Bangun Ribuan Jamban di Pegunungan, Alumni Unmuh Palu Raih Penghargaan Nasional

Herman dan rekan kerja saat perjalanan menuju Dusun Padalempe, dusun paling jauh di Menyoe.

SangPencerah.id– Brrmmm… brrmmm… brmmmm…” bunyi ojek motor tua di atas jalan berbatu jadi awal perjalanan Herman F. Langkamuda menuju Desa Menyoe. Herman tak sendiri. Ia bersama rekan kerja lain dari bagian imunisasi, malaria, dan kesehatan ibu anak serta yang lainnya menuju desa terjauh dalam wilayah Puskesmas Pandauke, Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah itu.

Setelah menempuh dua jam perjalanan, Herman dan rekan-rekannya sampai di Desa Ijo. Ojek yang ditumpanginya tak bisa lagi melanjutkan perjalanan. Herman pun melanjutkan naik rakit melewati sungai menuju muara Desa Uepakato. Butuh waktu satu jam lebih untuk mencapai tempat tersebut. Tak bisa sampai ke Desa Menyoe di hari yang sama, Herman pun bermalam di Desa Uepakato.

Esok harinya, pagi-pagi benar Herman sudah bangun dan siap-siap berangkat menuju desa tujuan, Menyoe. Sekitar pukul 06.00 Herman dan tim berangkat. Jika terlalu siang bisa memperlambat sampai tujuan. Untuk mencapai lokasi bukan naik mobil, bus, ataupun motor. Tak ada cara lain mereka berjalan kaki menyusuri pinggir Sungai Menyoe.

“Kalau berangkat pagi-pagi berangkat sampai Desa Menyoe itu sekitar jam lima atau setengah enam sore. Jadi butuh dua hari kami bisa sampai Menyoe,” tutur Herman.

Dalam perjalanan ke Desa Menyoe, ia sering melihat pemandangan orang yang sedang jongkok di antara batu-batu. Biasanya di tengah sungai yang airnya tidak dalam dan banyak batu di tempat tersebut. Bukan sedang mengail atau mencari ikan, rupanya ia sedang buang air besar.

“Biasanya laki-laki yang buang air besar di tengah-tengah sungai. Kalau wanita mereka biasanya BAB di belakang batu-batu besar, jadi hanya kepalanya yang terlihat,” kata Herman menuturkan pengalamannya.

Pemandangan masyarakat Menyoe buang air besar sembarangan (BABS) biasa ia temui pada awal bekerja sebagai tenaga kesehatan masyarakat pada 2005 silam. Setelah Herman mencari tahu, rupanya masyarakat Desa Menyoe tak memiliki jamban sama sekali.

Kebiasaan BABS pada masyarakat Menyoe ini bisa membahayakan kesehatan mereka sendiri. Penyakit disentri bisa mengintai akibat kebiasaan tersebut. Herman pun berupaya memberitahu pentingnya memiliki jamban untuk BAB.

Sehingga setiap tiga bulan sekali, saat ada kunjungan tim Puskesmas Pandauke ke wilayah ini, ia rutin memberikan penyuluhan kepada masyarakat setempat. Namun tak bisa sembarangan berbicara dengan mereka. Herman harus bisa berbaur agar diterima.

“Saya harus menyesuaikan dengan mereka. Saya pakai bahasa mereka sehari-hari supaya mengerti. Jadi saya pakai bahasa Wana, bahasanya suku Ta,” tuturnya.

Selain menyesuaikan bahasa, pakaian yang Herman kenakan tidak boleh sembarangan. “Kalau pakai baju keren, terlalu rapi malah jangan. Lebih baik pakai kauas yang biasa saja agar tidak terlalu ada perbedaan dengan mereka,” katnya.

Tak hanya memberikan penyuluhan pada warga tentang dampak buruk BABS, Herman pun mengadvokasi pemerintah. Setelah berjuang beberapa lama, pemerintah memberikan bantuan pembangunan jamban.

Namun jangan salah, untuk membawa material tersebut butuh perjuangan. Semen, seng, besi, bowel, dan aneka material lain harus dipikul berhari-hari karena dibawa dari Pandauke.

Akhirnya untuk pertama kali hadir delapan jamban di Desa Menyoe. Satu jamban bisa digunakan untuk sekitar tiga keluarga.

Seiring berjalannya waktu masyarakat di desa tersebut pun membangun jamban darurat. Kini sudah ada 17 keluarga yang membangun jamban darurat. Memang baru dua persen dari total 900-an warga Menyoe yang BAB pada tempatnya. Meski begitu, ini sudah jadi peningkatan tersendiri bagi Herman.

“Paling tidak sudah ada masyarakat tahu pentingnya buang air besar di jamban,” kata pria lulusan strata satu Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Palu, Sulawesi Tengah.

Tantangan bangun jamban

Herman saat di Istana Negara
Herman saat di Istana Negara

Tak harus toilet dari bangunan, bisa juga jamban darurat sebenarnya sebagai tempat buang air besar. Untuk bisa membangun jamban seperti ini butuh dana sekitar satu juta rupiah. Namun sayang, beragam kendala masih muncul.

“Faktor ekonomi jadi masalah besar di sini. Masyarakat di sini bekerja sebagai petani dengan menanam padi, ubi, dan jagung. Untuk menjual hasil panen saja sulit karena mereka harus berjalan ke kota menjualnya. Jadi ya penghasilan mereka tidak banyak,” ucap Herman.

Herman pun sudah berupaya mendekati pemerintah kembali. Namun mereka mengatakan sebagian besar warga hanya pulang ke rumah pada Sabtu-Minggu, sehingga sulit untuk membangun jamban.

Tak hanya di Menyoe

Kasus BABS tidak hanya ada di Desa Menyoe, tapi juga di delapan desa di pesisir pantai serta lima desa pegunungan lain. Tentu ini jadi pekerjaan menantang bagi Herman. Ia pun terus berjuang agar jumlah warga yang BABS terus menurun, caranya? Melalui advokasi dan penyuluhan pentingnya BAB di jamban.

Perlahan tapi pasti, jerih payah Herman mulai terlihat. Saat awal ia bekerja hanya 25,5 persen yang buang air besar di jamban dari 6.000 penduduk di Kecamatan Mamosaloto ini. “Tapi kini pada 2016 dari sekitar 9000-an penduduk sudah ada 71,41 persen yang buang air besar di jamban,” tuturnya senang.

Berkat kerja kerasnya, pria kelahiran Lemo, 10 Februari 1982 ini pun terbang ke Jakarta mendapatkan penghargaan. Bersama 216 tenaga kesehatan tingkat puskesmas lainnya, ia berhasil meraih gelar Tenaga Kesehatan Teladan 2016 dari Kementerian Kesehatan.

(baca juga : Minim Perhatian Negara, Temuan Energi  Lulusan SMK Muhammadiyah Padang Ungguli Amerika )

Rasa senang pasti muncul di benak Herman. Namun ia mengakui kalau pencapaian ini semata-mata bukan hanya karena kerja kerasnya saja. “Ini bukan karena saya saja. Ini terwujud karena ada kemauan dari masyarakat. Juga erat kaitannya kerja sama dengan lintas sektoral termasuk pemerintah,” ucap Herman. (sp/le)