Bupati Sorong Berharap Muhammadiyah Terus Memperluas Jaringan Pendidikan Di Papua Barat

SangPencerah.com- Bupati Sorong, Provinsi Papua Barat, Stephanus Malak merupakan salah satu bupati yang dinilai berhasil memajukan wilayah. Dia diundang oleh panitia Konvensi Nasional Indonesia Berkemajuan (KNIB) 2016 untuk berbagi pengalaman.

Dia tampil bersama dengan sejumlah bupati, walikota dan mantan walikota yang dinilai berhasil memajukan daerahnya. Forum dialog yang digelar di gedung AR Fachruddin lantai 5 kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) di Tamantirto, Kasihan Bantul. Selain Stephanus Malak, hadir pula Bupati Batang Yoyok Riyo Sudibyo, Bupati Bojonegoro Suyoto atau Kang Yoto, Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil dan Wali Kota Yogyakarta dua periode 2001-2011, Herry Zudianto. Stephanus Malak oleh moderator diberikan kesempatan tampil urutan pertama.

“Saya merasa tersanjung mendapat undangan hadir dalam acara ini,” ungkap Stephanus Malak memulai pidatonya.

Dia pun kemudian menceritakan perjalanan kariernya mulai dari wakil bupati hingga menjabat bupati selama 2 periode. Menurut dia, daerah Sorong dengan luas sekitar 16 ribu meter persegi itu ada banyak orang yang menganggap merupakan daerah yang tidak menjanjikan.

“Saat saya memimpin, saya sudah punya tekad kuat untuk membangun dan berani tampil beda,” paparnya. Malak bertekad memajukan daerah. Salah satunya adalah mempercepat pembangunan infrastruktur, terutama jalan-jalan penghubung ke daerah lain.

“Jalan itu sangat penting, karena itu akses ekonomi warga,” katanya. Menurut dia, wilayah Sorong, Papua Barat, mempunyai masa depan yang baik dari sisi letak geografis karena terletak di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia.

“Kami yakni Sorong akan tumbuh dan berkembang maju seperti kota-kota lainnnya. Ada sektor migas atau pertambangan dan hasil laut,” katanya.

Untuk menggenjot pembangunan infrastruktur jalan, jalan-jalan raya dibangun selebar 30 meter. Sedangkan untuk kawasan industri dibangun selebar 50 meter.  “Ini kami lakukan untuk mengantisipasi perkembangan wilayah 30 tahun ke depan atau kita siapkan sejak sekarang,” katanya.

Selain jalan, bandar udara di Sorong juga diperluas dengan 3 runway. Pembangunan infrastruktur tersebut bukan menggunakan dana dari APBN tapi APBD.

“Oleh BPK Sorong diberi status WTP,” katanya bangga.

Mengenai bidang pendidikan, dia meminta Muhammadiyah untuk memperluas jaringan di bidang pendidikan terutama perguruan tinggi. Saat ini sudah ada satu perguruan tinggi Muhammadiyah di Sorong dengan status akreditasi B. STIKIP Muhammadiyah Sorong ini merupakan satu-satunya perguruan tinggi terakreditasi B di Asia Tenggara.

“Kami ingin Muhammadiyah bisa untuk membuka pendidikan yang lebih luas lagi dari sekarang. Sebab pendidikan itu penting untuk kemajuan,” pungkas peraih Bintang Jasa Utama dari Presiden Jokowi ini. Bintang Jasa Utama diberikan atas dedikasi bupati atau wali kota membangun daerah dalam berbagai aspek.(sp/dtk)