Dianggap Kritik Komunis, Taufiq Ismail Diusir Dari Simposium Tentang PKI

SangPencerah.com- Budayawan  Taufiq Ismail di protes dan diusir ketika membacakan sebuah puisi.  Taufiq Ismail dianggap memprovokasi dan terlalu satir dalam mengkritik kekejaman PKI.

Para peserta dalam  kegiatan “Membedah Tragedi 1965”  ini berteriak, dan mencemoh “Huuuu, weeee, Provokator! kepada Taufiq. Kegiatan simposium ini diadakan di Hotel Arya Duta, Jakarta, Senin (18/4) atas prakarsa Pemerintah melalui Dewan Pertimbangan Presiden dan Kantor Polhukam.  Berbagai media menuliskan acara ini banyak dihadiri oleh simpatisan dan eks.PKI.

Pra Tragedi G 30 S/PKI, Taufiq Ismain dikenal sebagai pegiat budaya yang memang sangat anti PKI. Diapun sempat menggagas Manifes Kebudayaan untuk menandingi Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang berafiliasi dengan PKI.  Berikut ini isi puisi Taufiq Ismail yang ia bacakan:

Dua orang cucuku, bertanya tentang angka-angka
Datuk-datuk, aku mau bertanya tentang angka-angka
Kata Aidan, cucuku laki-laki
Aku juga, aku juga, kata Rania cucuku yang perempuan
Aku juga mau bertanya tentang angka-angka

Rupanya mereka pernah membaca bukuku tentang angka-angka dan ini agak mengherankan
Karena mestinya mereka bertanya tentang puisi
Tetapi baiklah,
Rupanya mereka di sekolahnya di SMA ada tugas menulis makalah
Mengenai puisi, dia sudah banyak bertanya ini itu, sering berdiskusi
Sekarang Aidan dan Rania datang dengan ide mereka menulis makalah tentang angka-angka

Begini datuk,
Katanya ada partai di dunia itu membantai 120 juta orang, selama 74 tahun di 75 negara
Kemudian kata Aida dan Rania, ya..ya..120 juta orang yang dibantai
Setiap hari mereka membantai 4500 orang selama 74 tahun di 75 negara

Kemudian cucuku bertanya
Datuk-datuk, kok ada orang begitu ganas..?

Kemudian dia bertanya lagi
kenapa itu datuk? Mengapa begitu banyak?
Mereka melakukan kerja paksa, merebut kekuasaan di suatu negara
Kerja paksa
Kemudian orang-orang di bangsanya sendiri berjatuhan mati
Kerja paksa
Kemudian yang ke dua

Sesudah kerja paksa,
Program ekonomi diseluruh negara komunis tidak ada satupun yang berhasil
Mati kelaparan, bergelimpangan di jalan-jalan

Kemudian yang ketiga,
Sebab jatuhnya Puisi ini

Sebabnya adalah mereka membantai bangsanya sendiri,
Mereka membantai bangsanya sendiri
Di Indonesia
Pertamakali di bawa oleh Musso, di bawa Musso.
Di Madiun mereka mendengarkan pembantaian

Sampai berita ini dituliskan, berbagai pendapat seputar keberanian Taufiq Ismail dalam mengkritik PKI ini masih menjadi perbincangan hangat diberbagai media. (redaksi)