Batik Karya Guru SMP Muhammadiyah 08 Menjadi Identitas Kota Batu

SangPencerah.com-Terjun di dunia batik baru ditekuni Sri Retnoningtyas sejak tahun 2012. Karya guru mata pelajaran Bahasa Indonesia SMP Muhammadiyah 8 Kota Batu ini pun kini menjadi identitas Kota Batu.

Sejak pagi hingga siang hari pada hari efektif, Sri Retnoningtyas menghabiskan waktu di SMP Muhammadiyah 08 Kota Batu. Sekolah yang berada di Jalan Welirang, Kelurahan Sisir Kecamatan Batu tersebut tempat perempuan yang akrab disapa Retno untuk mengabdikan diri. Setelah mengajar, Retno pun pulang ke rumahnya di Jalan Damun, Dusun Cabak, Desa Beji, Kecamatan Junrejo.

Di rumah sekaligus galeri batik tersebut, Retno menghabiskan waktu setelah menjadi seorang pendidik. Mulai membuat desain hingga proses produksi dia lakukan bersama Priyono suaminya. Aktifitas tersebut sudah dilakukan Retno sejak tahun 2012.

Lulusan Magister Manajemen Kebijakan Pendidikan di Universitas Muhammadiyah Malang ini awalnya tidak tertarik dengan usaha yang berhubungan dengan batik. Namun senang mengkoleksi berbagai jenis batik. Hanya saja banyak batik yang memiliki warna mencolok cenderung luntur saat dicuci.

Karena itulah Retno bersama Priyono tahun 2010 sering keluar kota. Mencari tahu mengenai teknik merawat batik agar tidak luntur. Selama dua tahun Retno eksperimen agar warna batik yang mencolok tidak luntur. Dan keinginan tersebut akhirnya terwujud. ”Untuk mencari teknik menjaga warna tidak luntur saya belajar ke Jogjakarta, Solo, Suarabaya, Malang Raya hingga Kediri,” kata Retno kepada Jawa Pos Radar Batu.

Ujicoba agar menjaga warna tidak luntur, Retno menggunakan media kaos warna putihdan kain jenis primisima. Hasilnya kain primisima yang paling cocok. Sukses melakukan ujicoba, Retno pun mengusulkan ke pihak sekolah agar ada ekstrakulikuler membatik dan pemawraan.

Sejak saat itu ibu yang sudah memiliki dua orang anak ini pun ikut belajar membatik. Selain itu membuat desain batik sendiri bersama dengan murid-murinya disekolah. Dari situlah Retno mulai ketagihan. ”Saya belajar sama anak-anak didik. Dan hasilnya cukup bagus juga,” terang perempuan kelahiran Malang, 4 Agustus 1962 ini.

Setelah menemukan teknik membatik dengan benar, Retno mulai mengembangkannya untuk dijadikan pekerjaan sampingan. Sejak saat itu Retno mulai menekuni hobi barunya tersebut. Membuat desain batik yang berbeda. Dari situlah muncul ide desain fauna dan flora yang sesuai dengan karakter Kota Batu. Agar identitas Kota Batu tetap ada, Retno selalu menampilkan buah apel disetiap karyanya.

Seiring perjalanan waktu, pesanan pun terus berdatangan. Desain pun terus dikembangkan. Dari sebelumnya hanya tiga warna, kini banyak juga yang memesan hingga 10 macam warna dalam satu lembar batik.

Untuk masalah warna, Retno meminta bantuan suaminya. Dengan cara tersebut proses produksi yang biasanya butuh waktu 10 hari bisa dipangkas menjadi 3 hari. ”Kami memiliki trik tersendiri untuk menyingkat proses produksi. Kualitasnya tetap terjaga,” urai Retno.

Begitu juga dengan teknik pewarnaan. Retno memiliki keunggulan sistem pewarnaan khusus dengan bahan pilihan. Sehingga warna yang ada pada batik tidak mudah luntur. Masih tetap mencolok sesuai dengan pesanan.

Dalam satu minggu Retno bisa membuat 10 kain batik dengan ukuran 2 meter x 30 centimeter dengan motif dan warna yang berbeda-beda. Dan kini batik milik Retno juga dijadikan identitas Kota Batu karena memiliki corak dan motif yang berbeda. (sp/rm)