program dari PP Muhammadiyah pada tahun 1994, 1996, 2005, 2010 dan 2011. Mulai dari Konferensi Dunia, Agama dan Perdamaian di Roma dan Riva del Garda, Konferensi Asosiasi Konstitusi dan Parlemen Sedunia di Barcelona, Sepanyol, Konferensi Konfederasi Buruh Islam Internasional di Malaysia, Workshop Universitas Terbuka oleh Konfederasi Buruh Islam Internasional di Maroko, Konferensi Nushrah lil Quds di Mesir dan lain-lain.

Sekarang dengan terus berdirinya Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah di berbagai negara di dunia, migrasi dan mobilitas demografis dan geografis warga Muhammadiyah semakin mudah. Data terakhir sudah 21 PCIM di luar negeri dan itu terus bertambah.

Pada 1-8 November 2016, Ketua PWM Sumbar ini bertemu dengan warga, mahasiswa dan AMM Muhamadiyah di Australia Barat. Kabar terbaru bahkan PP Muhammadiyah kini sedang aktif mempersiapkan Universitas Muhammadiyah Malaysia.

Jauh sebelum inisiatiaf itu, Ketua PW Muhammadiyah Sumbar 2005-2010, Drs. Rb Khatib P Kayo semasa dia masih anggota PWM ujung 1990-an sudah mendirikan bersama Muhammadiyah setempat Kolej Islam Muhammadiyah (KIM) Singapura. KIM bekerjsama dengan IAIN Imam Bonjol Padang di masa Rektor IAIN Prof. Dr. H. Mansur Malik.(sp/mn)