​Himbauan PP Pemuda Muhammadiyah Pada Dampak Gempa Aceh

Sangpencerah.id – Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah melalui Bidang Kesehatan dan Kesejahteraan Masyarakat mengapresiasi gerakan kemanusiaan yang mulai melaksanakan recovery di Aceh Pidie Jaya. Kami juga menghimbau agar dalam melaksanakan aksi aksi humanitarian tetap memperhatikan kondisi kejiwaan dan duka para pengungsi.
Situasi Gempa Aceh di Pidie Jaya telah membawa korban yang tidak sedikit (100 orang meninggal dan 23.231 pengungsi), kerugian harta benda, kerusakan sarana dan prasarana, cakupan luas dampak bencana, dampak sosial ekonomi dan persoalan kemanusiaan yang butuh pemulihan panjang. Terutama bagi para keluarga yang wafat dan berhadapan dengan situasi pengobatan yang panjang. Belum lagi beban hidup ke depan yang belum terbayangkan.

‘Untuk respon cepat dalam sasaran pelayanan menjadi penting disusun mulai dari Bayi, Balita, Anak Anak, Ibu Hamil dan Menyusui, Penyandang Disabilitas, Lansia dan keluarga pada umumnya”, ucap Jasra Putra selaku Ketua PP Pemuda Muhammadiyah bidang Kesehatan dan Kesejahteraan Masyarakat.

Jasra menjelaskan langkah-langkah penanganan secara sistematis harusnya sudah menjadi perhitungan pemerintah dan masyarakat dalam menggalang bantuan, pengentasan permasalahan dilapangan dan pemulihan. Yang dapat dimulai konsentrasinya mulai dari Pendataan, Inventarisir lokasi aman untuk tempat tinggal sementara pengungsian, pemenuhan kebutuhan dasar, rehabilitasi pasca bencana dan rekonstruksi pasca bencana. Dalam hal rehabilitasi, rekonstruksi, pelajaran dari tsunami dan gempa lainnya di Aceh harus jadi perhitungan dalam pembangunan kedepan.

Tentunya tidak sedikit warga yang kehilangan anggota keluarganya dan menjadi kesedihan yang teramat dalam. Untuk itu penting bagi para pendatang yang melihat di lokasi memperhatikan dan mengedepankan empati dan perhatian khusus dibanding menambah trauma dengan menanyakan kejadian yang dapat mengulang kesedihan, ketakutan dan trauma. Lebih baik perlihatkanlah kepedulian, ajak aktifitas keagamaan semisal menguatkan dengan mengambil hikmah di setiap kejadian. Karena kesedihan yang larut dan mendalam untuk beberapa warga, damping secara personal dan instens, usahakan pendamping mengerti tentang dunia psikososial.

Menjadi pengungsi juga tidak mudah, ketika jangka waktu tinggal dipengungsian mulai berhari-hari, apalagi itu buat anak anak yang tidak sekuat orang dewasa. Biasanya penyakit mulai timbul dalam seminggu kedepan dipengungsian seperti batuk, panas atau lembab, pilek dan gangguan pernafasan lainnya. Untuk itu perlu diperhatikan mulai dari sanitasi dan kesehatan para pengungsi.

Dalam mengumpulkan donasi diharapkan mempercayai pihak pihak yang menjadi pusat koordinasi penanganan Bencana, seperti BNPB, Kementerian Sosial, Dinas Sosial, Organisasi atau Ormas Ormas setempat yang menjadi pusat informasi penanganan.

“Perhatian pada kelompok rentan menjadi hal khusus dalam penanganan Bencana seperti Anak anak, Perempuan, Penyandang Disabilitas dan Lansia. Utamakanlah bantuan terlebih dahulu buat mereka. Karena berada dalam waktu lama di pengungsian bukan hal mudah bagi mereka”, tambahnya.

Semoga kerja kerja dengan pendekatan filantropi, pendekatan pekerjaan sosial dan pendekatan administrasi sosial dapat bersinergi dan segera memulihkan dan membangkitkan SEMANGAT ACEH. Beberapa himbauan ini semoga menjadi perhatian banyak pihak.(sp/red)