Sosok Abdul Muti, Anak Desa Yang Membawa Jawa Ke Mancanegara

SangPencerah.com- Membayangkan Abdul Mu’ti sebagai anak desa yang tempat tinggalnya tidak tercantum di dalam peta. Kini, pria yang lebih dikenal sebagai Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu juga merupakan Ketua Badan Akreditasi Nasional Sekolah/ Madrasah (BAN-S/M), dosen di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, serta suami seorang istri dan ayah tiga anak.

“Sebagai Sekretaris umum PP Muhammadiyah, saya memimpin dan menggerakkan warga Persyarikatan, memajukan amal usaha, membangun jaringan, menjalin komunikasi vertikal dan horizontal, internal dan eksternal, serta organisasi lokal dan internasional,” kata Mu’ti.

Dia juga menyusun konsep-konsep kebijakan organisasi, presentasi makalah, mengisi pengajian dari tingkat ranting di kampungkampung sampai cabang istimewa di luar negeri. Tak hanya itu, Mu’ti juga memandu organisasi otonom Angkatan Muda Muhammadiyah, mengawasi keuangan dan mencari mitra kerja sama, serta menyetujui utang-piutang perserikatan.

Tak tanggung-tanggung, sebagai Ketua BAN-S/M dia harus menilai kelayakan satuan pendidikan sekolah atau madrasah dan program keahlian sekolah Indonesia di dalam dan luar negeri. “Yang saya capai sekarang ini adalah anugerah dan takdir Allah. Saya hanya menjalani. Mengalir saja.

Saya bersyukur atas semua yang telah saya raih. Allah memberi saya banyak hal yang tidak pernah saya bayangkan. Saya hanyalah anak kampung.

Waktu Orde Baru, desa saya tertinggal. Sekarang ini desa saya juga tidak ditemukan di Google. Tetapi nama, pernyataan, dan gambar saya bisa ribuan kali diakses di Google, hehehe…,” ujar lulusan Flinders University, Australia, pada 1996 ini, setengah geli. Mu’ti bukan sosok yang gampang puas. Sebagai akademisi, dia ingin mencapai tahapan sebagai guru besar.

Pada banyak kesempatan, terutama saat presentasi di luar negeri, sering dia dipanggil profesor. “Padahal belum. Lama-lama saya malu juga. Pada suatu saat saya berharap bisa jadi guru besar.” Dalam organisasi, Mu’ti ingin terus mengembangkan Muhammadiyah sebagai gerakan internasional yang semakin berpengaruh.

Sebagai kader bangsa, dia ingin berbuat lebih banyak bagi kehidupan kebangsaan. “Sampai sekarang saya tidak punya agenda masuk ke dunia politik. Saya ingin tetap berkhidmat di jalur gerakan masyarakat madani.” Hanya itukah? Ternyata tidak. Sebagai dosen, Mu’ti ingin mendidik generasi bangsa yang bertakwa, cerdas, terampil, dan berkepribadian kuat.

“Anak-anak Indonesia harus semakin mendunia. Otak-otak emas harus tampil memimpin Indonesia menjadi negeri yang berkemajuan, bermartabat, dan berdaulat. Dengan demikian, Islam akan tampil menerangi dunia dan peradaban utama dalam kehidupan yang damai.”

Perubahan ke Dalam

Setelah melanglang buana ke berbagai benua, apakah Mu’ti berubah? Rupa-rupanya kian mendunia, Mu’ti justru semakin menjadi Jawa. Dalam banyak kesempatan, dia selalu mengutip filosofi Jawa yang luhur dan kaya makna. Dia juga suka memakai batik, baik dalam pertemuan nasional maupun internasional. “Saking senang pakai batik, sampai-sampai dalam forum pertemuan Alliance of Civilizations di Qatar, seorang peserta dari Argentina mengira saya pakai piyama.

Setelah saya jelaskan yang saya pakai adalah batik warisan budaya Jawa yang ditetapkan UNESCO sebagai budaya dunia, barulah dia menyadari,” tuturnya. Tak mudah melakukan perjalanan ke dalam. Biasanya kian orang mendunia, dia ingin menjadi bagian atau suara hal-hal yang berkait dengan yang global-global. Mu’ti justru sebaliknya.

Kejawaan justru jadi inti. Ia membawa kejawaan ke mana-mana. “Mengenakan batik di berbagai forum dunia adalah salah satu cara membawa kejawaan ke dunia yang lebih luas,” kata dia. Bagaimana Mu’ti, si bocah desa, bisa mencapai tahapan semacam itu? Jawabannya hanya dua: belajar terus-menerus dan membaca tak hentihenti.

Tanpa membaca dan belajar, Mu’ti percaya dia tidak akan berubah. Tanpa keduanya, dia hanya akan menjadi orang yang tertinggal dari kebudayaan dan perdaban yang terus berkembang. “Saya sangat suka membaca. Apa saja. Saya senantiasa belajar, apa pun dan dari siapa pun.

Banyak sekali ilmu yang saya peroleh dari bergaul dan pengalaman menjalankan tugas. Semua ada hikmahnya, ada nilai dan pelajaran yang bisa dipetik. Semua orang memiliki kelebihan. Setiap tahap dalam kehidupan adalah penting dan menentukan langkah kehidupan berikutnya. Mereka adalah guru kehidupan. Karena setiap tugas adalah kesempatan untuk belajar.

Karena itulah, saya mudah dan cepat beradaptasi,” tutur Mu’ti. Mudah beradaptasi menjadi kata kunci Mu’ti untuk memasuki berbagai kalangan. Karena itulah, dalam berbagai diskusi di televisi atau di tempat lain, ia tampak teduh.

Tidak berusaha menjatuhkan lawan bicara. Tidak berusaha membuat lawan diskusi berada dalam pikiran-pikirannya. Namun, sebaliknya dia justru menyelami para lawan bicara, untuk menghormati apa pun pendapat orang lain. Mu’ti rupa-rupanya benarbenar membawa kejawaan (momotdan ngemong) orang lain dalam kehidupan (sp/sm).