Me-Muhammadiyah-kan Orang Muhammadiyah

Keluarga Besar Muhammadiyah

Oleh: Ahla Kembara al-Khoziny, S.Pdi

Muhammadiyah yang didirikan KH. Ahmad Dahlan sang Mujaddid, pada tahun 1912 M di Yogyakarta adalah sebuah organisasi Islam berhaluan tajdid (pembaharuan) yang bertujuan amar ma’ruf nahi munkar. Sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia Muhammadiyah telah menorehkan berbagai peran dan prestasi yang banyak sekali di berbagai bidang, baik pendidikan, sosial, ekonomi, kesehatan, bahkan politik sekalipun walaupun tak terlibat secara langsung dalam dunia politik praktis. Hal ini tidak syak lagi.  

Sudah 104 tahun Muhammadiyah berdiri tegak di bumi pertiwi, berperan aktif membangun negeri ini sejak zaman pra-kemerdekaan hingga masa reformasi sekarang ini. Tentu dalam perjalanannya, tak bebas dari aral dan rintangan. Dan aral rintangan itulah yang membuat Muhammadiyah bisa bergerak maju membawa lentera pencerahan, membangun peradaban yang berkemajuan. Tentu ini adalah karunia Allah SWT yang patut disyukuri dan dibanggakan.

Muhammadiyah dengan berbagai amal usahanya telah menghasilkan kuantitas yang tidak perlu diragukan lagi eksistensinya. Begitu juga dengan kualitas kader yang patut diapresiasi. Hanya yang menjadi pertanyaan, apakah kuantitas dan kualitas sudah seimbang? Sebagai Ormas Islam, tentu saja kualitas kader yang harus dihasilkan adalah kualitas kader yang berilmu Ulama dan beramal Ulama, berilmu amaliah dan beramal ilmiah.

Sebagai ormas yang berslogan Kembali Kepada al-Quran dan al-Sunnah tentu pengkaderan Ulama tidak bisa dikesampingkan. Tentu hal ini sejalan dengan rasionalitas yang selama ini telah dibudidayakan dalam tradisi keilmuan Muhammadiyah sehingga tidak terjebak dalam kejumudan, bid’ah, takhayul dan khurafat. Mengingat al-Quran telah memerintahkan manusia untuk senantiasa menggunakan akal (rasio). Hanya saja rasionalitas yang tidak dibimbing oleh wahyu bisa menyeleweng dari al-Quran dan al-Sunnah. Bahkan itu tak berasio, karena dikatakan berakal (berasio) manakala akal dan wahyu berjalan bersama. Untuk memahami wahyu (al-Quran dan al-Sunnah) diperlukan alat. Oleh karenanya ilmu alat (bahasa Arab) untuk mempelajari al-Quran dan al-Sunnah harus dikembangkan dalam tradisi keilmuan Muhammadiyah yang selama ini telah meninggalkan tradisi Turats yakni mempelajari kitab-kitab klasik berbahasa Arab yang merupakan rujukan yang tidak bisa ditinggalkan dalam mempelajari al-Quran dan al-Sunnah.

  1. Ahmad Dahlan adalah Ulama, Mujaddid, Mujahid, ahli ilmu Mantiq, dan penggemar Turats. Beliau juga memiliki karya tulis berupa kitab Fiqih Muhammadiyah yang bertuliskan huruf Arab dan berbahasa Arab. Sayangnya, dalam dunia pendidikan Muhammadiyah ilmu alat seperti bahasa Arab berikut gramatikalnya (nahwu sharaf) telah dikesampingkan, begitu juga dengan pembelajaran kitab-kitab Turats karya para Ulama Salaf. Pesantren dan Madrasah Muhammadiyah yang merupakan basis keilmuan Islampun, belum bisa memberikan porsi yang ideal dalam pembelajaran Turats. Sebagai organisasi Islam yang berhaluan tajdid (pembaharuan) seharusnya Muhammadiyah berada di barisan terdepan dalam tradisi Turats. Karena ber-Muhammadiyah itu tidak sekedar tahu ini bid’ah, takhayul, dan khurafat, tapi juga harus bisa mengerti dalil dan ilmu alatnya, mampu membaca al-Quran dengan baik dan benar, dan mengamalkan apa yang terkandung dalam al-Quran dan al-Sunnah. Oleh karenanya diperlukan generasi penerus yang memiliki kemampuan mumpuni dalam ilmu-ilmu Syar’iyyah, salah satu langkah konkritnya antara lain dengan menggalakan pendalaman ilmu alat dan tradisi Turats dalam dunia pendidikan Muhammadiyah. Walaupun beberapa saat Muhammadiyah mengalami  pasang surut dalam hal ini, paling tidak mulai detik ini juga Muhammadiyah harus menambah kecepatan dan segera mengejar ketertinggalan ini.

Selain itu, hal-hal seperti berpakaian terutama di kalangan perempuan, bermuamalah antara lawan jenis, dan lainnya juga harus diperhatikan. Slogan “Kembali kepada al-Quran dan al-Sunnah” harus diimplementasikan dalam setiap sendi kehidupan. Di antaranya yang harus menjadi catatan, adanya warga Muhammadiyah yang pada akhirnya ikut-ikutan tradisi yang bertentangan dengan tajdid (pembaharuan dan pemurnian) dalam agama Islam. Yang pada akhirnya hal itu berimbas kepada penafsiran atau pencampuran nama yang bermacam-macam terhadap Muhammadiyah. Muhammadiyah dari tingkat pusat sampai ranting harus maksimal dan rutin dalam memberikan pencerahan dan pembinaan. Adanya fenomena eksodus warga Muhammadiyah menjadi mantan warga Muhammadiyah harus menjadi bahan muhasabah bagi Muhammadiyah, walaupun di ormas manapun permasalahan seperti ini juga ada. Tapi Muhammadiyah harus bisa menaungi seluruh warganya dalam koridor al-Quran dan al-Sunnah, sebagaimana yang dicita-citakan oleh pendirinya, KH. Ahmad Dahlan.

Penulis : Alumni Ma’had Abu Bakar al-Shiddiq, Universitas Muhammadiyah Surakarta/ Mahasiswa Fakultas Syari’ah LIPIA Jakarta