Home Kajian Kisah Lelaki Yang Terpaut Hatinya Dengan Masjid

Kisah Lelaki Yang Terpaut Hatinya Dengan Masjid

Oleh : Ustadz Gonda Yumitro

Masjid merupakan tempat yang mulia di sisi Allah ta’ala dan disebut juga sebagai rumah Allah. Karena itu, mereka yang hatinya terikat dengan masjid juga mendapatkan kedudukan utama dalam pandangan Allah ta’ala.

Mereka adalah orang-orang yang ketika keluar dari masjid, ia tidak bisa menemukan tempat yang lebih menenangkan kecuali setelah kembali ke rumah Allah tadi.

Perasaan in muncul
karena mereka adalah oeang-orang yang bertaqwa. Dalam suatu hadits yang diriwayatkan Abu Darda’, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam menceritakan gambaran mereka dengan sabdanya,

الْمَسْجِدُ بَيْتُ كُلِّ تَقِيٍِّ[8]

Masjid adalah rumah bagi setiap mereka yang bertaqwa (H.R. )

Jika ketika di dunia ini mereka sudah merasakan kegembiraan ketika berada di masjid, maka ketika di akhirat niscaya Allah ta’ala memuliakan mereka dengan surga.

Dalam hadits yang menceritakan tentang tujuh golongan yang mendapatkan naungan Allah ta’ala pada hari ketika tidak ada lagi naungan selain naungan Allah Ta’ala, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan bahwa salah satu di antaranya ada seseorang yang hatinya terpaut dengan masjid. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ورجل قلبه معلق بالمساجد

Seseorang yang hatinya terikat dengan masjid (HR. Muslim)

Keadaan mereka sebagaimana telah dicontohkan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam.

Bahkan dalam keadaan sakit menjelang wafat, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam tetap mengupayakan untuk sholat di masjid.

Ketika sakitnya bertambah parah, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bertanya, apakah manusia sudah sholat?

Kemudian keluarga beliau mengatakan belum wahai Rasulullah. Mereka menunggu. Maka lihatlah apa yang beliau shollahu ‘alaihi wasallam lakukan.

Tidaklah beliau memerintahkan keluarganya untuk mengabarkan kalau beliau sesang sakit, melainkan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam meminta untuk diambilkan air untuk berwudhu’. Kemudian beliau pun mendatangi masjid dalam sakitnya.

Maka lihatlah dengan diri kita. Apakah sudah sebesar itu pula keterikatan hati kota dengan masjid?. Padahal diri kita jauh lebih membutuhkan pengampunan Allah ta’ala dibandingan dengan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam yang maksum.

Kita berdoa kepada Allah ta’ala semoga diberikan kekuatan untuk mengikuti sunnah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, salah satunya dalam keterikatan hati dengan masjid. Aamin.

di kegelapan malam travel Malang-Jogja, 10 Februari 2016