Tangisan Ahok Saat Bacakan Pembelaan di Pengadilan

sangpencerah.id – Siapa menyangka Ahok yang selama ini dikenal bersikap keras dan terkesan suka meledak – ledak ketika berbicara di depan publik , hari ini menampilkan sisi lain di ruang sidang Pengadilan Negri Jakarta Pusat Ahok menangis ketika membacakan nota pembelaannya pada sidang perdana dalam kasus dugaan penistaan agama

Saat membacakan pidato pembelaannya, Ahok sempat menceritakan riwayat hidupnya. Dia lahir dari pasangan keluarga nonmuslim di Belitung Timur Indra Tjahaja Purnama (almarhum) dan Buniarti Ningsing. Dia kemudian diambil menjadi anak angkat keluarga muslim asal Bugis, Makassar, Sulawesi Selatan, Haji Baso Amir.

Kecintaan keluarga Haji Baso Amir, meski hanya sebagai orang tua angkat, sangat berbekas di hati Ahok. Meski sebagai anak angkat, Ahok ingin membalas kebaikan tersebut.

Suara Ahok tertahan ketika menceritakan kisahnya merawat sang ibu angkat saat sakit hingga ke pemakaman. “Saya seperti anak tak tahu berterima kasih apabila saya tidak menghargai agama dan kitab suci orang tua angkat saya, dan beliau adalah pemeluk Islam yang sangat taat,” kata Ahok, kali ini suaranya bergetar.

Salah seorang kuasa hukum kemudian memberikan tisu kepada Ahok. “Saya sangat sedih dituduh menista agama Islam. Tuduhan itu sama saja saya menista orang tua angkat saya sendiri,” kata Ahok.

Kemudian, sambil sesenggukan, Ahok menceritakan hal-hal pribadi. Yakni dirinya tak mungkin menodai agama yang dianut orang tua angkat Ahok. Dia sangat menghormati orang tua angkatnya yang Muslim.

Selanjutnya berkaitan dengan persoalan yang terjadi saat ini, Ahok mengatakan “saya diajukan di hadapan sidang, jelas apa yang saya utarakan di Kepulauan Seribu, bukan dimaksudkan untuk menafsirkan Surat Al-Maidah 51 apalagi berniat menista agama Islam, dan juga berniat untuk menghina para Ulama. Namun ucapan itu, saya maksudkan, untuk para oknum politisi, yang memanfaatkan Surat Al-Maidah 51, secara tidak benar karena tidak mau bersaing secara sehat dalam persaingan Pilkada”.

Dalam eksepsinya antara lain berisi penegasan Ahok yang tak bermaksud menodakan agama. Ahok juga mengutip buku yang ditulisnya, memuat pemahaman mengenai latar belakang ucapan Ahok berdasarkan situasi yang sering dia temui sejak di Belitung Timur.