Paper Mahasiswa S1 UMY, Kalahkan Ratusan Master dan Doktor Di Vietnam

SangPencerah.com- Masih belajar di jenjang S-1, tetapi mampu mengalahkan para pakar dan praktisi dengan kualifikasi S-2 bahkan S-3. Inilah yang dilakukan tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dengan menyabet penghargaan Best Paper dalam penyelenggaraan The 13th UBAYA International Annual Symposium on Management (INSYIMA), di Universitas Ho Chi Minh City, Vietnam.

Simposium dalam bidang ekonomi internasional tersebut dikuti ratusan partisipan dari berbagai negara ASEAN serta menampilkan lebih dari 160 karya ilmiah lainnya. Paper juara tersebut dibuat oleh seorang dosen Prodi Ilmu Ekonomi FE UMY, Dimas Bagus Wiranatakusuma. Dia dibantu mahasiswa semester empatnya di Prodi Manajemen, Alif Supriyanto, dalam menyusun makalah tentang mata uang tunggal di ASEAN.

“Paper kami mengangkat gagasan tentang perlunya negara-negara ASEAN untuk membuat mata uang tunggal. Dan setelah kami konfirmasi ke panitia, paper kami memang terpilih sebagai The Best Paper, setelah dinilai dengan memperhatikan aspek metodologi, ketajaman analisis, dan kesesuaian topik paper dengan topik simposium,” ungkap Dimas seperti dinukil dari laman UMY, Kamis (24/3/2016).

Dimas dan Alif meyakini, mata uang tunggal tersebut dapat meningkatkan pembangunan di negara-negara ASEAN. Selain itu juga bisa menstabilkan mata uang regional bagi negara anggota.

“Tulisan kami juga memberikan implikasi kebijakan bahwa pembentukan mata uang tunggal tersebut juga memerlukan ketersediaan bank sentral tunggal dan kesiapan seluruh anggota,” ujarnya.

Penilaian paper sendiri, kata Dimas, dilakukan tim reviewer dari berbagai perguruan tinggi dan lembaga seperti Universitas Surabaya, Ho Chi Minh University, Eastern Illinois University, Manchester Bussiness School hingga World Bank.

“Hal ini sungguh menjadi sebuah kehormatan dan pengakuan kepada UMY bahwa civitas akademika UMY telah siap bersaing serta diakui dalam pergulatan ASEAN dan dunia, khususnya dalam khazanah penelitian,” imbuh Dimas.

Sementara itu, Arif mengaku menyangka jika karya ilmiahnya berhasil mendapat penghargaan sebagai best paper di simposium tersebut. Pasalnya, 200 delegasi rata-rata bergelar master dan doktor.

“Karena memang kebanyakan dari mereka adalah dosen dan praktisi. Dalam simposium internasional tersebut, tim UMY adalah satu-satunya kampus, dari lebih 50 kampus se-ASEAN yang hadir dengan delegasi dari mahasiswa S-1,” tandas Arif. (sp/okz)