Inilah Sejarah Dibalik Diperingatinya Hari Ibu 22 Desember

Sangpencerah.id – Hari Ibu Nasional dilandasi Surat Keputusan (SK) Presiden No 136 tahun 1959. Dibalik SK tersebut terdapat sejarah lain yang melandasi tercetusnya Hari Ibu Nasional pada tanggal 22 Desember, yaitu melalui gerakan perempuan pada Kongres Perempuan I di Yogyakarta pada tanggal 22-25 Desember Tahun 1928.

Dalam rilis media resmi Muhammadiyah.or.id , Noordjanah Djohantini, Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah menjelaskan ‘Aisyiyah sebagai organisasi perempuan Muhammadiyah menginisiasi Kongres Perempuan I di Yogyakarta. Terdapat dua tokoh yang mewakili ‘Aisyiyah dalam Kongres tersebut, yaitu Siti Munji’ah dan Siti Hayinah.

“Sebagai organisasi perempuan Muhammadiyah, ‘Aisyiyah adalah salah satu inisiator dari Kongres perempuan pertama di Yogyakarta,” Jelas Noordjanah, Rabu (21/12).

Selain itu, di tanggal 22 Desember 1928 ditandai dengan menggeliatnya kaum perempuan di tanah air dengan berhasilnya menyelenggarakan Kongres Perempuan I. Kongres yang di tengah rintangan dari kaum kuno yang masih mencintai adat tua.

“Kaum kuno pada masa itu menyatakan bahwa kaum istri (perempuan) tidak perlu berkongres-kongres, cukup di dapur tempatnya, kaum perempuan belum matang dan belum bisa berdamai dalam perkumpulan,” ujar Noor.

Noor juga mengatakan, jika berbicara Hari Ibu tidak terlepas dari betapa besarnya peran kaum perempuan di dalam berjihad pada persoalan-persoalan Bangsa Indonesia yang lebih luas. “Karena tujuan dari kongres tersebut yaitu untuk mengambil peran perempuan dalam perjuangan memajukan Bangsa Indonesia,” ucapnya.

Peringatan Hari Ibu di Indonesia jangan disamakan seperti peringatan Hari Ibu di negara lain, walaupun ujar Noor, seorang Ibu memilki keluar biasaan yang sama. “Karena perempuan pada dasarnya memiliki tanjung jawab utama dan pertama dalam mengawal generasi yang akan datang,” ujarnya.

Hari Ibu di Indonesia, tegas Noor, harus diperingati dalam hal memajukan Bangsa Indonesia. “Hari Ibu jangan hanya dijadikan seremoni semata, namun dijadikan kebangkitan perempuan dalam mengambil peran pada memajukan dan mensejahterakan Bangsa Indonesia,” tegasnya.

Di abad kedua, ‘Aisyiyah terus meneguhkan peran dalam mengatasi kendala bangsa, umat dan universal, dan menjadikan apa yang telah dilakukan sebagai lahan dakwah ‘Aisyiyah.

“Marilah kita bersama-sama merefleksikan berbagai persoalan yang ada di masyarakat saat ini, dengan mencari solusi dan mengambil peran untuk mewujudkan Bangsa Indonesia yang sejahtera, dan perempuan Indonesia yang berkemajuan,” tutup Noor.(sp/muh.id)