Mahasiswi UM Surabaya, Temukan Pulpen Pendeteksi Makanan Berbahaya

SangPencerah.com- Beragam menu makanan murah ketika bulan puasa dengan mudah dijumpai di pinggir jalan apalagi ketika menjelang waktu berbuka puasa. Tapi siapa sangka menu makan yang dijual oleh pedagang kaki lima itu berasal dari olahan bahan yang sehat.

Karena praktik menggunakan bahan kimia berbahaya sebagai campuran makanan kerap kali diungkap Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melalui berbagai kegiatan inspeksi mendadak.

Berlatar belakang dari hal ini, Risma Kartika dan Rofiah Faradillah, mahasiswa analis kesehatan Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMS) menciptakan tiga jenis alat yang menyerupai bolpen berfungsi untuk mendeteksi zat kimia berbahaya yang terkandung dalam makanan.

“Masing-masing pulpen berisi satu larutan yang berfungsi mengurai zat yang terkandung dalam makanan. Caranya biasa tempatnya tinta itu kita ganti dengan larutan khusus yang berguna untuk mendeteksi boraks, pewarna tekstil dan iodium,” tutur Risma Kartika ditemui di kampusnya Selasa (14/6/2016).

Pulpen untuk melihat kandungan boraks, dijelaskan Risma diisi dengan larutan kunyit yang sudah diekstraksi.

Ketika diujikan pada dua jenis pentol yang terbuat dari bahan  yang benar-benar aman bagi tubuh dan satunya ada campuran boraks, ketika di tetesi pada pentol itu maka yng mengandung boraks warnanya akan berubah dengan sendirinya.

“Pentol tanpa mengandung boraks Rekasi larutan itu warnanya tetap. Namun, jika pentol mengandung boraks akan berubah menjadi warna kecokelatan,” tutur mahasiswi semester dua prodi analis kesehatan.

Kandungan yang ada pada kunyit, diungkapkan Risma merupakan kurkumin yang mengandung senyawa aldehit. Karena itu, jika senyawa ini bertemu dengan basah yang kuat, maka akan terjadi reaksi perubahan warna.

Zat pewarna tekstil, Risma mengatakan menggunakan natrium bicarbonate atau biasa dikenal soda kue. Dan ketika diujikan pada dua tahu kuning yang didapatnya dari pasaran.

“Setelah ditetesi larutan, ada tahu yang warnanya tetap mentereng dan ada yang berubah warna menjadi lebih cokelat. Kalau pakai pewarna tekstil, dikasih larutan ini dia tidak akan berubah warna. Tetap mencolok seperti semula,” kata dia.

Pada pulpen yang ketiga berfungsi untuk menguji kadar iodium dalam garam. Larutan itu dibuatnya dari campuran kalium iodide, asam fosfat dan amilum (tepung kanji).

“Konsentrasi yang digunakanan adalah satu untuk kalium dan asam fosfat banding sepuluh amilum. Garam yang sehat adalah garam yang mengandung iodium. Untuk mengetahuinya, dengan ditetesi larutan ini garam akan berubah warna menjadi ungu,” urainya.

Sementara itu, Rofiah Faradillah menambahkan, alat yang dinamakan Aditif Quick Check Set Pen (Aqice Pen) ini sangat praktis. Selain bentuknya yang simpel, mudah di bawa kemana-mana, cara kerjanya pun sangat cepat. Orang tidak perlu menunggu waktu lama untuk mengetahui hasilnya.

“Kita cukup ambil sebagian dari makanan kemudian kita tetesi dua sampai tiga tetes saja. Hasilnya, akan terlihat dalam waktu dua sampai tiga detik,” tutur mahasiswi semester IV ini.

Sampel untuk penelitian, tambahnya. Di dapat dari 10 pasar yang berbeda di Kota Surabaya dan hasilnya bahan dari tujuh pasar berbeda mengandung pewarna tekstil.

“Sedangkan yang mengandung boraks, ditemukan pada delapan bahan makanan dari delapan pasar berbeda. Dan saya berharap alat ini bisa membantu masyarakat dalam mencari bahan makanan yang benar-benar sehat tanpa zat kimia berbahaya,” harapnya. (sp/beritajatim)