Warga Muhammadiyah, Kita Kawal Kasus Ahok dan Hentikan Hujatan Pada Buya Syafii

SangPencerah.id- Kasus penistaan agama yang diduga dilakukan Gubernur DKI Jakarta non Aktif, Basuki Tjahaya Purnama semakin memanas. Perdebatan-perdebatan panas pun, terus dilakukan. Baik didunia nyata maupun didunia maya.

Pasca aksi 4 November 2016, Ketua Umum PP Muhammadiyah. Dr.Haedar Nashir sendiri sudah mengajak masyarakat, khususnya umat islam untuk tetap santun, aman dan menjaga uswah hasanah. “Tunjukkan sikap damai yang menebarkan suasana aman, tenang dan sejuk. Buktikan kepada masyarakat luas bahwa umat Islam dalam keadaan apapun mampu memberikan uswah hasanah atau suri teladan yang baik,” ungkapnya Seraya dengan itu umat Islam harus turut menghindari ujaran-ujaran dan himbauan-himbauan yang dapat memanaskan situasi dan dapat berpotensi provokasi yang membuat sebagian warga umat bertindak menjurus pada tindakan yang tidak diinginkan.

(baca juga, Haedar Nashir: Pasca Aksi, Mari Tunjukkan Islam Yang Damai, Sejuk dan Uswah Hasanah)

“Tampilkan peran umat Islam sebagai ummatan wasatha dan syuhada ala an-nas yaitu umat tengahan dan saksi yang selalu hadir menyebarkan rahmat alam semesta. Jangan terpancing dengan anjuran atau provokasi siapapun dan atas nama apapun, yang tidak memcerminkan akhlak baik serta dapat merugikan umat Islam sendiri,” kata Ketua Umum PP Muhammadiyah pertama yang berasal dari Jawa Barat ini.

Mendengar pernyataan yang menyejukkan dari Ketua Umum PP Muhammadiyah ini, meskipun saat ini kita berbeda pandangan dengan sesama umat Islam, termasuk dengan Buya Syafii Maarif yang notabenenya Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, hendaknya kita sebagai warga Muhammadiyah untuk dapat menunjukkan sikap terbaik kita, mampu mengontrol emosi dan membuktikan bahwa kita bagian dari ormas Islam teladan. Mari kita lihat sikap Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Periode 2005-2015, yang memilih untuk tidak berdebat  dimuka  umum dengan tidak menghadiri undangan ILC. Hendaknya sikap ini kita refleksikan kembali pada diri kita masing-masing, untuk tidak saling menghujat sesama muslim, apa lagi sesama warga Muhammadiyah.

Apa yang disampaikan Buya adalah pendapat pribadi, bukan pernyataan resmi organisasi. Anggaplah itu sebagai konsekuensi logis dalam ruang demokrasi. Bagaimanapun, Buya Syafii adalah sosok besar yang telah mencurahkan tenaga dan pikiran, telah turut serta dalam menorehkan sejarah untuk membesarkan bangsa dan persyarikatan.

Tetapkan sikap kita untuk terus membela Islam, dan terus mengawal kasus penistaan agama. Mari salurkan energi kita untuk tetap meningkatkan ukhwa. Tetap fokus meningkatkan kualitas diri, karena ke depan masih banyak agenda strategis umat Islam yang harus dilakukan secara kolektif untuk menjadi umat terbaik di negeri tercinta ini. (red/ja)