Muhammadiyah : Keluarga Siyono Mendapatkan Teror Dari Polisi

Pasukan BRIMOB Mendatangi pemakaman Siyono

SangPencerah.com- Tim Pembela Kemanusiaan PP Muhammadiyah menuding kepolisian telah melakukan teror kepada keluarga terduga teroris almarhum Siyono. Teror itu dianggap terjadi saat Propam Polri melakukan pemeriksaan kepada ayah almarhum Siyono, Margiyo.

Ketua Tim Pembela Kemanusiaan PP Muhammadiyah, Trisno Raharjo, menjelaskan, pemeriksaan pada Margiyo bermula dari surat perintah pemeriksaan dari Propam Mabes Polri tertanggal 16 Maret 2016. Namun, surat tersebut baru diterima keluarga almarhum Siyono pada Selasa, 12 April 2016.

Dalam surat itu, lanjut Trisno, pemeriksaan diagendakan di Polres Klaten. Namun, dalam beberapa saat, lokasi kembali berubah dua kali menjadi ke balai desa dan kemudian di Polsek Cawas. “Alasannya, katanya biar dekat,” kata Trisno di Pusat Studi Hak Asasi Manusia (Pusham), Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, Rabu (13/4/2016).

Meski berubah, pemeriksaan itu tetap diikuti Margiyo yang ditemani Wagiyono sebagai kakak Margiyo, di Polsek Cawas pada hari itu juga. Menurut Trisno, kejanggalan dari pemeriksaan itu berawal dari surat Propam Polri yang tercantum tulisan “…tersangka teroris Siyono….”

Ia mempertanyakan, “sejak kapan Siyono ditetapkan sebagai tersangka teroris?” Sementara, keluarga tak sekalipun mendapat surat pemberitahuan Siyono berstatus sebagai tersangka teroris.

Selain itu, surat dari Propam juga dinilai janggal lantaran tertuju kepada ayah Siyono yang tertulis bernama Marso Diyono. Padahal, ayah Siyono bernama Margiyo.

“Tapi keluarga tetap mengikuti pemeriksaan karena ingin mematuhi hukum,” ucap Trisno.

Ternyata hal yang tak lazim juga terjadi saat pemeriksaan. Trisno mengatakan, saat awal pemeriksaan berlangsung tak ada keanehan. Tim propam menanyakan seputar penangkapan Siyono.

Akan tetapi, menjelang bagian akhir pemeriksaan, tim Propam menanyakan kepada Margiyo perihal siapa pihak yang meminta jenazah Siyono diautopsi. Ini disayangkan oleh Trisno.

“Bagi kami, ini teror kepada keluarga Siyono. Apa hubungannya masalah penangkapan dan autopsi. Itu hak keluarga kerena tidak mendapat kejelasan penyebab kematian Siyono. Ini membuat keluarga tidak nyaman,” kata Dekan Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini.

Trisno menegaskan, jika menanyakan soal autopsi, harusnya Propam menanyakan ke Komnas HAM. Menurutnya, Komnas HAM juga secara tak langsung memiliki kaitan dengan hal itu.

“Silakan cocokkan hasil autopsi dengan hasil forensik Mabes Polri,” ujarnya.

Sekadar menyegarkan, Siyono ditangkap Densus 88 pada Selasa, 8 Maret 2016, seusai menunaikan salat Magrib di masjid samping rumahnya di Dukuh Brengkungan, Desa Pogung, Cawas, Klaten, Jawa Tengah. Jumat, 11 Maret, keluarga Siyono mendapat kabar Siyono meninggal dunia. Jenazah Siyono kemudian dimakamkan di Klaten pada Minggu, 13 Maret 2016.

Keluarga Siyono kemudian meminta bantuan PP Muhammadiyah untuk melakukan advokasi kematian Siyono yang dianggap janggal. Pada awal April, tim dokter dari PP Muhammadiyah yang berjumlah delapan orang dan seorang dokter dari kepolisian melakukan autopsi.

Hasilnya, ditemukan ketidaksamaan antara hasil autopsi dengan hasil forensik Mabes Polri. Belakangan, ada bekas luka benda tumpul di beberapa bagian jasad Siyono. (sp/jatengmtv)