Makanan ‘Ditilang’ Media Geram, Nyawa Hilang Melayang Media Bungkam

SangPencerah.com- Ramadhan kali ini kita, khususnya keluarga Persyarikatan Muhammadiyah benar-benar mengalami cobaan-cobaan yang begitu berat. Pertama kabar dari Bireuen, Provinsi Aceh, dimana disitu pendirian Masjid Muhammadiyah dipersulit hingga dilarang. Muncul pula kontak fisik hingga jatuh korban. Kemudian muncul lagi kabar duka dari Sulawesi Tenggara, nyawa anak tak berdosa, anak kandung Tokoh Muhammadiyah Sulawesi Tenggara dikabarkan meninggal dalam tahanan Kepolisian. Tuduhan-tuduhan pun tak jelas, dan kini keluarga korban sedang menuntut keadilan.

Kasus di Aceh menunjukkan adanya  intoleransi yang  dilegitimasi negara, sedangkan kasus kedua memunculkan dugaan pelanggaran HAM yang dilakukan aparat keamanan. Ironisnya kedua kasus ini seolah sepi dari pemberitaan, tak banyak netizen yang memperbincangkan, seolah-oleh media benar-benar bungkam.

Ditengah peliknya kedua kasus diatas, muncul kehebohan baru yang memicu perhatian publik. Demi menegakkan Perda saat Ramadhan, Satpol PP Kota Serang merazia warung makan Tegal milik Ibu Sayeni. Tindakan Satpol PP ini dikecam Netizen dan media-media pun mempublikasi dengan geram. Aksi spontanitas penggalangan dana pun dilakukan, dan terkumpulah ratusan juta rupiah dalam waktu cepat, termasuk sumbangan dari Presiden RI Joko Widodo. Tidak hanya sampai disini, Pemerintah pun merencanakan akan mencabut berbagai Perda yang dikatakan “meresahkan”. Ironisnya Perda-Perda itu mayoritas berkonten Islam.

Membandingkan kasus antara hilangnya nyawa di Kendari yang belum jelas dosa dan tuduhannya dengan hilangnya makanan di Serang, nurani kita benar-benar tersentak. Aliran porsi  informasi itu benar-benar tidak adil, reaksi pemerintah pun begitu jauh berbededa. Semua ini terjadi di Negara Indonesia, negeri yang mayoritasnya Islam, negeri yang yang senantiasa mengagung-agungkan HAM. (sp/jwt)