Lulusan SD Muhammadiyah 1 Palembang Ini, Kini Menjadi Seorang Menteri

SangPencerah.id- Berpegang kepada nasehat orang tua, yakni “Jadilah orang yang punya arti dan bermanfaat” adalah salah satu kunci kesuksesan Budi Karya Sumardi, yang dipercaya Presiden Republik Indonesia (RI) Joko Widodo, menduduki kursi jabatan Menteri Perhubungan.

Dibalik melesatnya karir seorang BKS, sapaan akrab Budi Karya Sumadi, tak banyak netizen yang tahu bahwa selama enam tahun, ia ditempa pada¬† pendidikan formal sekolah Muhammadiyah. Hal ini dibenarkan oleh Pria asal Bumi Sriwijaya ini “Iya benar saya mengenyam pendidikan di SD Muhammadiyah 01 Kota Palembang, selanjutnya melanjutkan jenjang pendidikan di SMP Negeri 01 Kota Palembang”, ujarnya kepada redaksi SangPencerah.id¬†

Budi lahir di Palembang, 18 Desember 1956. Budi yang sebelumnya menjabat Direktur Utama PT Angkasa Pura II, memasuki pendidikan dasar di SD Muhammadiyah 01 Bukit Kecil, Kota Palembang pada tahun 1963, dan ia menyelesaikan pendidika dasarnya pada Tahun 1969.

Sri Rahayu, kakak kandung BKS saat jumpa pers pernah menceritakan bagaimana Budi adalah sosok anak yang periang ketika ia menginjak di Sekolah Dasar (SD) Muhammadiyah Palembang. Meski tidak memiliki prestasi yang cukup membanggakan, Budi selalu berpedoman terhadap pesan orang tua, yang membuat dirinya banyak disukai teman-temannya dan guru.

“Orang tua kami selalu berpesan, Jadilah orang yang punya arti dan bermanfaat bagi orang lain. Seperti kami ketujuh saudaranya, selalu diberikan pesan oleh orang tua, dan itu sepertinya diterapkan oleh Budi yang merupakan anak ke-enam,” tuturnya.

Ia menambahkan, Budi merupakan anak ke-enam dari delapan bersaudara buah hati dari Abdul Somad Sumadi dan Kusmiati. Budi lahir dan dibersarkan di Jalan Cipto Palembang. “Ayah kami merupakan seorang pejuang veteran dan politikus. Sama seperti anak-anak lain, kami dibesarkan bersama dan Budi menjadi salah satu anak yang cukup manja dengan kakak-kakaknya,” terangnya.

Sedangkan sang ibu, Kusmiati bekerja sebagai guru TK yang kemudian menjadi anggota DPRD Sumsel tahun 1956-1959. Sang ibu juga pernah menjadi pimpinan Redaksi Obor Rakyat yang terbit tahun 1962.
Pria yang biasa dipanggil Budi Karya atau BKS ini, menghabiskan masa kecil di kota kelahirannya. Kala itu, waktu usianya menginjak 10 tahun Budi Karya sempat membantu usaha orang tuanya berjualan sabun, lilin, makanan kering, dan selai pisang. Barang jualan tersebut didatangkan dari luar daerah. Budi kecil menjual barang dagangan tersebut dengan dua metode yaitu menitipkan di warung dan menjajakan sendiri ke calon pembeli.
BKS Mengawali karier sebagai arsitek perencanaan di Departemen Real Estate PT. Pembangunan Jaya, prestasi Budi Karya terbilang gemilang. Bahkan, ketika ia sukses menyabet kursi Direktur Utama PT. Pembangunan Jaya Ancol Tbk. dan PT. Jakarta Propertindo yang merupakan bagian Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), Budi Karya banyak terlibat di berbagai proyek ibukota.
Salah satu proyek yang pernah dibangun oleh PT. Jakarta Propertindo di bawah kepemimpinan Budi Karya yaitu revitalisasi taman kota Waduk Pluit dan Waduk Ria-Rio, penyelesaian rumah susun sederhana sewa (rusunawa) di Marunda, serta Electronic Road Pricing (ERP).
Atas kesuksesannya, Budi Karya juga dipercaya untuk memimpin Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yaitu PT. Angkasa Pura II yang mengelola 13 bandara di Indonesia termasuk Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Budi Karya dan Presiden Joko Widodo sudah saling mengenal bahkan, sejak Presiden Joko Widodo masih menjabat sebagai gubernur Pemprov DKI Jakarta. Pada Reshuffle Kabinet Jilid II yang dissampaikan di Istana pada tanggal 27 Juli 2016, Budi Karya terpilih sebagai Menteri Perhubungan menggantikan Igniatus Jonan. Sebelumnya, Budi Karya sering bersebrangan dengan pemikiran dan keputusan Igniatus Jonan.
Salah satunya, Budi Karya menolak permintaan Igniatus Jonan untuk mencopot General Manager Bandara Soekarno-Hatta akibat kesalahan ground-handling yang dilakukan maskapai Lion Air 10 Mei silam. Selain itu, Budi Karya juga sempat kembali berbeda pandangan dengan Igniatus Jonan masalah aktivasi Bandara Ultimate Soekarno-Hatta. Menurut Jonan, Infrastruktur belum siap dan belum adanya menara pengawas.
Saat dilantik sebagai Menteri Perhubungan, Budi Karya mengaku dititipi dua pesan oleh presiden yaitu dirinya diminta untuk memperbaiki masalah konektivitas baik untuk jalur darat, laut, maupun udara. Lalu pesan kedua, dirinya diharapkan mampu memberdayakan stakeholder yang artinya masyarakat harus mendapatkan pelayanan maksimal.
Itulah sosok Budi Karya Sumadi, satu diantara jutaan alumni yang dilahirkan dari sekolah Muhammadiyah, dan kini mengabdi untuk negeri (sp/vv-rm)