Peraih Nilai UN Tertinggi Di Kukar, Pilih lanjutkan Pendidikan Ke Universitas Muhammadiyah

SangPencerah.com- ujian sekolah, para siswa biasanya belajar ekstra sampai-sampai waktu bersantai dan istirahat berkurang, agar meraih nilai tinggi. Ternyata langkah itu tidak sepenuhnya benar, justru saat belajar sesorang tidak boleh memaksakan diri. Bila merasa lelah, tubuh harus diberi waktu untuk istirahat dan bersantai agar materi yang sudah dipelajari tidak hilang dari ingatan.

Terori itulah yang mengantarkan tiga siswi SMK Farmasi Tenggarong, Cica Dwi Cahya, Fitri Rahmadani dan Nur Sri Wahyuni meraih nilai Ujian Nasional (UN) tertinggi tingkat SMK se-Kukar. Bagi Cica, waktu istirahat sangatlah penting. Untuk itu usai pulang sekolah dirinya selalu menyempatkan untuk tidur sekalipun waktu ujian sudah dekat. Gadis kelahiran Kediri 19 Desember 1997 itu biasanya belajar pada sore hari, sembari mengisi waktu senggangnya. Tak hanya mengandalkan buku-buku panduan, Cita juga mencari sejumlah refrensi soal dari internet.

Saat jenuh dengan mata pelajaran, Cica kerap meluangkan waktunya untuk belajar menari karena memang sejak SD, Cica telah menggeluti seni tari. Kini berdasarkan hasil UN 2016, Cica ditetapkan sebagai peraih nilai tertinggi tingkat SMK ke-Kukar dengan total nilai 368,1. “Belajar gak boleh dipaksain, harus rileks, kalau capek ya istirahat,” tutur peraih juara tiga Olimpiade Matematika tingkat kabupaten tersebut.

Hal senada diutarakan Fitri Rahmadani alias Vivi yang meraih nilai tertinggi kedua tingkat SMK dengan total nilai 367,8. Bagi pelajar kelahiran Tenggarong 21 Desember 1998 tersebut, yang terpenting bagaimana membuat suasan belajar menjadi nyaman. Bisa belajar ditemani orang tua atau berlajar bersama teman-teman.

Selain beristirhat, menjaga pola makan juga sangat penting. Untuk itu Vivi sangat menyukai ikan nila dan ikan patin. Bermodal nilai yang diraihnya, Vivi berencana melanjutkan pendidikan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta jurusan Keperawatan. “Gak maksain pelajaran masuk, nanti kalau dipaksain malah hilang, subuh bagus juga untuk belajar,” tutur gadis yang juga hobi menari itu.

Tak hanya Cica dan Vivi, kiat serupa juga diungkap Nur Sri Wahyuni yang berada di posisi ketiga dengan total nilai 357,2. Bagi siswi kelahiran Muara Bengkal 19 September 1998 itu, selain belajar menjaga kebugaran fisik merupakan suatu yang wajib menjelang ujian. Beruntung Sri sangat hobi berolahraga seperti lari, bermian basket, bulu tangkis hingga futsal. Bahkan beberapa waktu lalu, bersama timnya, Sri berhasil meraih juara ke dua dalam tunamen futsal liga Farmasi. “Belajar enggak pernah maksain, kadang siang kadang juga malam, kalau capek istirahat,” ujarnya (sp/rk).