Transkrip Sambutan Ketua Umum MUI pada Kunjungan Grand Syaikh Al-Azhar

Sambutan Ketua MUI, KH. Dr. Ma’ruf Amin pada Kunjungan Grand Syaikh Al-Azhar, Al-Imam Al-Akbar, Prof. Dr. Ahmad Thayyeb di Kantor MUI, Senin (22/2/2016)

============

Pada kesempatan yang baik ini perkenankah kami menyampaikan sambutan kami dan ucapan terimakasih kami atas kunjungan seluruh delegasi di kantor MUI. Kami sebagai ketua MUI mengucapakan selamat datang, kami sangat bahagia sekali dengan kunjungan seluruh delegasi yang meberikan kepada kami tambahan kekuatan dan semangat.

Sebagaimana kita ketahui, secara geografis Indonesia terdiri 15 ribu pulau lebih. Penduduknya sekitar 260 juta, dan 200 juta dari mereka beragama Islam. Kebanyakan dari mereka bermadzhab ahlu sunnah wal jamaah dalam beraqidah seta bermadzhab yang empat dalam hal ibadah dan muamalat. Kita juga bisa menemukan ormas Islam yang bermacam-macam. Setiap ormas memiliki tujuan dan orientasi yang berbeda satu sama lain. Tapi meskipun begitu mereka memandang bahwa perbedaan-perbedaan tadi tidak seharusnya menimbulkan permusuhan diantara mereka. Mereka sadar bahwa perbedaan yang ada adalah hal yang biasa, dikarnakan adanya ranah ijtihad dalam Islam, lebih-lebih dalam permasalahan yang tidak dinaskan di Al-Quran dan Hadits.

Dari ormas yang berbeda beda tadi, mereka bersatu dalam satu majlis yaitu Majelis Ulama Indonesia. Dengan begitu MUI adalah tempat berkumpulnya para ulama dan cendekiawan dari seluruh ormas yang ada di negara ini.

Salah satu tugas utama MUI adalah menetapkan fatwa pada masalah-masalah agama, sosial ekonomi, prodak-prodak pangan dll. Untuk diketahui, bahwa di Indonesia tidak ada mufti resmi dalam bidang agama. Maka dari itu, MUI mengambil peran di sana. Dan, alhamdulillah, fatwa yang dikeluarkan MUI berfaidah banyak untuk rakyat, lebih-lebih bagi lembaga-lembaga resmi dalam pengambilan keputusan-keputusan yang berdimensi syariah.

Para hadirin, apabila kita perhatikan keadaan orang musilim hari ini, kita sepakat bahwa umat Islam membutuhkan persatuan, baik pada taraf regional maupun internasional. Maka dari itu saya memandang bahwa kita perlu untuk membuat program, rencana dan usaha untuk memahamkan umat bahwa perbedaan adalah pendorong umat untuk menuju kemajuan dan kemakmuran, bukan malah menjadi sebab untuk bertikai dan berselisih. Maka keberagaman harus menjadi pemersatu dan penguat.

Kita tahu bahwa persatuan bukanlah hal yang mudah. Kita menemui tantangan yang bermacam-macam. Salah satu dari tantangan itu adalah orientasi materi yang tujuan terbesarya adalah mencabut spiritualisme agama dalam masalah-masalah dunawi. Juga munculnya metode yang tidak tepat dalam beragama yang melahirkan ekstrimisme dan liberalisme. Maka kita perlu untuk menyusun rencana untuk menghadapi tantangan ini, dan juga untuk menuju persatuan umat muslim.

Langkah pertama adalah kita perlu untuk mewujudkan persamaan pandangan, khususnya dalam masalah agama. Poin penting dalam menyamakan manhaj adalah kesadaran bahwa keberagaman adalah hal yang biasa. Berijtihad itu dibolehkan, khususnya dalam hal agama. Apabila dia benar dia mendapat dua pahala dan apabila salah ia mendapat satu pahala. Atau dalam ibarat lain, jika ia benar ia mendapat dua pahala dan orang yang mempunyai ijtihad lain mendapat pahala satu. Dan anggapan bahwa ijtihad dia adalah satu-satunya yang benar dan menggangap yang lain salah adalah keliru, serta bertentangan dengan asas toleransi. Dan hal itu adalah fanatik yang bisa menimbulkan perpecahan dan pertikaian yang harus dijauhkan dari kehidupan bermasyarakat.

Toleran yang benar adalah toleran yang tidak menabrak batas dan prinsip agama. Adapun toleransi yang tidak ada batasnya adalah toleransi yang sebenarnya lahir dari Amerika. Maka toleransi yang dibolehkan adalah untuk urusan yang dipertentangkan, yaitu toleransi yang ada pada ranah perbedaan pendapat. Adapaun toleransi yang tidak lahir dari ranah perbedaan pendapat hakikatnya bukan subuah perbedaan, melainkan kemelencengan. Contohnya yaitu perbedaan pendapat pada hal yang sudah diketahui secara umum dalam agama.

Langkah kedua dalam menghadapi tantangan ini yaitu mengorganisir gerakan umat. Mengorganisir gerakan umat menjadi sangat penting hari ini, karna mereka masih dalam keadaan miskin dari segi politik, ekonomi maupun teknologi. Jumlah orang muslim tidak sepadan dengan perannya. Mereka banyak dari segi jumlah tapi sedikit dari segi peran dan sumbangsih. Maka muslim hari ini butuh untuk mengorganisir gerakan mereka baik dalam ranah dakwah ataupun ranah pertahanan. Takkala kita bisa mewujudkan dua langkah ini maka sangat logis untuk bisa menghasilkan buah darinya yaitu terbentuknya kesatuan umat.

Para hadirin, masalah kita pada hari ini adalah lemahnya kita dalam menghadapi tantangan ini yang disebabkan tidak adanya persatuan antar umat muslim. Kita sekarang meihat saudara-saudara kita orang muslim di Gaza, Palestina dalam keadaan yang menyedihkan yang disebabkan oleh penjajahan bangsa Israel dan kita tidak bisa menolong mereka. Saudara-saudara kita di Rohinga tertawan di negerinya sendiri dan kita juga tidak bisa menolong. Saudara-saudara kita di Suriah perang saudara, itu semua disebabkan tidak adanya kesatuan antar muslim di dunia ini. Dan keadaan yang seperti ini adalah keadaan yang diinginkan para musuh Islam. Karena mereka tidak mengingginkan persatuan Islam yang akan membuat umat islam kuat.

Transkrip oleh:
Anizar Masyhadi & M. Saifuna (Tim Jurnalis Kunjungan Grand Syaikh Al-Azhar)

tulisan sebelumnya : Pernyataan Syaikh Al Azhar Tentang Syiah yang Tidak Dimuat Media