108 Tahun Kebangkitan Nasional : Muhammadiyah, Pergerakan Se-Zaman Budi Utomo Yang Masih Bertahan

SangPencerah.com– Mengenang 108 Tahun Hari Kebangkitan Nasional, tak ada salahnya bagi kita untuk kembali membuka kembali perjalanan sejarah bangsa. Rentang masa saat kesadaran kolektif itu mulai bangkit. Perjalanan itui tak lepas dari eksistensi organisasi-organisasi pergerakan yang telah menggoreskan jejak perjuanganPada 20 Mei 1908, para pelajar STOVIA mendirikan perkumpulan yang diberi nama Budi Utomo. Soetomo dipilih sebagai ketuanya. Hari lahirnya Budi Utomo diperingati oleh bangsa Indonesia sebagai hari Kebangkitan Nasional. Tujuan Budi Utomo adalah meningkatkan pengajaran bagi orang Jawa. Dalam perkembangannya, Budi Utomo mengalami kemunduran karena adanya perpecahan antara golongan muda dan tua. Akhirnya, Budi Utomo bergabung dengan organisasi lainnya dan membentuk Partai Indonesia Raya.

Pada Tahun 1911 H. Samanhudi mendirikan Sarekat Dagang Islam di Surakarta. Sarekat Islam mengalami perkembangan yang pesat setelah dipimpin oleh Haji Oemar Said Tjokroaminoto. Dalam sebuah pidatonya, HOS Tjokroaminoto menegaskan bahwa tujuan SI adalah memperkuat basis ekonomi kaum pribumi agar mampu bersaing dan membebaskan ketergantungan ekonomi bangsa asing.

Kemudian, Muhammadiyah didirikan oleh Kiai Haji Ahmad Dahlan di Yogyakarta pada tanggal 18 November 1912. Asas perjuangannya adalah Islam dan kebangsaan Indonesia, sifatnya nonpolitik. Muhammadiyah bergerak di bidang keagamaan, pendidikan, dan sosial menuju kepada tercapainya kebahagiaan lahir batin. Sejak berdiri di Yogyakarta (1912) Muhammadiyah terus mengalami perkembangan yang pesat. Sampai tahun 1913, Muhammadiyah telah memiliki 267 cabang yang tersebar di Pulau Jawa. Pada tahun 1935, Muhammadiyah sudah mempunyai 710 cabang yang tersebar di Pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi.

5 Desember 1912, Didirikan Indisje Partij oleh Tiga Serangkai, yakni Douwes Dekker (Setyabudi Danudirjo), dr. Cipto Mangunkusumo, dan Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Organisasi ini mempunyai cita-cita untuk menyatukan semua golongan yang ada di Indonesia, baik golongan Indonesia asli maupun golongan Indo, Cina, Arab, dan sebagainya.

Selain organisasi-organisasi diatas ada beberapa organisasi lain yang juga eksis berdiri, pasca kebangkitan nasional, khususnya di tahun 1911’an. Organisasi-organisasi tersebut antara lain Partai Komunis Indonesia, Tri Korodarmo, dan sebagainya. Akan tetapi, diantara organisasi-organisasi ini, yang masih bertahan dan kemudian membesar dan diterima masyarakat  hingga saat ini adalah Muhammadiyah dan Aisyiyah yang berdiri 1917 (bersambung) (redaksi).