Rhenald Kasali : Kang Yoto Sukses Membangun Budaya Dialogis

SangPencerah.com- Direktur Utama PT Rumah Perubahan, Rhenald Kasali, menyambut baik kompetisi pada Pemilihan Kepala Darah (Pilkada) DKI Jakarta yang akan berlangsung pada tahun depan. Terlebih kompetisi melibatkan banyak pemimpin daerah yang dinilainya telah berhasil membuktikan kapabilitas kepemimpinannya.

Menurutnya, pemimpin yang bagus itu perlu diuji melalui kompetisi menghadapi lawan yang sekelas. Namun Rhenald menilai, dalam konteks DKI Jakarta, Ahok diuntungkan dengan popularitasnya yang masih tinggi saat ini.

“Tapi kita juga tidak tahu kondisi di depan. Kalau Ahok melakukan sejumlah kesalahan, bukan tidak mungkin kompetitornya bisa naik,” ucap Guru Besar FEUI ini di sela-sela acara peluncuran bukunya berjudul Change Leadership Non-Finito di Segara Room, Hotel Darmawangsa Jakarta, Selasa malam (12/4/2016).

Lebih jauh Rhenald mengatakan, secara teoritis pemimpin berusia muda lebih memiliki kemauan. Tapi sayangnya, setelah berjalan, pemimpin muda itu banyak yang mengalami hambatan. Diantaranya mereka belum mempunyai kemampuan untuk menguraikan masalah politik di lapangan.

Mereka memiliki idealisme tapi kemudian rentan mendapatkan saran untuk berkompromi.

“Tapi saya juga menemukan anak-anak muda yang memiliki gambaran masa depan yang panjang, lalu mereka mengambil langkah yang berani. Itu tidak banyak, hanya satu atau dua orang,” ujarnya.

Pada umumnya, menurut Rhenald, sosok pemimpin yang memiliki langkah berani itu berasal dari politisi. Rhenald kemudian menyebutkan contoh pemimpin muda dengan tipikal itu, diantaranya Abdullah Azwar Anas (Bupati Banyuwangi), Basuki Tjahaja Purnama (Gubernur DKI Jakarta), dan Zumi Zola (Gubernur Jambi) yang dinilainya mulai memiliki keberanian.

“Apalagi Bupati Bojonegoro, Kang Yoto dari PAN. Dia memiliki terobosan yang baik. Saya melihat Kang Yoto sosok sistematis, mengedepankan dialog, dan memiliki style tersendiri,” kata Rhenald yang mengaku tengah menyelesaikan buku transformasi di Bojonegoro.

Rhenald mengapresiasi gaya kepemimpinan Kang Yoto. Menurutnya, Kang Yoto yang merupakan tokoh Muhammadiyah justru diterima oleh masyarakat Bojonegoro yang mayoritas Nahdliyin. Kang Yoto juga berhasil membangun budaya dialogis di tengah masyarakat yang apatis. “Tapi masalahnya, masyarakat Bojonegoro tidak sekeras Jakarta, dimana masyarakatnya sangat kompleks dengan latar belakang pendidikan tinggi, dan tantangannya luar biasa,” ujarnya (sp/on)