Home Hisab Rukyat Soal Shalat Gerhana, Mengapa Mereka Tidak Konsisten Dengan Rukyat ?

Soal Shalat Gerhana, Mengapa Mereka Tidak Konsisten Dengan Rukyat ?

Gerhana Matahari Total

Banyak ulama salafi terutama Bin Baz dan Syaih Utsaimin yang berpendapat bahwa shalat gerhana dikaitkan dengan penglihatan, bukan berdasarkan hisab atau hasil perkiraan ilmu falak atau astronomi. Pendapat ini terkait dengan sanda Rasulullah saw berikut ini:

فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَافْزَعُوا إِلَى الصَّلاَةِ “
Jika kalian melihat gerhana tersebut (matahari atau bulan) , maka bersegeralah untuk melaksanakan shalat.” (HR. Bukhari no)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin pernah ditanya, “Apa hukum jika gerhana matahari tertutup awam mendung, namun sudah dinyatakan di berbagai surat kabar sebelum itu bahwa nanti akan terjadi gerhana dengan izin Allah pada jam sekian dan sekian. Apakah shalat gerhana tetap dilaksanakan walau tidak terlihat gerhana?” Syaikh rahimahullah menjawab, “Tidak boleh berpatokan pada berbagai berita yang tersebar atau berpatokan semata-mata dengan berita dari para astronom. Jika langit itu mendung, maka tidak ada shalat gerhana karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaitkan hukum dengan penglihatan (rukyat).

Pendapat beliau ini berdasarkan kepada lafal sharih dari hadis di atas, yaitu
رَأَيْتُمُوهُمَا
Artinya:
“Jika kalian melihat terjadinya gerhana”

Coba kita bandingkan dengan dalil puasa.
قال النبي صلى الله عليه وسلم « صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته ، فإن غُبِّيَ عليكم فأَكْمِلوا عدة شعبان ثلاثين
Rasulullah saw bersabda: Berpuasalah kalian karena rukyat hilal, dan berbukalah kalian (akhirilah Ramadhan) karena rukyat hilal, jika ia tertutup kabut maka sempurnakanlah hitungan Sya’ban 30 hari. (HR. Bukhori, Muslim, Nasai, Ahmad, dan Ibn Hibban)

Hadis di atas juga menggunakan lafal لرؤيته yang maknanya melihat.

Baik penentuan awal bulan ramadhan maupun shalat gerhana, sama-sama menggunakan lafal rukyat. Dalam hal ini, saudi konsistem dengan sistem rukyat tersebut. Puasa ramadhan dan shalat gerhana hanya berlaku secara rukyat saja dan perhitungan ilmu astronomi sama sekali tidak diterima.

Bagaimana dengan Indonesia? Ternyata banyak yang tidak konsisten. Mereka yang sering menghujat Muhammadiyah karena menggunakan hisab awal bulan, kali ini menggunakan hisab dan menafikan rukyat. Jadi, apa kiranya yang membuat mereka tidak konsisten?

Pemerintah saja, yang biasanya bulan ramadhan bersikeras menggunakan rukyat, kali ini memakai hisab. Perhatikan surat edaran di bawa ini:

Surat Seruan dari Kemenag untuk Sholat Gerhana Matahari Total februari 2016
Assalamu’alaikum Wr. Wb

Berdasarkan surat Kementerian Agama RI melalui direktorat Jenderal bimbingan Masyarakat Islam dengan nomor surat Dj.II/BM.01/328/2016 tanggal 7 jumadil Awal 1437 H atau 16 Februari 2016 Masehi perihal seruan sholat gerhana.
Surat Seruan dari Kemenag untuk Sholat Gerhana Matahari Total februari 2016

Surat tersebut ditujukan kepada semua kepala kantor kementerian agama se indonesia dan diteruskan kepada kantor kementerian kabupaten/kota dan lembaga-lembaga naungan kemenag (RA, MAdrasah)

Berdasarkan kajian syari’i fenomena gerhana merupakan bukti keagungan dan kebesaran Allah SWT, sehingga jika terjadi gerhana disunnahkan umat islam untuk melakukan sholat gerhana, memperbanyak istighfar dan bershodaqoh, dengan ini kami mohon perhatian sebagai berikut :

1. menurut data astronomis pada hari rabu tanggal 09 Maret 2016 bertepatan dengan tanggal 29 Jumadil Awal di seluruh wilayah Indoneia akan terjadi gerhana matahari total (GMT)

2. Agar kepala kanwil kementerian agama provinsi menginstruksikan kepada kepala bidang urusan agama islam/kepala bidang bimas islam/pembimbing syariah, kepala kementerian agama kabupaten/kota, dan kepala KUA, Kepala Lembaga MI,MTs, MA, untuk bersama para ulama, para pimpinan ormas islam, imam masjid, aparatur pemerintah daerah dan masyarakat melaksanakan sholat gerhana matahari total (GMT/Kusyuf Al Syams) masing-masing.

3. Bersama ini kami sampaikan tata cara sholat gerhana matahari total (GMT/Kusyuf Al Syams) yang dapat dijadikan panduan untuk pelaksanaanya.

Demikian surat seruan ini kami sampaikan, atas perhatian dan kerjasama saudara kami ucapkan terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb

Direktur Jenderal
Bimbingan Masyarakat Islam

TTD

Prof. Dr. Maehasin, MA.

Berikut imbauan dari Penguru nahdhatul Ulama:
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengimbau, warga Nahdliyin untuk melaksanakan Salat Gerhana Matahari pada saat terjadi peristiwa Gerhana Matahari Total, Rabu, 9 Maret 2016.

Organisasi masyarakat terbesar di Indonesia itu sudah mengirim surat edaran ke semua pengurus cabang. “Surat edaran itu meminta kepada pengurus cabang untuk melaksanakan Salat Gerhana Matahari. Kami juga menghimbau kepada warga Nahdliyin untuk melakukan salat gerhana pada tanggal 9 Maret nanti,” kata Wakil Rais Aam PBNU, Miftakhul Achyar usai mengisi acara dialog deradikalisasi di rumah dinas Bupati Karanganyar, Sabtu, 5 Maret 2016 yang dikutip dari vivanes.