Lulusan UMS Ini Trenyuh Melihat Banyak Siswa SMK Belum Bisa Membaca

Kesenjangan pendidikan antara wilayah perkotaan dan pedesaan di Indonesia benar-benar sangat jauh.Contohnya, banyak siswa setingkat SMK di pedalaman Papua yang ternyata belum bisa membaca, menulis dan berhitung.

MENGAJAR di daerah pelosok Tanah Air, tentu akan menghadapi tantangan jauh lebih berat dan sulit dibanding mengajar di perkotaan. Itulah yang dihadapi para guru yang mengikuti Program Sarjana Mengajar di Daerah Terdepan Terluar dan Tertinggal (SM3T).

Salah satunya Devy Ely Lestari, lulusan Universitas Muhammadiyah Surakarta yang mengikuti program tersebut dari Universitas Negeri Yogyakarta. Dia mengaku terenyuh ketika mengajar di SMK Negeri 1 Kimaam, Distrik Kimaam, Merauke, Papua. Sebab, banyak siswa yang belum bisa mambaca, menghitung, dan menulis.

Dia ingin membantu anak-anak di sana mengejar kemajuan siswa lain dari daerah perkotaan. ‘’Daerah pedalaman menjadi momok bagi CPNS di Kabupaten Merauke. Tidak semua guru bersedia di tempatkan di daerah terpencil. Sarana dan prasarana sekolah juga masih banyak yang harus diperbaiki.

Buku pegangan siswa misalnya, sama sekali tidak ada. Tenaga guru juga sangat kurang,’’ tutur Devy. Minim guru dan tanpa buku pegangan membuat perkembangan para siswa sangat lambat. Ditambah lagi, banyak yang menganggap pendidikan bukan hal penting, sehingga tujuan mereka sekolah sematamata hanya memperoleh ijazah.

Hal ini berimbas pada kemampuan akademik yang mereka miliki.

‘’Tidak heran banyak siswa SMK yang belum mengerti membaca, menulis dan menghitung sehingga Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kabupaten Merauke mengutamakan kemampuan calistung pada sektor pendidikan. Calistung merupakan kemampuan dasar yang harus dipahami setiap siswa, sehingga mereka dapat bersaing dengan siswa di perkotaan,’’ imbuhnya.

Buka Kelas

Melihat banyak siswa SMK yang belum bisa membaca, menulis, dan berhitung, dia lantas membuka kelas calistung setiap hari sebelum masuk kelas utama. Dia mencoba memberi pelajaran yang sangat dasar itu pada para siswa agar lebih lancar mengikuti proses belajar- mengajar materi lainnya. Bukan hanya itu, dia juga menghidupkan ekstrakurikuler yang sebelumnya tidak pernah ada.

Ekstrakurikuler yang dikembangkan itu pramuka dan komputer. Ekstrakulikuler komputer diselenggarakan untuk membekali dan mengenalkan siswa dengan komputer. Selain tugas mendidik di sekolah Devy juga mengajar TPA di Masjid Distrik Kimaam.

Butuh jarak yang lumayan jauh untuk sampai ke distrik. Apalagi tidak ada kendaraan bermotor dan tidak ada angkutan. Dia biasanya jalan kaki untuk belanja ke distrik dan mengajar TPA. Selain sarana belajar yang minim, putri pasangan Ali Amran dan Muntamah tersebut mengungkapkan, di Kimaam belum ada listrik. Penerangan sehari-hari hanya menggunakan sel surya.

Air tawar juga sangat susah diperoleh. Untuk kebutuhan sehari-hari, biasanya guru menggunakan air payau dari galian di belakang perumahan. ‘’Jaraknya jauh dan medan cukup sulit untuk mengambil air tawar. Selain air, harga kebutuhan pokok sangat mahal karena barangbarang diperoleh dari Merauke dengan transportasi pesawat dan kapal. Wajar kalau harganya jadi tinggi,’’ tuturnya.

Kebutuhan pokok yang mahal membuat warga sering keluar-masuk hutan untuk mencari lauk-pauk. Mereka berburu hewan untuk lauk. Langkah ini penghematan luar biasa untuk mengatasi mahalnya lauk pauk. Karena itu, dia berharap, pemerintah bisa memberikan perhatian lebih pada daerah pelosok, terutama di bidang pemenuhan sarana-prasarana pendidikan. (sp/sm)